Rabiot Buka Suara soal Kontroversi Libur Panjang: 'Itu Biasa di Italia'
Baca dalam 60 detik
- Gelandang asal Prancis itu langsung memberikan kontribusi gol dan assist pada debut musimnya bersama AC Milan.
- Rabiot menegaskan bahwa izin libur tambahan yang diberikan pelatih merupakan bagian dari manajemen kebugaran, bukan bentuk pembangkangan.
- Peran barunya sebagai trequartista di bawah asuhan Amorim dinilai bisa mengubah dinamika lini serang Milan musim ini.

Gelandang AC Milan, Adrien Rabiot, akhirnya angkat bicara mengenai polemik libur panjang yang sempat membuat sebagian pendukung dan media Italia geram. Dalam debut musimnya, pemain timnas Prancis itu langsung tampil impresif dengan menyumbang satu gol dan satu assist saat Milan menaklukkan Torino 2-1 di Stadion Olimpico Grande Torino, Minggu (16/2) malam WIB. Rabiot menegaskan bahwa tambahan waktu istirahat yang diambilnya adalah keputusan bersama dengan pelatih Ruben Amorim, bukan bentuk pembangkangan.
Kontroversi bermula ketika Rabiot dan rekan setimnya, Mike Maignan, memilih memperpanjang libur pasca-Piala Dunia 2025. Keduanya baru bergabung dengan skuad Milan beberapa hari sebelum laga kontra Torino, sehingga memicu spekulasi bahwa Rabiot tidak nyaman dengan pergantian pelatih dari Max Allegri ke Amorim. Bahkan, beredar kabar bahwa ia ingin mengikuti Allegri ke Napoli. Namun, Rabiot membantah semua isu tersebut dengan tegas.
โSaya butuh waktu istirahat itu untuk memulihkan kondisi fisik dan mental. Musim lalu sangat melelahkan, terutama akhir musim yang berat di Milan. Kami meminta tambahan beberapa hari, dan pelatih justru memberi empat hari. Saya tidak mengerti mengapa ini menjadi masalah. Tapi ya, begitulah biasanya di Italia,โ ujar Rabiot kepada Sky Sport Italia, seperti dikutip Football Italia.
Penampilan Rabiot di laga tersebut menjadi bukti bahwa ia siap menjalankan peran baru di bawah Amorim. Pelatih asal Portugal itu menempatkannya sebagai trequartista di belakang striker, posisi yang sebelumnya diisi Ruben Loftus-Cheek. Rabiot mengaku sudah familiar dengan peran tersebut sejak bekerja sama dengan Roberto De Zerbi di Olympique Marseille. โSaya suka menyerang ke gawang, jadi saya senang dengan peran ini,โ katanya.
Data statistik menunjukkan perubahan signifikan dalam gaya bermain Milan di bawah Amorim. Jika pada era Allegri tim lebih mengandalkan transisi cepat, kini Milan berusaha mendominasi penguasaan bola. Rabiot menilai pendekatan ini akan memudahkan tim menciptakan peluang. โSaya lebih dekat ke gawang saat kami merebut bola. Musim ini kami akan mencoba lebih banyak menguasai bola daripada lawan, sehingga seharusnya lebih mudah mencetak gol dan assist,โ jelasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menarik karena menyoroti dinamika manajemen pemain bintang di klub besar Eropa. Keputusan memberikan libur tambahan setelah turnamen internasional sering kali menjadi bahan perdebatan, terutama ketika performa tim sedang tidak stabil. Namun, Rabiot membuktikan bahwa pendekatan yang tepat secara psikologis dapat menghasilkan dampak positif di lapangan.
Ke depan, tantangan terbesar Amorim adalah menjaga konsistensi performa Rabiot dan mengintegrasikannya dengan pemain lain seperti Christian Pulisic dan Rafael Leรฃo. Jika Rabiot mampu mempertahankan ketajamannya, Milan berpotensi menjadi kandidat kuat scudetto musim ini. Pertanyaannya, akankah kontroversi seputar libur panjang ini menjadi pelajaran bagi klub-klub lain di Italia untuk lebih fleksibel dalam mengelola pemain bintangnya?



