Gelandang Inggris Brydon Carse Dicoret dari Skuad Tes Kedua Usai Insiden Diborgol Polisi
Baca dalam 60 detik
- Pemain pace Inggris, Brydon Carse, dikeluarkan dari skuad Tes kedua melawan Pakistan setelah penyelidikan insiden di Derby.
- Ini merupakan kasus disiplin ketiga yang menimpa tim Inggris musim panas ini, memicu pertanyaan tentang budaya tim.
- Keputusan ini membuka peluang bagi Sonny Baker untuk tampil, sementara ECB dan Regulator Kriket menyelidiki kejadian tersebut.

Pemain pace Inggris, Brydon Carse, resmi dicoret dari skuad untuk Tes kedua melawan Pakistan di Lord's setelah penyelidikan internal menyusul insiden yang membuatnya diborgol polisi di Derby. Kejadian yang terjadi pada Sabtu malam itu terekam kamera dan viral di media sosial, memaksa England and Wales Cricket Board (ECB) untuk mengambil tindakan tegas. Carse, yang berusia 31 tahun, tidak ditangkap, namun ECB merujuk kasus ini ke Cricket Regulator untuk investigasi lebih lanjut.
Insiden ini menambah daftar panjang masalah di luar lapangan yang membelit tim Inggris musim panas ini. Carse menjadi pemain ketiga yang absen pada Tes karena masalah disiplin, setelah sebelumnya Ben Stokes dan Gus Atkinson juga sempat diskors. Fenomena ini memicu kritik tajam terhadap budaya tim yang dinilai terlalu longgar dalam mengatur perilaku pemain di luar pertandingan.
Menurut pernyataan resmi ECB, "Menyusul rujukan dari ECB, Cricket Regulator telah mengonfirmasi bahwa mereka akan menyelidiki kejadian Sabtu malam di Derby. Brydon Carse tidak akan tersedia untuk seleksi pada Tes kedua selama investigasi ini berlangsung dan fakta-fakta lengkap diperoleh." Keputusan ini diambil kurang dari 48 jam sebelum Carse dijadwalkan bergabung dengan skuad di London.
Konteks Indonesia: Meski berita ini berasal dari kriket Inggris, ada pelajaran yang relevan bagi olahraga Indonesia, terutama sepak bola dan bulu tangkis. Disiplin pemain di luar lapangan sering menjadi sorotan, dan kasus Carse menunjukkan bahwa federasi olahraga harus berani mengambil tindakan tegas untuk menjaga citra dan profesionalisme. Hal ini juga menjadi pengingat bagi atlet Indonesia tentang pentingnya menjaga perilaku di depan publik, terutama di era media sosial yang serba cepat.
Insiden di Derby terjadi setelah Carse membela Durham dalam kemenangan atas Derbyshire. Dalam video yang beredar, Carse terlihat diborgol di luar sebuah bar, dan rekannya Matthew Potts serta mantan kapten Ben Stokes juga terlihat di lokasi. Meski Stokes telah pensiun dari kriket internasional, ia masih terikat kontrak dengan ECB, sehingga perilakunya tetap menjadi perhatian.
Ini bukan pertama kalinya Stokes terlibat dalam insiden malam. Pada Juni lalu, ia dan Gus Atkinson berada di sebuah klub malam London ketika seorang anggota staf keamanan Inggris dipukul oleh pemain rugby Saracens. Keduanya kemudian melewatkan Tes kedua melawan Selandia Baru dan mendapat peringatan tertulis. Sebelumnya, Harry Brook juga menjadi korban pukulan bouncer di Wellington, dan Ben Duckett kedapatan mabuk dalam liburan Ashes di Noosa.
Menanggapi rentetan insiden ini, kapten baru Joe Root telah menghapus jam malam yang diberlakukan pendahulunya dan melonggarkan pedoman konsumsi alkohol. Namun, Root juga menekankan pentingnya menjadi panutan yang baik. "Anda selalu ingin mewakili negara dengan cara terbaik," ujarnya kepada BBC Sport. "Kami mungkin gagal dalam beberapa kesempatan di masa lalu. Satu-satunya cara untuk memperbaiki adalah menjadi panutan yang baik dan memberikan performa kuat di lapangan."
Carse sendiri bukan tanpa catatan. Pada musim panas 2024, ia sempat dilarang bermain selama tiga bulan karena pelanggaran taruhan. Namun, ia berhasil membangun kembali kariernya dan menjadi pemain reguler di semua format. Absennya di Lord's mungkin tidak terlalu berpengaruh karena ia diproyeksikan sebagai cadangan, tetapi ini menjadi pukulan bagi reputasinya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ECB akan memberlakukan sanksi tambahan dan bagaimana Carse merespons. Bisakah ia bangkit lagi seperti setelah skorsing taruhan? Atau akankah insiden ini menjadi titik balik yang memperburuk citranya? Yang jelas, Inggris harus segera menyelesaikan masalah disiplin ini agar fokus pada performa di lapangan, terutama dengan seri Ashes yang semakin dekat.



