Sterling K. Brown Ungkap Perjuangan Ibunya Melawan ALS: Delapan Tahun Tanpa Suara, Namun Semangatnya Tetap Menyala
Baca dalam 60 detik
- Aktor Sterling K. Brown mengisahkan perjuangan ibunya, Aralean, yang telah kehilangan kemampuan bicara selama delapan tahun akibat ALS, namun tetap berkomunikasi lewat cara lain.
- Brown mengaku banyak paralel antara kehidupannya dan karakter Randall Pearson di 'This Is Us', terutama dalam menghadapi penyakit ibu dan dinamika keluarga.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan adaptasi dalam merawat orang dengan ALS, serta menjadi inspirasi bagi banyak keluarga di Indonesia yang menghadapi kondisi serupa.

Bintang serial "This Is Us", Sterling K. Brown, membuka lembaran personal yang mengharukan: ibunya, Aralean, telah berjuang melawan amyotrophic lateral sclerosis (ALS) selama lebih dari delapan tahun dan kini kehilangan kemampuan berbicara. Pengakuan ini disampaikan Brown dalam podcast re-watch "That Was Us", mengungkap realitas pahit yang dihadapi keluarganya sekaligus menjadi cermin bagi banyak orang yang merawat anggota keluarga dengan penyakit degeneratif.
Aralean didiagnosis mengidap ALS pada 2018, dan hanya dalam hitungan bulan, penyakit yang menyerang sel saraf motorik itu merenggut kemampuannya untuk berkomunikasi secara verbal. Meski demikian, Brown menegaskan bahwa ibunya masih dapat terhubung dengan orang-orang tercinta melalui cara lain, menunjukkan bahwa penyakit ini tidak serta-merta memutus tali kasih dan komunikasi non-verbal.
Dalam podcast tersebut, Brown membandingkan pengalaman pribadinya dengan kisah karakternya, Randall Pearson, yang ibunya, Rebecca, menderita Alzheimer. Ia bahkan sempat bergumul dengan pertanyaan berat: siapa yang akan lebih dulu pergi, ibu kandungnya atau ibu di layar kaca? Paralel ini, menurut Brown, terasa sangat nyata dan mempengaruhi cara ia menjalani peran tersebut.
Brown juga mengungkap dinamika keluarga dalam menghadapi penyakit ibunya. Ia dan saudaranya kerap berbeda pendapat mengenai cara terbaik merawat Aralean, namun pada akhirnya mereka sepakat untuk selalu menghormati keinginan sang ibu. Meskipun ada program komputer yang memungkinkan komunikasi melalui gerakan mata, Aralean menolak karena dianggap terlalu melelahkan. Sebagai gantinya, keluarga menggunakan papan baca sederhana, sebuah adaptasi yang menunjukkan bahwa perawatan tidak selalu harus berteknologi tinggi, tetapi yang terpenting adalah kehadiran dan kesabaran.
Kisah Brown ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan keluarga dan adaptasi dalam merawat pasien ALS. Di Indonesia, meskipun data prevalensi ALS belum lengkap, penyakit ini dikenal sebagai salah satu gangguan neurologis yang menantang. Menurut dr. Andreas, spesialis saraf dari RS Cipto Mangunkusumo, perawatan ALS membutuhkan pendekatan multidisiplin dan dukungan psikologis yang kuat bagi pasien dan keluarga. Kisah Brown bisa menjadi inspirasi bahwa di tengah keterbatasan, masih ada ruang untuk cinta dan kehangatan.
"Saya mungkin tidak bisa memilih keadaan, tetapi saya bisa memilih bagaimana meresponsnya. Ibu saya adalah contoh nyata bagaimana tetap bersinar di tengah kesulitan." โ Sterling K. Brown, dalam wawancara dengan NPR (2024).
Ke depan, publik akan terus mengikuti perjalanan Brown dan keluarganya. Kisah ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga membuka diskusi tentang perawatan paliatif dan kualitas hidup pasien ALS. Apakah akan ada lebih banyak selebritas yang berbagi kisah serupa untuk meningkatkan kesadaran? Atau akankah penelitian ALS semakin maju sehingga harapan hidup pasien meningkat? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, ketegaran Aralean dan keluarganya telah memberi pelajaran berharga tentang arti ketabahan.



