Krisis Kabut Asap Landa Asia Tenggara: Indonesia Kirim Tambahan Pasukan, Singapura Pantau Ketat Kualitas Udara
Baca dalam 60 detik
- Indonesia mengerahkan personel militer tambahan untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan, yang memicu kabut asap lintas batas dan memburuknya kualitas udara di kawasan.
- Singapura meningkatkan pengawasan indeks polusi udara seiring meningkatnya titik panas di Indonesia, sementara Jakarta dan sekitarnya menghadapi polusi yang semakin parah.
- Krisis ini menekankan perlunya kerja sama ASEAN yang lebih erat dalam penanggulangan kebakaran hutan dan polusi lintas batas, seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah Indonesia.

Indonesia kembali mengirimkan pasukan tambahan untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan, menyusul kabut asap yang menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara dan mendorong Singapura untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara. Langkah ini diambil di tengah kritik atas lambatnya respons pemerintah dalam mengatasi bencana lingkungan yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Kebakaran hutan yang melanda Kalimantan dan Sumatera telah memicu kabut asap tebal yang tidak hanya mencekik warga lokal, tetapi juga menyebar ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Standar Pencemaran (PSI) di Singapura mendekati level tidak sehat, sementara di Indonesia, lebih dari 20 wilayah mencatatkan kualitas udara tidak sehat. Presiden Prabowo Subianto bahkan dilaporkan turun langsung meninjau lokasi kebakaran, menyusul laporan bahwa Indonesia kini memiliki kualitas udara terburuk di dunia.
Krisis ini menyoroti kelemahan kebijakan pengendalian kebakaran hutan yang selama ini bergantung pada pendekatan reaktif. Meskipun pemerintah telah mengerahkan ribuan personel dan melakukan modifikasi cuaca, titik api terus bermunculan, terutama di lahan gambut yang sulit dipadamkan. Para ahli lingkungan menilai bahwa akar masalahnya terletak pada praktik pembukaan lahan secara ilegal dan tata kelola lahan yang lemah, yang membutuhkan solusi jangka panjang, bukan sekadar pemadaman darurat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi. Kabut asap mengganggu aktivitas penerbangan, sekolah, dan pariwisata. Di Indonesia, beberapa wilayah terpaksa meliburkan sekolah, sementara di Malaysia, jumlah wisatawan turun 2,5 persen meskipun ada ketegangan di Timur Tengah. Singapura, yang selama ini menjadi pusat keuangan regional, juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap investasi dan kesehatan warganya.
Dalam konteks yang lebih luas, krisis ini menjadi ujian bagi solidaritas ASEAN. Singapura telah menyatakan komitmennya untuk memperkuat integrasi regional dan kerja sama dalam penanggulangan bencana, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan. Ketergantungan pada mekanisme bilateral dan kurangnya instrumen hukum yang mengikat membuat respons regional menjadi lambat dan tidak efektif.
Bagi Indonesia, krisis ini juga menjadi sorotan internasional. Negara-negara tetangga, terutama Singapura dan Malaysia, telah berulang kali meminta Indonesia untuk meratifikasi Perjanjian ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas, namun hingga kini belum ada tanda-tanda akan dilakukan. Sementara itu, pemerintah Indonesia berdalih bahwa upaya pemadaman telah dilakukan secara maksimal, tetapi faktor cuaca dan luasnya area yang terbakar menjadi kendala utama.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah ASEAN mampu mengubah krisis ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama lingkungan. Tanpa adanya kemauan politik yang kuat dan mekanisme penegakan hukum yang efektif, kabut asap diprediksi akan terus menjadi momok tahunan bagi kawasan. Masyarakat di Indonesia dan negara tetangga pun harus bersiap menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.



