Dua Bersaudara di Jerman Melawan Kepunahan Tradisi Pembakaran Arang Berusia Ribuan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Immo dan Sascha Feldmer meneruskan usaha arang kayu warisan ayah mereka di Pegunungan Harz, Jerman, dengan metode tungku tanah tradisional yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun.
- Produksi arang mereka hanya 40 ton per tahun, jauh di bawah skala industri, sehingga mereka mengembangkan museum, toko, dan restoran untuk menopang kelangsungan usaha.
- Di tengah dominasi arang impor murah, mereka menonjolkan kemurnian kayu beech dan berharap generasi berikutnya mau mewarisi keterampilan langka ini.
Di tengah hutan lebat dekat kota kecil Hasselfelde, Jerman, Immo Feldmer dengan hati-hati menumpukkan arang membara ke dalam gundukan tanah yang menjulang. Aksi itu bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan ritual menyalakan kembali tradisi pembakaran arang yang telah diwariskan turun-temurun di kawasan Pegunungan Harz selama berabad-abad. Di balik gundukan tersebut, kayu beech tersusun rapat dan akan membara selama berminggu-minggu hingga berubah menjadi arang berkualitas tinggiโsebuah keterampilan yang nyaris punah di Jerman modern.
Bersama sang adik, Sascha, Immo kini memegang kendali Harzkohlerei Stemberghaus, usaha produksi arang yang diwarisi dari ayah mereka. Tidak seperti pabrik arang modern yang mengandalkan mesin, mereka tetap setia pada metode kuno: kayu ditumpuk dalam tungku tanah, ditutup rapat, lalu dibiarkan membara dari atas ke bawah dengan bantuan lubang udara. Proses ini menuntut pengawasan ketat selama 24 jam penuh, karena jika api tak terkendali, kayu akan hangus menjadi abu yang tak berguna. "Kami membuat arang dengan tungku tanah tradisional, persis seperti yang dilakukan di Pegunungan Harz lebih dari 1.000 tahun lalu," ujar Immo di sela-sela aktivitasnya.
Sejarah mencatat, pembakaran arang pernah menjadi denyut nadi ekonomi kawasan ini. Pada masa lalu, arang kayu adalah satu-satunya bahan bakar yang mampu mencapai suhu ekstrem untuk melebur bijih logam seperti perak, timbal, tembaga, dan seng dari bebatuan keras. Ratusan keluarga di Harz menggantungkan hidup dari profesi ini. Namun, ketika tambang-tambang itu tutup, satu per satu perajin arang pun berguguran. Kini, hanya segelintir yang tersisa di seluruh Jerman, dan keluarga Feldmer adalah salah satu yang terakhir bertahan.
Yang membuat usaha mereka berbeda adalah komitmen pada kemurnian bahan baku. "Arang kami terutama dibuat dari kayu beech murni," tegas Immo. Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik tersirat terhadap maraknya arang impor murah yang membanjiri pasar. Menurutnya, banyak arang yang dijual di toko-toko perkakas Jerman berasal dari campuran kayu campuran, sisa kayu, bahkan kayu limbah, demi menekan biaya produksi. Padahal, kualitas arang sangat menentukan cita rasa makanan, terutama bagi para penggemar barbekyu.
Namun, bertahan dengan cara tradisional bukanlah perkara mudah. Dengan produksi yang hanya sekitar 40 ton per tahun, keluarga Feldmer sadar bahwa mereka tidak bisa hidup hanya dari menjual arang. Karena itu, mereka melebarkan sayap dengan membuka museum yang mendokumentasikan sejarah pembakaran arang, sebuah toko kecil, serta restoran yang menyajikan hidangan khas setempat, termasuk steak yang dipanggang di atas arang birch buatan sendiri. Langkah ini tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di dalam negeri, arang masih menjadi kebutuhan pokok bagi jutaan pedagang sate, bakso bakar, hingga warung makan tradisional. Namun, sebagian besar arang yang beredar di pasaran diproduksi secara massal dari kayu campuran, bahkan ada yang menggunakan kayu hutan secara ilegal. Kelangkaan arang kayu berkualitas seperti yang dibuat keluarga Feldmer bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga kualitas bahan baku dan melestarikan teknik produksi yang ramah lingkungan.
Meski keterampilan membakar arang secara tradisional nyaris punah di Jerman, Immo Feldmer masih menyimpan harapan. "Tentu saja kami berharap... bahwa usaha kami di sini akan diambil alih oleh anak-anak kami, bahwa usaha ini akan terus berjalan, dan bahwa kerajinan tradisional pembakaran arang akan dilestarikan di sini," tuturnya dengan nada penuh harap. Pertanyaannya, mampukah generasi muda mempertahankan warisan yang menuntut kesabaran dan ketekunan ini di tengah arus modernisasi yang serba instan? Jawabannya mungkin akan menentukan apakah tradisi seribu tahun ini tetap hidup atau hanya menjadi catatan sejarah.



