Sarri Nilai Atalanta Lebih Baik, tapi Pertahanan Masih Terlalu Pasif
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan perdana musim ini diraih Atalanta atas Sassuolo dengan skor 2-1, meski performa di 30 menit awal dianggap sebagai standar ideal.
- Pelatih anyar Maurizio Sarri masih mencari keseimbangan antara transisi permainan dan adaptasi pemain anyar, termasuk Eljif Elmas dan Charles De Ketelaere.
- Fokus berikutnya adalah meningkatkan pressing dan membangun serangan dari belakang, dengan ujian sesungguhnya di laga tandang melawan lawan yang lebih tangguh.

Atalanta akhirnya memetik kemenangan perdana di Serie A musim ini setelah menundukkan Sassuolo 2-1 di Stadion Gewiss, Minggu (18/8) malam WIB. Namun, pelatih Maurizio Sarri tidak sepenuhnya puas. Ia menilai timnya tampil solid hanya pada 30 menit awal, sebelum kemudian kehilangan ketajaman dan menjadi terlalu pasif dalam bertahan.
Kemenangan ini menjadi penawar kegelisahan setelah hasil imbang 0-0 melawan Hapoel Tel-Aviv di leg pertama play-off Conference League. Dua gol kemenangan La Dea dicetak oleh Giacomo Raspadori pada menit keenam dan Nikola Krstovic yang memanfaatkan kesalahan pertahanan lawan setelah Sassuolo sempat menyamakan kedudukan lewat Cas Odenthal.
Sarri, yang baru menukangi Atalanta musim ini, membawa filosofi permainan yang berbeda dari era Gian Piero Gasperini. Ia mengakui proses adaptasi masih berjalan, terutama bagi pemain anyar seperti Charles De Ketelaere yang baru bergabung setelah Piala Dunia. "Kami perlu bekerja lebih keras dengan pemain baru, termasuk mereka yang datang terlambat. Ini sebuah proses," ujarnya dalam konferensi pers.
Meski meraih tiga poin, Sarri menyoroti kelemahan yang masih menghantui: timnya kesulitan menekan tinggi dan terlalu mudah mundur ke belakang. "Kami menjadi lebih berbahaya dalam menyerang, tetapi jika bertahan terlalu dalam, itu menjadi masalah. Kami harus lebih baik dalam membangun serangan dari belakang," tegasnya. Ia juga memuji peran gelandang yang bekerja keras sepanjang laga, serta penampilan Nicola Zalewski yang lebih inisiatif.
Penjaga gawang Marco Carnesecchi kembali menjadi penyelamat dengan beberapa penyelamatan penting, seperti yang ia lakukan saat melawan Hapoel Tel-Aviv. Sarri mengapresiasi kontribusi Raspadori yang tidak hanya mencetak gol, tetapi juga membantu pertahanan. "Raspadori punya kualitas luar biasa. Ia kesulitan di pramusim, tapi malam ini ia membantu pertahanan dan mencetak gol," katanya.
Debut Eljif Elmas menjadi sorotan tersendiri. Gelandang asal Makedonia Utara itu baru tiba dari RB Leipzig dengan status pinjaman plus opsi beli. Sarri mengungkapkan, "Kami hanya memberinya waktu 15 menit, tapi dengan tes lebih lanjut kami akan melihat perkembangannya." Sementara itu, Mario Pasalic, yang pernah dilatih Sarri di Chelsea, mendapat pujian atas etos kerjanya. "Ia profesional sejati. Saya sudah mengenalnya sejak di Chelsea. Etos kerja di tim ini luar biasa, itu warisan dari klub dan pelatih sebelumnya," ujarnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana transisi pelatih dengan gaya berbeda dapat memengaruhi performa tim. Atalanta yang dulu identik dengan pressing tinggi ala Gasperini kini mencoba adaptasi dengan pendekatan Sarri yang lebih mengedepankan penguasaan bola. Ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap berganti pelatih dengan filosofi berbeda, bahwa proses adaptasi membutuhkan waktu dan kesabaran.
Pertanyaan besarnya, apakah Sarri mampu mempertahankan konsistensi performa Atalanta sepanjang musim? Dengan jadwal padat Serie A dan Eropa, ujian sesungguhnya akan datang saat menghadapi lawan yang lebih tangguh. Jika pressing tinggi dan transisi bertahan tidak segera diperbaiki, La Dea bisa kembali kehilangan poin penting.



