Ketegangan UEFA-FIFA Memuncak: Ceferin Menolak Maju, tapi Memprediksi Penantang untuk Infantino
Baca dalam 60 detik
- Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, secara eksplisit menepis spekulasi pencalonannya sebagai presiden FIFA, sembari menyiratkan bahwa Gianni Infantino akan menghadapi lawan pada pemilihan Maret mendatang.
- Kritik tajam Ceferin terhadap rencana investasi Piala Dunia yang dibatalkan menandai eskalasi konflik antara UEFA dan FIFA, dengan menyebutnya lebih berbahaya daripada skema Super League Eropa.
- Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino, yang juga menuai kontroversi atas penghargaan Peace Prize kepada Donald Trump, dan berpotensi mempengaruhi arah politik sepak bola global.

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, secara tegas mengesampingkan ambisinya untuk menggantikan Gianni Infantino sebagai presiden FIFA, namun memperingatkan bahwa langkah Infantino untuk kembali mencalonkan diri pada Maret tahun depan kemungkinan besar akan dihadang oleh penantang. Pernyataan ini disampaikan di tengah gelombang kritik global terhadap rencana FIFA yang sempat mengguncang dunia sepak bola: menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Dalam wawancara dengan podcast "The Rest Is Politics: Leading" yang akan tayang Senin, Ceferin mengaku tidak tertarik menempati kursi kepresidenan FIFA, meskipun masa depan Infantino kini diselimuti ketidakpastian. "Saya mencintai UEFA dan pekerjaan saya di sini. Lagipula, pada titik tertentu, kita juga perlu menikmati hidup," ujarnya. Lebih lanjut, ia menambahkan, "Kredibilitas saya justru akan jauh lebih tinggi jika saya tidak memiliki kepentingan terhadap posisi tersebut." Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Ceferin memilih untuk tetap fokus di UEFA, sambil membiarkan spekulasi tentang rivalitas dengan Infantino menguar di permukaan.
Ceferin, yang mengaku tidak menjalin komunikasi dengan Infantino sejak kontroversi rencana investasi itu merebak, menilai ada dua skenario yang mungkin terjadi. Pertama, Infantino menyadari dukungannya semakin tipisโbukan hanya dari federasi yang memiliki hak suara, tetapi juga dari komunitas sepak bola, penggemar, pemain, dan mantan pemain. Kedua, ia tetap maju dalam pemilihan Maret, namun dengan konsekuensi munculnya kandidat penantang. "Saya belum tahu siapa," kata Ceferin, menambahkan lapisan intrik menjelang kongres FIFA.
Yang lebih menohok, Ceferin mengecam rencana investasi Piala Dunia yang digagas FIFA, menyebutnya sebagai ancaman yang lebih serius daripada skema European Super League (ESL) yang berhasil digagalkan UEFA pada 2021. "Jika dibandingkan, rencana ini bahkan lebih buruk daripada Super League. Sepak bola benar-benar akan dijual," tegasnya. Kritik ini datang dari tokoh yang selama ini menjadi penyeimbang kekuatan FIFA, dan menyoroti kekhawatiran mendalam tentang komersialisasi berlebihan yang menggerus esensi olahraga.
Ceferin juga membantah tudingan bahwa penolakan Eropa hanya berasal dari federasi kaya. Ia mencontohkan sikap tegas federasi kecil seperti San Marino, Siprus, dan Liechtenstein yang menyatakan "kami tidak untuk dijual". Ini menunjukkan bahwa resistensi terhadap rencana FIFA bersifat luas, melampaui kepentingan ekonomi semata. Ceferin juga menolak narasi yang menggambarkan UEFA sebagai elit yang arogan, seraya mengingatkan bahwa Infantino sendiri adalah orang Eropa yang pernah didukung UEFA. "Seseorang harus mengingatkannya bahwa ia orang Eropa dan pernah didukung UEFA, tapi itu dilupakannya," sindirnya.
Di sisi lain, Ceferin mengungkapkan bahwa UEFA tidak pernah diberitahu tentang rencana investasi maupun pemberian Peace Prize kepada Trump. Hal ini menunjukkan minimnya transparansi FIFA dalam pengambilan keputusan strategis, yang berpotensi memperlebar jurang antara kedua organisasi. Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi PSSI yang bernaung di bawah AFC dan FIFA. Ketegangan antara UEFA dan FIFA dapat memengaruhi arah kebijakan sepak bola global, termasuk distribusi dana pembangunan yang kerap dinikmati negara berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Infantino bertahan menghadapi tekanan ini, atau justru memicu lahirnya koalisi baru yang menantang dominasinya? Dengan kritik yang semakin vokal dari tokoh sekelas Ceferin, peta kekuatan di FIFA bisa berubah drastis. Bagi pengamat sepak bola, ini adalah babak baru yang layak disimakโbukan hanya soal kursi kekuasaan, tetapi juga arah masa depan olahraga paling populer di dunia.



