Kecintaan Seumur Hidup pada Ular Berakhir Tragis: Sersan APM Malaysia Tewas Digigit King Kobra
Baca dalam 60 detik
- Seorang sersan APM Malaysia meninggal setelah digigit king kobra dalam demonstrasi penanganan reptil di Pahang, meski sebelumnya pernah selamat dari gigitan ular yang menyebabkan koma.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi profesi yang berinteraksi dengan satwa berbisa, serta pentingnya protokol keselamatan dan ketersediaan antidotum di fasilitas kesehatan.
- Keluarga korban mengaku tidak pernah membayangkan hobi tersebut berujung maut, sementara jenazah telah dimakamkan di Temerloh.

Seorang sersan Pasukan Pertahanan Sipil Malaysia (APM) kehilangan nyawa setelah digigit king kobra saat demonstrasi penanganan reptil di Dewan Taman Temerloh Jaya, Pahang, Sabtu lalu. Muhamad Muazam Shah Kamardin, 39, yang dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap ular sejak lama, menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 01.50 dini hari saat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Sultan Haji Ahmad Shah, Temerloh.
Peristiwa nahas ini bukan kali pertama bagi Muhamad Muazam. Sang kakak, Siti Aisyah Kamardin, 43, mengungkapkan bahwa adiknya telah tiga kali digigit ular. Dua kejadian sebelumnya melibatkan spesies berbeda, dan yang terakhir sekitar tiga tahun lalu sempat membuatnya koma serta mengalami serangan jantung. "Saat itu dia selamat, tetapi setelahnya dia tidak bisa melakukan pekerjaan berat dan hanya menjalani tugas ringan," ujar Siti Aisyah kepada Sinar Harian.
Menurut keterangan Siti Aisyah, Muhamad Muazam kerap membawa reptil peliharaannya, termasuk kobra, piton, dan boa, untuk keperluan demonstrasi APM. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana sang adik memperoleh ular-ular tersebut. "Seminggu sebelum kejadian, dia banyak menghabiskan waktu dengan ular di rumah, bahkan memandikan dan bermain bersama mereka," kenangnya.
Insiden bermula sekitar pukul 10.50 pagi ketika Muhamad Muazam sedang melakukan demonstrasi. Ia digigit pada jari tangan kanannya, namun sempat memberi tahu rekan setimnya sebelum dengan tenang memasukkan kobra ke dalam kotak dan mencuci tangan. Beberapa saat kemudian, ia jatuh pingsan di luar aula dan segera dilarikan ke rumah sakit. Direktur APM Pahang, Kolonel (PA) Che Adam A Rahman, membenarkan kronologi tersebut dan menyebut jenazah telah dimakamkan di Pemakaman Kampung Bukit Kelulut, Temerloh.
Kecintaan Muhamad Muazam pada ular memang sudah dikenal luas. Ia memelihara berbagai jenis reptil di rumahnya, sebuah hobi yang berisiko tinggi. Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya laten yang mengintai para penangani satwa berbisa, baik di Malaysia maupun Indonesia. Di Indonesia, interaksi manusia dengan ular berbisa juga sering menimbulkan korban, terutama di daerah pedesaan. Kurangnya akses terhadap serum anti-bisa (SABU) dan keterlambatan penanganan medis kerap memperparah dampak gigitan ular.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gigitan ular menyebabkan sekitar 81.000 hingga 138.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, kasus gigitan ular masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Para ahli menekankan pentingnya edukasi tentang pertolongan pertama yang benar, ketersediaan antidotum di fasilitas kesehatan terdekat, serta pelatihan khusus bagi mereka yang bekerja dengan reptil.
Keluarga korban mengaku syok dan tidak pernah membayangkan hobi tersebut akan berakhir tragis. "Saya tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi," tutur Siti Aisyah. Ia terakhir bertemu adiknya tiga minggu sebelum kejadian. Panggilan telepon dari saudara angkat Muhamad Muazam sekitar tengah malam memberitahukan bahwa ia telah digigit ular dan sedang dilarikan ke rumah sakit.
Kejadian ini memicu pertanyaan tentang prosedur keselamatan dalam demonstrasi penanganan satwa liar. Apakah sudah ada standar operasional yang ketat? Bagaimana ketersediaan fasilitas medis darurat di lokasi acara? Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, misalnya saat pawang ular atraksi di acara publik. Hal ini menegaskan perlunya regulasi yang lebih ketat dan pengawasan terhadap aktivitas berisiko tinggi yang melibatkan satwa berbisa.
Ke depan, diharapkan ada peningkatan kesadaran akan risiko profesi ini, serta investasi dalam pelatihan dan perlengkapan keselamatan. Pertanyaan yang menggantung: apakah kecintaan pada satwa liar harus dibayar dengan nyawa? Atau justru insiden ini menjadi momentum untuk memperbaiki standar keselamatan di seluruh kawasan?


