Si Paruh Gincu di Ambang Senja: Ekek Keling Sunda Kini Hanya Tinggal Nama
Baca dalam 60 detik
- Burung endemik Jawa Barat, Ekek Keling Sunda, berstatus kritis di IUCN dan dilaporkan tak terlihat lagi di Gunung Pangrango.
- Perburuan untuk perdagangan dalam dekade terakhir menjadi ancaman utama, menggeser faktor hilangnya habitat.
- Upaya konservasi dan potensi maskot daerah menjadi sorotan untuk mencegah kepunahan total spesies ini.

Warna hijau zamrud yang mendominasi tubuhnya, paruh merah menyala, dan topeng hitam di sekitar mata—itulah penampakan Ekek Keling Sunda (Cissa thalassina), burung endemik Pulau Jawa yang kini hanya bisa dikenang. Spesies yang dijuluki "Si Paruh Gincu" ini dilaporkan telah menghilang dari habitat aslinya di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat, dan secara resmi berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah IUCN.
Status tersebut bukan sekadar label konservasi, melainkan alarm keras bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, perburuan liar untuk perdagangan telah menggeser peran perusakan hutan sebagai faktor utama penurunan populasi. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin burung sepanjang sekitar 32 sentimeter ini hanya akan menjadi cerita di buku-buku lama, meninggalkan jejak kosong di hutan-hutan Jawa Barat.
Padahal, potensi Ekek Keling Sunda sebagai ikon daerah sangat besar. Sebagai satwa endemik, ia layak disejajarkan dengan surili dan macan tutul yang selama ini menjadi maskot Jawa Barat. Namun, nasibnya kini terkatung-katung: di satu sisi keindahannya memukau, di sisi lain keberadaannya kian senyap. Pertanyaannya, apakah publik dan pemerintah daerah akan bergerak sebelum semuanya benar-benar terlambat?
Menurut riset yang dipublikasikan dalam Bird Conservation International (2011) oleh Bas van Balen, James Eaton, dan Frank E. Rheindt, burung ini hidup di hutan montane dan submontane pada ketinggian 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah jelajahnya pernah tercatat di Gunung Halimun, Salak, Gede, dan Pangrango. Sayangnya, survei terbaru menunjukkan tanda-tanda kepunahan lokal, terutama di Pangrango yang menjadi lokasi terakhir yang diketahui.
Perilaku dan ekologi burung ini pun menarik untuk dicermati. Ia hidup sendirian, berpasangan, atau dalam kelompok kecil, dan memakan serangga seperti kecoa, belalang, kumbang, serta ulat Lepidoptera. Musim kawinnya diperkirakan berlangsung pada musim hujan, sekitar Oktober hingga April, dengan masa pengeraman sekitar 23 hari. Namun, data mengenai perkembangbiakan masih sangat terbatas, menambah sulitnya upaya konservasi.
Bagi Indonesia, kepunahan Ekek Keling Sunda bukan hanya kehilangan satu spesies, tetapi juga pukulan bagi citra konservasi nasional. Di tengah gencarnya promosi pariwisata dan identitas daerah, hilangnya satwa endemik justru menjadi ironi. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat penegakan hukum terhadap perburuan liar, sekaligus mengembangkan program penangkaran dan restorasi habitat. Tanpa langkah konkret, "Si Paruh Gincu" akan menjadi legenda yang menyedihkan—sebuah pengingat bahwa keindahan tanpa perlindungan hanyalah fatamorgana.
Ke depan, apakah Jawa Barat akan menjadikan burung ini sebagai maskot sekaligus simbol komitmen konservasi, atau membiarkannya punah dalam diam? Jawabannya ada pada keberanian mengambil kebijakan berbasis sains dan keterlibatan masyarakat. Saatnya bertindak, sebelum nama "Si Paruh Gincu" hanya tinggal di museum.


