Kritik Tajam Para Legenda Piala Dunia: Gianni Infantino Buta oleh Kekuasaan
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pemenang Piala Dunia dan legenda FIFA menuding Presiden FIFA, Gianni Infantino, kehilangan arah akibat konsentrasi kekuasaan yang berlebihan.
- Kritik ini muncul di tengah sorotan terhadap tata kelola FIFA yang dinilai makin otoriter dan kurang transparan, terutama dalam pengambilan keputusan besar.
- Tekanan publik dan internal diprediksi meningkat menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya, dengan tuntutan reformasi yang semakin nyaring.

Gelombang kritik keras kembali menghantam Presiden FIFA, Gianni Infantino. Sejumlah legenda sepak bola dunia, termasuk para pemenang Piala Dunia, menilai pria asal Swiss itu telah dibutakan oleh kekuasaan yang ia kumpulkan selama memimpin organisasi sepak bola tertinggi di dunia. Pernyataan ini bukan sekadar guyonan di ruang ganti, melainkan sinyal bahaya bagi masa depan tata kelola sepak bola global.
Kritik tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang gaya kepemimpinan Infantino yang dianggap otoriter. Beberapa nama besar yang pernah merasakan manisnya trofi Piala Dunia mengungkapkan bahwa Infantino semakin sulit menerima masukan dan cenderung mengambil keputusan sepihak. Mereka menilai, kekuasaan yang terpusat di tangan satu orang telah menggerus semangat kolektif yang seharusnya menjadi fondasi FIFA.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah FIFA. Sebelumnya, Sepp Blatter juga tumbang akibat skandal korupsi besar yang mengguncang organisasi tersebut. Kini, Infantino menghadapi sorotan serupa, meskipun dengan nada yang lebih halus. Namun, kritik dari para legenda ini memiliki bobot tersendiri karena mereka adalah simbol kejayaan sepak bola dunia, bukan sekadar politisi atau birokrat.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang bersih dan transparan. Keputusan FIFA, mulai dari penjadwalan pertandingan hingga alokasi dana pengembangan, berdampak nyata pada federasi lokal seperti PSSI. Jika FIFA terus dilanda krisis kredibilitas, program-program pembinaan sepak bola di negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa menjadi korban.
Para kritikus menilai bahwa Infantino terlalu fokus pada perluasan kekuasaan dan komersialisasi turnamen, seperti perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim, tanpa memperhatikan dampak jangka panjang terhadap keseimbangan kompetisi dan kesejahteraan pemain. Mereka khawatir bahwa keputusan-keputusan besar diambil lebih untuk kepentingan politik dan finansial, bukan untuk kemurnian olahraga.
"Kekuasaan memang bisa memabukkan, tetapi ketika ia membuat seseorang lupa pada esensi olahraga, itu sudah melampaui batas," demikian kira-kira nada kritik yang disampaikan oleh salah satu legenda yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, ada pula yang membela Infantino. Mereka berpendapat bahwa di bawah kepemimpinannya, FIFA berhasil meningkatkan pendapatan dan memperluas partisipasi global. Namun, pembelaan ini kalah nyaring dibandingkan suara-suara kritis yang justru datang dari dalam lingkaran sepak bola itu sendiri.
Melihat tren ini, pertanyaan besarnya adalah: apakah FIFA akan mampu berbenah sebelum terlambat? Atau akankah organisasi ini kembali terjerumus dalam pusaran skandal seperti yang terjadi di era Blatter? Bagi Indonesia, yang tengah berupaya meningkatkan kualitas sepak bola nasional, stabilitas FIFA adalah prasyarat penting. Tanpa tata kelola yang bersih di tingkat global, upaya reformasi di tingkat domestik akan selalu dibayangi ketidakpastian.



