Robot Humanoid China Pecahkan Rekor Lari Usain Bolt, tapi Tantangan Sebenarnya di Pabrik
Baca dalam 60 detik
- Dua robot humanoid berlari 100 meter lebih cepat dari rekor dunia manusia, menandai lompatan besar dari tahun sebelumnya.
- Kompetisi ini menguji kemampuan robot dalam tugas industri presisi, bukan hanya atraksi atletik.
- Para ahli menilai nilai jangka panjang robot humanoid terletak pada aplikasi nyata di sektor manufaktur dan logistik.

Beijing, 24 Agustus 2025 โ Dua robot humanoid buatan China sukses memecahkan rekor lari 100 meter milik Usain Bolt dalam ajang World Humanoid Robot Games yang digelar di Beijing. Namun, di balik kemeriahan atraksi tersebut, para pelaku industri justru menyoroti tantangan yang jauh lebih krusial: mampukah robot-robot ini bekerja presisi di lini produksi, gudang, dan dapur komersial?
Gelaran lima hari yang dimulai Sabtu (22/8) ini memadukan kompetisi bergaya olahraga manusia dengan simulasi tugas industri. Total 51 nomor dipertandingkan, terdiri dari 30 cabang olahraga dan 21 skenario berbasis pekerjaan. Menurut Huawei selaku mitra teknologi, lebih dari 40 persen nomor mewajibkan robot beroperasi penuh secara otonom tanpa kendali jarak jauh.
Pada hari pertama, dua robot humanoid mencatat waktu lari 100 meter di bawah 9,58 detik โ rekor dunia yang dipegang pelari Jamaika itu sejak 2009. Capaian ini meningkat drastis dibandingkan edisi 2025, di mana pemenangnya masih membutuhkan waktu lebih dari 20 detik. Namun, pengereman masih menjadi pekerjaan rumah: robot-robot tersebut baru bisa berhenti setelah menabrak matras tebal yang sengaja dipasang beberapa meter setelah garis finis.
Robot yang sama juga memecahkan rekor lari 400 meter dengan catatan 39,7 detik, mengungguli rekor dunia manusia milik Wayde van Niekerk (43,03 detik). Investor robotika Xu Qiaosheng yang hadir sebagai penonton menilai intensitas kompetisi tahun ini jauh lebih tinggi, menuntut manajemen baterai dan pembuangan panas yang andal. "Ini sangat signifikan bagi kemajuan sektor industri China," ujarnya.
Selain lari, robot-robot itu akan berlaga dalam tarik tambang, angkat besi, serta sentuhan tradisional seperti Tai Chi dan pitch-pot โ permainan melempar stik ke vas berleher sempit. Namun, ujian paling menentukan justru terjadi saat robot menghadapi ketidaksempurnaan dunia nyata: kabel yang posisinya miring, benda yang sedikit di luar jangkauan, atau paket yang bergeser. Kemampuan mengenali objek, mengatur posisi tangan, mengendalikan gaya, dan pulih dari kesalahan tanpa bantuan manusia menjadi fokus utama.
Yu Chao, CEO Lumos Robotics, menilai ajang ini bermanfaat untuk memacu perbaikan perangkat keras dan menjadi panggung promosi industri. Namun, ia mengingatkan bahwa nilai jangka panjang hanya akan terlihat jika robot mampu menyelesaikan masalah riil di lapangan. "Berlari dan melompat saja tidak meningkatkan efisiensi," tegasnya. Senada, Hua Rong, CMO Zeroth, menyatakan persaingan sesungguhnya dimulai setelah produk terjual โ apakah robot benar-benar bisa memecahkan masalah pengguna.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Negeri ini tengah gencar mendorong hilirisasi industri dan transformasi digital, termasuk adopsi otomatisasi di sektor manufaktur. Jika robot humanoid buatan China semakin matang dalam tugas-tugas presisi seperti perakitan elektronik atau penanganan logistik, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu pasar ekspansi berikutnya. Namun, kesiapan infrastruktur, regulasi keselamatan kerja, dan keterampilan tenaga kerja lokal menjadi prasyarat yang tak bisa diabaikan.
Pertanyaan yang menggantung: akankah robot-robot ini segera menggantikan peran manusia di pabrik-pabrik Indonesia, atau justru menjadi mitra kolaboratif yang meningkatkan produktivitas? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan industri dan investasi teknologi di kawasan Asia Tenggara dalam dekade mendatang.



