Alibaba Raup US$10,2 Miliar via Rights Issue, Saham Terjun Bebas di Hong Kong
Baca dalam 60 detik
- Alibaba mengumumkan penawaran saham tambahan senilai US$10,2 miliar dengan diskon 8,4%, memicu aksi jual sahamnya di bursa Hong Kong hingga 10%.
- Langkah ini merupakan aksi korporasi terbesar di Hong Kong tahun ini dan menegaskan agresivitas Alibaba dalam perang AI global, meski investor khawatir akan dilusi dan belanja modal yang tinggi.
- Fokus Alibaba pada AI infrastruktur berpotensi mengubah peta persaingan teknologi Asia, termasuk mempengaruhi dinamika pasar cloud di Indonesia.

Saham Alibaba Group di Bursa Hong Kong anjlok hingga 10% pada Senin (24/8) setelah raksasa e-commerce dan cloud computing asal China itu mengumumkan penawaran saham tambahan senilai US$10,2 miliar. Aksi korporasi ini ditujukan untuk mendanai ekspansi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI), namun investor justru merespons negatif karena khawatir terjadi dilusi kepemilikan dan belanja modal yang membebani laba.
Alibaba menetapkan harga penawaran saham baru pada HK$112,70 per lembar, diskon 8,4% dari harga penutupan Jumat lalu. Total dana yang dihimpun mencapai HK$80 miliar atau setara US$10,21 miliar. Ini merupakan penawaran saham lanjutan (follow-on offering) terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan tercatat di Hong Kong, dan terbesar ketiga di dunia tahun ini setelah Alphabet dan Intel.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China, serta kebutuhan dana besar untuk membangun infrastruktur AI. Charles Wang, Chairman Shenzhen Dragon Pacific Capital Management, menilai dalam jangka pendek kabar ini negatif karena mengencerkan kepentingan pemegang saham. "Investor umumnya tidak menyukai belanja modal yang besar, meski investasi ini bermanfaat dalam jangka panjang," ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga muncul di AS, di mana investor mulai mempertanyakan kapan belanja AI yang masif akan menghasilkan keuntungan. Alibaba sendiri mengakui bahwa belanja AI telah menekan laba bersih kuartal terakhirnya hingga turun 75% dibanding tahun lalu. Namun, perusahaan optimistis karena permintaan layanan AI meningkat pesat, sehingga mempercepat proyeksi pengembalian investasi dari tiga tahun menjadi dua setengah tahun.
Alibaba juga telah menghabiskan hampir separuh dari rencana belanja modal tiga tahunnya. Pekan lalu, divisi cloud-nya meluncurkan pusat data ketiga di Korea Selatan, memperluas jaringan menjadi 104 zona ketersediaan di 30 region. Ini bagian dari komitmen Alibaba untuk menginvestasikan 380 miliar yuan (sekitar US$56,54 miliar) dalam tiga tahun untuk infrastruktur AI, seperti diumumkan pada Oktober lalu.
Bagi Indonesia, langkah Alibaba ini memiliki implikasi signifikan. Alibaba Cloud merupakan salah satu pemain utama di pasar cloud Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ekspansi infrastruktur AI yang agresif dapat memperketat persaingan dengan penyedia layanan cloud lain seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengandalkan layanan cloud untuk transformasi digital mungkin akan melihat peningkatan kapasitas dan inovasi layanan, tetapi juga harus siap dengan perubahan harga dan kebijakan.
Selain itu, investasi besar Alibaba di AI dapat mendorong adopsi teknologi AI di Indonesia melalui layanan yang lebih canggih dan terjangkau. Namun, ketergantungan pada infrastruktur asing juga menimbulkan pertanyaan tentang kedaulatan data dan keamanan siber. Regulator Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk memastikan kepentingan nasional tetap terjaga.
Ke depan, langkah Alibaba akan menjadi ujian bagi investor Asia. Apakah mereka akan terus mendukung belanja modal besar untuk AI, atau mulai menuntut keuntungan yang lebih cepat? Jawabannya akan menentukan arah persaingan teknologi di kawasan, dan Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi dampaknya.



