KRI Gajah Mada Berlayar dari Italia: Tiba di Indonesia 15–20 September, Pengukuhan Dihadiri Prabowo
Baca dalam 60 detik
- Kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi meninggalkan Italia menuju Indonesia dengan pengawalan fregat Italia, ditargetkan tiba pada 15–20 September 2026.
- Setelah tiba, kapal akan menjalani serah terima dan pergantian nama menjadi KRI Gajah Mada pada 25 September, dengan rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
- Kehadiran kapal induk pertama ini menandai lompatan strategis TNI AL dalam proyeksi kekuatan maritim, sekaligus menguji kesiapan operasional dan integrasi antar-matara.

Jakarta — Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali memastikan kapal induk pertama Indonesia, yang masih bernama ITS Giuseppe Garibaldi, telah meninggalkan Italia pada Senin malam pukul 22.00 waktu setempat dan dijadwalkan tiba di Tanah Air pada pertengahan September 2026. Kepastian ini disampaikan dalam acara kunjungan di Kraton Majapahit, Jakarta, sekaligus menandai babak baru bagi pertahanan maritim Indonesia.
Perjalanan sejauh lebih dari 20 hari itu akan membawa kapal melintasi Terusan Suez dan Laut Merah, dua titik rawan yang kerap menjadi sorotan keamanan regional. Namun, Ali menegaskan bahwa kapal tidak berlayar sendirian; sejumlah fregat Italia akan mengawal hingga tiba di perairan Indonesia. "Mudah-mudahan tanggal 15 atau 20 September sudah tiba di Indonesia," ujarnya, seraya meminta dukungan doa dari seluruh masyarakat agar misi bersejarah ini berjalan lancar.
Setibanya di Indonesia, rangkaian seremoni penting menanti. Pada 25 September 2026, direncanakan pengukuhan pergantian bendera dari Italia ke Merah Putih sekaligus penggantian nama menjadi KRI Gajah Mada. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir langsung di atas kapal untuk meresmikan momen yang dinilai sebagai simbol kedaulatan dan kebanggaan nasional. Skema perolehan kapal ini pun menarik perhatian: bukan pembelian, melainkan hibah antarpemerintah yang telah disetujui DPR, menunjukkan eratnya hubungan diplomatik dan pertahanan Indonesia-Italia.
Kehadiran KRI Gajah Mada bukan sekadar penambahan aset. Kapal induk ini dirancang untuk menjadi platform multi-misi yang mampu menampung helikopter dari tiga matra TNI — Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara. KSAL menekankan bahwa kapal ini akan menjadi simbol persatuan, sejalan dengan pesan Presiden Prabowo bahwa TNI adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. TNI AL juga berencana melatih pilotnya untuk mampu mendaratkan helikopter dan pesawat tempur di geladak kapal, sebuah kemampuan yang selama ini hanya dimiliki segelintir negara.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis yang luas. Di tengah ketegangan di Laut China Selatan dan dinamika keamanan Indo-Pasifik, memiliki kapal induk meningkatkan kemampuan proyeksi kekuatan dan respons cepat terhadap berbagai ancaman. Namun, tantangan besar menanti: biaya operasional dan perawatan kapal induk yang tinggi, kebutuhan awak terlatih, serta integrasi sistem senjata dan komunikasi. Pengamat pertahanan menilai keberhasilan KRI Gajah Mada tidak hanya diukur dari seremoni, tetapi dari kesiapan operasional jangka panjang dan dampaknya terhadap postur pertahanan Indonesia di kawasan.
Kehadiran kapal induk juga memunculkan pertanyaan tentang prioritas anggaran pertahanan di tengah kebutuhan sosial-ekonomi yang mendesak. Apakah investasi sebesar ini akan sejalan dengan visi poros maritim dunia yang dicanangkan pemerintah? Atau justru menjadi beban baru bagi APBN? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, ketika KRI Gajah Mada mulai beroperasi penuh dan diuji dalam berbagai misi. Satu hal yang pasti: Indonesia kini memasuki era baru sebagai salah satu dari sedikit negara di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk, sebuah langkah yang akan mengubah peta kekuatan maritim regional.



