Juventus Menang Tipis atas Frosinone, Para Pemain Justru Soroti Kegagalan Menutup Laga Lebih Awal
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan 1-0 Juventus atas Frosinone di giornata pertama Serie A diwarnai kritik internal karena gagal memanfaatkan peluang.
- Gol semata wayang Bremer dari sepak pojok menjadi pembeda, namun para penggawa Si Nyonya Tua menilai performa tim masih jauh dari sempurna.
- Sorotan tajam tertuju pada lini depan yang dinilai kurang klinis, menjadi pekerjaan rumah utama pelatih Thiago Motta ke depan.

Kemenangan tipis 1-0 Juventus atas Frosinone pada giornata pertama Serie A, Senin (19/8/2024) dini hari WIB, meninggalkan rasa tidak puas di kubu tim tamu. Alih-alih merayakan tiga poin perdana, para pemain inti seperti Gleison Bremer, Francisco Conceicao, dan Pierre Kalulu justru kompak menyoroti kegagalan tim dalam mematikan perlawanan tuan rumah lebih cepat. Mereka menilai laga yang seharusnya berakhir dengan skor lebih besar itu menjadi alarm awal bagi skuad asuhan Thiago Motta.
Bermain di Stadion Benito Stirpe, Juventus memang tampil dominan sejak menit awal. Namun, penyelesaian akhir yang buruk membuat mereka hanya mampu mencetak satu gol lewat sundulan Bremer memanfaatkan sepak pojok pada babak pertama. Padahal, berbagai peluang emas tercipta, termasuk dari kaki Conceicao yang menjadi motor serangan sayap kanan. Situasi ini mengingatkan pada musim lalu, ketika Juventus kerap kesulitan mengonversi dominasi menjadi kemenangan meyakinkan.
Bremer, yang dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut, tidak menutup mata terhadap kelemahan timnya. โKami seharusnya bisa menuntaskan pertandingan ini di babak pertama, seperti yang terjadi musim lalu. Masih banyak yang harus kami perbaiki,โ ujarnya kepada DAZN, seperti dikutip Football-Italia. Meski demikian, bek asal Brasil itu tetap mensyukuri kemenangan perdana ini sebagai modal berharga untuk membangun kepercayaan diri.
Senada dengan Bremer, Conceicao yang tampil impresif dengan assist-nya justru menyalahkan dirinya sendiri. โKami bisa mencetak dua, tiga, bahkan empat gol, tapi kami tidak mampu melakukannya. Sebagai penyerang, saya harus lebih baik lagi dalam menyelesaikan peluang,โ tegas pemain sayap asal Portugal itu. Ia menambahkan bahwa kedalaman skuad di lini depan membuat persaingan internal semakin ketat, yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan kualitas tim secara keseluruhan.
Pierre Kalulu, bek pinjaman dari AC Milan, juga angkat bicara. Ia mengakui bahwa laga pembuka selalu berat, tetapi timnya seharusnya bisa lebih efisien. โPertandingan pertama selalu sulit, tapi kami punya banyak peluang. Saya sendiri punya kesempatan untuk mencetak gol,โ katanya. Kalulu juga menyoroti peran pelatih Luciano Spalletti dalam perkembangannya, meski sang pelatih justru mengkritik penampilan Randal Kolo Muani. Kalulu membela rekan setimnya itu, menyebut Kolo Muani sebagai pemain kuat yang akan memberikan kontribusi besar bagi tim.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini memberikan gambaran menarik tentang dinamika tim besar Eropa. Juventus, yang musim lalu hanya finis ketiga, jelas berambisi kembali ke puncak klasemen. Namun, kegagalan memanfaatkan peluang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi Thiago Motta. Pelatih asal Italia itu dituntut untuk menemukan formula tepat agar timnya tidak terus bergantung pada gol-gol tipis yang berisiko.
Pertanyaan besarnya, akankah Juventus mampu bersaing ketat dengan Inter Milan, AC Milan, dan Napoli yang juga tampil impresif di awal musim? Dengan jadwal padat dan lawan-lawan tangguh di depan, konsistensi menjadi kunci. Jika lini depan masih mandul seperti melawan Frosinone, bukan tidak mungkin ambisi scudetto akan kembali kandas. Para penggemar di Indonesia pun patut menanti bagaimana Thiago Motta merespons kritik para pemainnya ini.



