Liverpool Selamat di Newcastle, tapi Pekerjaan Rumah Iraola Masih Panjang
Baca dalam 60 detik
- Penalti menit akhir Dominik Szoboszlai menyelamatkan Liverpool dari kekalahan perdana di pekan pembuka sejak 2012.
- Penampilan tim asuhan Andoni Iraola dinilai kurang kreatif, dengan duet mahal Wirtz-Isak belum padu.
- Kedalaman skuad menjadi sorotan utama; Gakpo bisa hengkang jika dua penyerang baru datang.

Liverpool nyaris mengawali musim dengan kekalahan, namun penalti menit ke-99 yang dieksekusi Dominik Szoboszlai memaksa Newcastle United bermain imbang 2-2 di St James' Park, Minggu (12/8) malam WIB. Hasil ini memang menyelamatkan wajah The Reds dari catatan buruk, tetapi di balik itu, performa tim asuhan Andoni Iraola masih menyisakan banyak pertanyaan.
Sejak awal laga, Liverpool tampil di bawah tekanan. Dua kali tertinggal, dua kali pula mereka mampu menyamakan kedudukan. Gol pertama dicetak Cody Gakpo, sementara gol penyeimbang tercipta dari titik putih. Namun, cara bermain yang ditunjukkan anak asuh Iraola jauh dari kata meyakinkan. Mantan pemain sayap Skotlandia, Pat Nevin, menilai Liverpool tidak tampil seperti tim empat besar. "Ada kekurangan kreativitas yang jelas," ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.
Sorotan tajam tertuju pada duet mahal Florian Wirtz dan Alexander Isak. Keduanya direkrut dengan biaya transfer sembilan digit pada bursa musim panas lalu, tetapi di laga ini mereka gagal menunjukkan sinergi. Isak, yang kembali ke bekas klubnya, hanya mencatatkan 28 sentuhan dan membuang peluang emas di babak kedua. Wirtz bahkan ditarik keluar setelah Newcastle unggul 2-1. Tekanan suporter tuan rumah yang mencemooh Isak setiap menyentuh bola jelas memengaruhi mentalnya.
Bagi pengamat sepak bola nasional, laga ini menjadi pengingat bahwa persaingan di papan atas Liga Inggris semakin ketat. Liverpool, yang biasa menjadi kandidat juara, kini harus bekerja ekstra keras untuk sekadar finis di empat besar. Situasi ini juga berdampak pada bursa transfer, di mana klub-klub Eropa mulai melirik pemain-pemain Asia Tenggara sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Iraola sendiri mengakui timnya layak mendapat satu poin. "Kami tidak pantas kalah, dan kami tidak pernah menyerah," katanya. Namun, pelatih asal Spanyol itu pasti sadar bahwa skuadnya butuh tambahan amunisi. Hingga akhir Januari, Liverpool dikaitkan dengan Bradley Barcola dari Paris Saint-Germain dan Ibrahim Mbaye, serta Yankuba Minteh dari Brighton yang dua kali ditolak tawarannya.
Satu hal yang menjadi teka-teki adalah masa depan Cody Gakpo. Penyerang asal Belanda itu tampil cemerlang dan menjadi motor serangan Liverpool. Namun, jika dua penyerang baru datang, posisinya bisa terancam. Iraola tampaknya ingin memiliki sayap yang bisa bermain di kedua sisi, dan eksperimen menempatkan Rio Ngumoha di kanan belum membuahkan hasil. Ngumoha, yang genap berusia 18 tahun pekan depan, lebih nyaman di sisi kiri.
Masalah lain terlihat di lini belakang. Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong tampil buruk, dan Liverpool kebobolan dua gol dari serangan balik. Kurangnya gelandang bertahan murni juga terlihat jelas. Iraola bahkan harus menarik Alexis Mac Allister ke posisi tersebut setelah Newcastle unggul. Ini pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Meski demikian, ada secercah harapan. Semangat juang para pemain pengganti patut diacungi jempol. Szoboszlai menegaskan, "Kami tidak akan pernah menyerah. Semua pemain yang masuk dari bangku cadangan memberi dampak." Namun, semangat saja tidak cukup. Liverpool butuh peningkatan kualitas dan kuantitas pemain.
Pertanyaannya, akankah Iraola berani mengambil keputusan besar di sisa bursa transfer? Atau akankah ia bertahan dengan skuad yang ada dan berharap para pemainnya segera menemukan bentuk terbaik? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Liverpool tidak boleh terlena dengan hasil imbang ini.



