Andrew Garfield: Ambisi Karier Kini Lebih Membumi, Bukan Sekadar Pencapaian
Baca dalam 60 detik
- Aktor 43 tahun itu menggeser fokus dari kejayaan box office ke kualitas hidup dan hubungan personal.
- Ia mengakui godaan untuk menjauh dari media sosial demi menjaga kesehatan mental di tengah tekanan ketenaran.
- Perubahan perspektif ini menandai fase baru kariernya yang lebih filosofis dan eksistensial.

Setelah dua dekade berkutat di industri hiburan dengan segudang peran ikonik, Andrew Garfield kini mengaku ambisinya tidak lagi berpusat pada pencapaian karier semata. Dalam wawancara terbaru dengan Variety, aktor berusia 43 tahun itu menyebut impiannya saat ini lebih "membumi"โbergeser dari kejayaan Hollywood menuju kualitas hidup dan hubungan yang lebih bermakna.
Garfield, yang namanya melambung lewat perannya di The Social Network dan trilogi Spider-Man, menegaskan bahwa dirinya kini berada di fase berbeda. "Saya masih punya mimpi, tapi mimpi itu lebih filosofis dan eksistensial ketimbang berbasis pencapaian," ujarnya. Ia menambahkan bahwa prioritas utamanya sekarang adalah membangun kualitas hubungan dengan keluarga, teman, dan terutama dengan dirinya sendiri.
Perubahan pola pikir ini tidak lepas dari kesadaran akan singkatnya waktu hidup. Garfield mengaku baru-baru ini mengalami pemahaman mendalam tentang betapa singkatnya "kunjungan" manusia di planet ini. "Saya merasakan urgensi baru yang luar biasa," katanya. Ia pun memilih untuk hanya melakukan hal-hal yang "berbicara pada jiwa", sebuah sikap yang jarang ditemui di tengah industri yang kerap mengejar popularitas dan keuntungan finansial.
Di tengah hingar-bingar kehidupan publik, Garfield juga jujur mengakui perjuangannya melawan distraksi digital. Ia bahkan mengungkapkan keinginan untuk "menghancurkan ponsel" atau membuangnya ke laut karena merasa perangkat tersebut "mencuri kehidupan". Menurutnya, salah satu cara efektif adalah dengan menjauhkan ponsel dari ruangan. "Begitu ponsel ada di ruangan, kita seperti terkutuk," candanya, merujuk pada kecenderungan manusia untuk terus mengecek notifikasi.
Fenomena yang dialami Garfield ini sejalan dengan tren global, termasuk di Indonesia, di mana kesadaran akan kesehatan mental semakin menguat. Banyak profesional muda di kota-kota besar mulai menerapkan digital detox dan mindfulness untuk melawan kelelahan akibat paparan media sosial yang berlebihan. Para psikolog di Tanah Air pun menilai langkah seperti ini penting untuk menjaga keseimbangan hidup di tengah tekanan pekerjaan dan ekspektasi sosial.
Menurut pengamat budaya populer, pergeseran sikap Garfield mencerminkan perubahan generasi di Hollywood yang mulai menjauhi budaya kerja berlebihan. "Banyak aktor kini berbicara terbuka tentang pentingnya kesehatan mental, dan Garfield adalah salah satu suara paling vokal," ujar seorang analis hiburan. Ia menambahkan bahwa sikap ini bisa menjadi inspirasi bagi penggemar di Indonesia yang kerap mengidolakan gaya hidup glamor tanpa melihat sisi gelapnya.
Garfield, yang saat ini dikabarkan menjalin hubungan dengan Monica Barbaro, juga menyoroti kondisi budaya yang menurutnya "mati rasa" dan kurang menyadari makna kehidupan. "Kita semua punya jiwa, dan kita harus menghormatinya," tegasnya. Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap industri hiburan, ada manusia yang berjuang untuk tetap autentik.
Ke depannya, publik akan menantikan apakah sikap baru Garfield ini akan memengaruhi pilihan perannya. Akankah ia lebih selektif dalam memilih proyek yang sejalan dengan nilai-nilai pribadinya? Atau justru ini menjadi awal dari pensiun dini dari layar lebar? Yang jelas, transformasi ini menandai babak baru yang lebih reflektif bagi salah satu aktor paling dicintai generasinya.



