Mantan Juara Snooker Dunia Graeme Dott Dinyatakan Bersalah atas Pelecehan Seksual Anak
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Tinggi Glasgow memvonis Graeme Dott, juara dunia snooker 2006, atas dua dakwaan perilaku tidak senonoh terhadap anak di bawah umur.
- Korban pertama adalah seorang siswi sekolah dasar pada 1990-an, sementara korban kedua adalah seorang anak laki-laki yang dilecehkan antara 2006 dan 2010.
- Dott ditahan hingga sidang vonis pada 29 September di Edinburgh, mengakhiri karier gemilangnya dengan aib hukum yang mengejutkan dunia olahraga.

Mantan juara dunia snooker, Graeme Dott, harus berurusan dengan hukum setelah dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual terhadap anak. Vonis ini dijatuhkan oleh juri di Pengadilan Tinggi Glasgow setelah persidangan selama lima hari, dan langsung mengubah statusnya dari atlet legendaris menjadi terpidana kasus asusila.
Dott, yang kini berusia 49 tahun, terbukti melakukan dua dakwaan perilaku tidak senonoh terhadap seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki dalam rentang waktu 1993 hingga 2010. Kasus ini mencuat setelah salah satu korban, yang kini telah dewasa, memberikan pernyataan baru kepada polisi pada 2025. Padahal, sebelumnya pada 2001, polisi pernah menghubungi Dott terkait tuduhan serupa, namun saat itu tidak ada dakwaan yang diajukan.
Dalam persidangan, terungkap bahwa Dott pernah mengekspos diri dan menyentuh bagian tubuh seorang siswi sekolah dasar pada 1990-an. Ia juga disebut 'mengelus' bokong korban saat menggendongnya. Sementara itu, terhadap korban laki-laki, Dott melakukan tindakan tidak senonoh di kamar mandi sebuah rumah di South Lanarkshire, bahkan 'memberi hadiah' berupa uang, keripik, dan minuman bersoda setelahnya. Korban laki-laki, yang kini berusia 20-an, juga mengaku dilecehkan di dalam mobil saat Dott bermain poker online.
Hakim Lord Harrower memerintahkan Dott untuk menjalani hukuman dalam sidang terpisah di Edinburgh pada 29 September. Usai vonis dibacakan, Dott menutup wajahnya dengan tangan dan menggelengkan kepala, sebelum langsung ditahan. Sebelumnya, ia sempat menyebut tuduhan tersebut sebagai 'memuakkan'.
Kasus ini mengguncang dunia snooker, yang selama ini dikenal sebagai olahraga dengan citra gentleman. Dott, yang pernah menjadi ikon olahraga Inggris, kini harus menghadapi konsekuensi hukum yang serius. Para pengamat olahraga menilai kasus ini akan menjadi noda besar bagi sejarah snooker, terutama karena pelakunya adalah mantan juara dunia.
Di Indonesia, kasus seperti ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan anak dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan seksual. Meski snooker tidak sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Tanah Air, kasus ini menyoroti isu global tentang bagaimana figur publik dapat menyalahgunakan kepercayaan dan kekuasaan mereka. Publik Indonesia, yang semakin sadar akan pentingnya keadilan bagi korban kekerasan seksual, dapat mengambil pelajaran dari kasus ini.
Ke depannya, pertanyaan besar muncul: bagaimana dunia olahraga akan menangani kasus-kasus seperti ini? Apakah akan ada sanksi tambahan dari badan pengelola snooker internasional? Dan yang lebih penting, bagaimana memastikan para korban mendapatkan keadilan dan dukungan yang layak? Kasus Dott membuka kembali diskusi tentang perlunya pengawasan ketat terhadap para atlet dan figur publik lainnya.



