Robot Ciptaan Honor Kalahkan Rekor Lari 100 Meter Usain Bolt
Baca dalam 60 detik
- Robot humanoid Lightning dari Honor memecahkan rekor lari 100 meter dengan catatan 9,32 detik, melampaui rekor dunia Usain Bolt.
- Pencapaian ini menegaskan dominasi China dalam industri robot humanoid, yang diproyeksikan menjadi tulang punggung manufaktur dan logistik masa depan.
- Keberhasilan Lightning membuka peluang besar bagi adopsi robot di Indonesia, terutama di sektor industri dan layanan publik.

Robot humanoid bernama Lightning, yang dikembangkan oleh produsen ponsel asal China, Honor, mencatatkan waktu 9,32 detik untuk lari 100 meter dalam uji coba yang digelar di Beijing, Sabtu (24/8). Catatan tersebut memecahkan rekor dunia manusia yang dipegang sprinter Jamaika, Usain Bolt, sejak 2009 dengan waktu 9,58 detik.
Kecepatan puncak Lightning mencapai 14,5 meter per detik selama ajang pemanasan menjelang World Humanoid Robot Games kedua yang resmi dibuka di Beijing. Robot setinggi 169 sentimeter ini bukan hanya unggul dalam sprint; pada April lalu, ia juga memenangkan half-marathon Beijing sejauh 21 kilometer dengan waktu 50 menit 26 detik, lebih cepat dari rekor dunia manusia untuk jarak tersebut.
Pencapaian ini bukan sekadar gimmick teknologi. China secara serius memposisikan robot humanoid sebagai industri strategis yang akan menjadi tulang punggung manufaktur, logistik, dan layanan konsumen di masa depan. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan China berlomba mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan perangkat keras untuk mempercepat adopsi robot di berbagai sektor.
Menariknya, para peneliti terus melakukan penyempurnaan. Menjelang World Humanoid Robot Games, kaki Lightning diperpanjang dari 95 sentimeter menjadi 105 sentimeter untuk meningkatkan performa. Ini menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid tidak hanya berhenti pada kemampuan dasar, melainkan terus dioptimalkan untuk mengejar batas kemampuan manusia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Di tengah upaya pemerintah mendorong industri 4.0 dan transformasi digital, robot humanoid seperti Lightning bisa menjadi inspirasi untuk mengadopsi teknologi serupa di sektor manufaktik dan logistik. Namun, tantangan besar masih ada, terutama dalam hal biaya investasi dan kesiapan sumber daya manusia untuk mengoperasikan teknologi canggih ini.
Para analis memperkirakan bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, robot humanoid akan semakin terjangkau dan mampu menggantikan pekerjaan-pekerjaan repetitif di pabrik-pabrik Indonesia. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap bersaing dalam perlombaan teknologi ini, atau justru akan menjadi pasar bagi produk-produk China? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta industri global yang semakin otomatis.



