Selamat dari Serangan Hiu di Sydney, Leah Stewart: 'Kesempatan Kedua untuk Hidup'
Baca dalam 60 detik
- Leah Stewart, 35 tahun, selamat dari serangan hiu di Pantai Coogee, Sydney, meski harus kehilangan satu lengannya.
- Lebih dari AU$550.000 terkumpul dari donasi publik untuk biaya pemulihan dan perawatan medis lanjutan.
- Kasus ini menyoroti meningkatnya frekuensi serangan hiu di Australia, memicu diskusi tentang keselamatan wisatawan dan pengelolaan pesisir.

Leah Stewart, seorang ibu satu anak asal Australia, akhirnya angkat bicara setelah menjadi korban serangan hiu di Pantai Coogee, Sydney, pada Juni lalu. Dalam pernyataan pertamanya sejak insiden tersebut, ia mengaku mendapat "kesempatan kedua untuk hidup" dan bertekad tidak menyia-nyiakannya. Stewart, 35 tahun, mengalami luka parah di lengan dan kaki, dan salah satu lengannya harus diamputasi setelah menjalani beberapa kali operasi.
Serangan yang terjadi saat Stewart berenang pagi hari itu merupakan bagian dari rentetan insiden serangan hiu di Australia yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang tahun ini, setidaknya empat serangan terjadi hanya dalam dua hari pada Januari, termasuk yang menewaskan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Pada Mei, dua pria tewas dalam insiden terpisah di Queensland dan Australia Barat, yang terakhir akibat serangan hiu sepanjang 4 meter.
Stewart, yang sebelumnya koma akibat luka-lukanya, kini dalam masa pemulihan intensif. Dalam unggahan daring pada Senin, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendukungnya yang telah menggalang dana lebih dari AU$550.000 (sekitar Rp5,7 miliar). Dana tersebut, menurutnya, akan digunakan untuk pemulihan di rumah dan membuka opsi perawatan medis lanjutan. "Saya masih punya jalan panjang, tapi pemulihan saya luar biasa, dan sebagian besar berkat dukungan dari seluruh dunia," tulisnya.
Fenomena serangan hiu di Australia memang menjadi perhatian global, dan kasus Stewart memicu kembali diskusi tentang keselamatan di pantai-pantai populer. Bagi Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan destinasi wisata bahari yang ramai, isu ini relevan. Pemerintah dan pengelola wisata di Indonesia kerap menghadapi tantangan serupa dalam menyeimbangkan konservasi hiu dan keselamatan pengunjung. Meski serangan hiu di Indonesia relatif jarang, kejadian seperti ini menjadi pengingat akan risiko yang ada dan pentingnya protokol keselamatan.
Para ahli memperkirakan peningkatan serangan hiu di Australia berkaitan dengan faktor lingkungan, seperti perubahan suhu air dan migrasi mangsa. Namun, mereka juga menggarisbawahi bahwa risiko serangan hiu tetap sangat kecil dibandingkan aktivitas laut lainnya. Menurut data dari Florida Museum of Natural History, rata-rata hanya sekitar 70 serangan hiu tanpa provokasi terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya, dengan angka kematian di bawah 10 kasus.
Bagi Stewart, pengalaman ini telah mengubah cara pandangnya. Dalam unggahannya, ia menulis, "Saya merasa diberi kesempatan kedua, dan saya tidak akan menyia-nyiakannya." Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga, teman, dan "bahkan orang asing" yang telah memberinya semangat. "Anda menginspirasi saya untuk menjadi lebih baik, bukan pahit," tulisnya.
Penggalangan dana untuk Stewart kini resmi ditutup. Dengan dana yang ada, ia berencana memulihkan diri di rumah dan mempertimbangkan perawatan lanjutan. Meski masa depannya masih penuh ketidakpastian, Stewart optimistis. "Saya akhirnya bisa melihat cahaya setelah semua ini," ujarnya.
Kisah Stewart menjadi pengingat akan ketangguhan manusia dalam menghadapi tragedi. Namun, di balik itu, pertanyaan besar tetap menggantung: bagaimana masyarakat pesisir dan pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, dapat mengurangi risiko serangan hiu tanpa mengorbankan ekosistem laut? Akankah kasus seperti ini mendorong perubahan kebijakan yang lebih konkret?



