Scott Jamieson Akhiri Penantian 14 Tahun: Kemenangan Kedua di Tur Eropa
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Skotlandia berusia 42 tahun itu menembus final dengan skor 67, mengamankan gelar DP World Tour pertamanya sejak 2012.
- Kemenangan ini mengukuhkan dominasi Skotlandia di Nexo Championship, setelah tahun lalu Grant Forrest juga menjuarai turnamen yang sama.
- Dengan hasil ini, Jamieson mengamankan hak bermain di DP World Tour hingga dua musim ke depan, meringankan tekanan di akhir klasemen.

Skotlandia kembali berjaya di Nexo Championship. Scott Jamieson, pegolf tuan rumah berusia 42 tahun, menuntaskan puasa gelar selama 14 tahun dengan kemenangan dramatis di Trump International Golf Links, Aberdeenshire, akhir pekan ini. Putaran final 67 membuatnya finis di posisi 11 under par, unggul dua pukulan atas pemimpin klasemen sementara Matthew Jordan dari Inggris.
Kemenangan ini bukan sekadar gelar kedua di ajang DP World Tour bagi Jamieson—yang terakhir ia raih pada 2012 di Nelson Mandela Championship—tetapi juga menjadi bukti konsistensi di usia yang tak lagi muda. Ia tampil sabar dan tenang sepanjang hari, meski tekanan kompetisi musim ini sempat membuat posisinya di klasemen terancam. "Empat belas tahun, itu luar biasa," ujarnya dengan mata berkaca-kaca kepada Sky Sports, merujuk pada gelar pertamanya di Afrika Selatan.
Bagi Jamieson, kemenangan ini punya nilai strategis lebih dari sekadar trofi. Dengan hasil ini, ia mengamankan hak bermain penuh di DP World Tour untuk dua musim ke depan—semacam "tiket emas" yang memberinya ruang napas di tengah persaingan ketat menuju akhir musim. "Saya berada di posisi yang sulit tahun ini, poin saya minim. Menang dan mendapat dua tahun gratis bermain adalah hal yang menyenangkan," katanya, menggambarkan betapa krusialnya kemenangan ini bagi kariernya.
Kemenangan Jamieson juga mengukuhkan dominasi Skotlandia di turnamen ini. Tahun lalu, Grant Forrest yang menjadi juara bertahan, meski kali ini ia harus menelan pil pahit dengan skor akhir 10 over par setelah putaran final yang buruk (80). Sementara itu, dua pegolf Skotlandia lainnya, Euan Walker dan Connor Syme, berbagi posisi 10 besar dengan skor 4 under par, menunjukkan kedalaman talenta golf negeri Wallace.
Bagi penggemar golf di Indonesia, kemenangan Jamieson menjadi pengingat bahwa konsistensi dan kesabaran adalah kunci, terutama di usia yang tak lagi muda. Di tengah gempuran pegolf muda Asia yang mulai mendominasi tur dunia, pencapaian Jamieson membuktikan bahwa pengalaman masih punya tempat. Terlebih, dengan semakin banyaknya turnamen internasional yang disiarkan di Indonesia, para penggemar dapat menyaksikan langsung bagaimana strategi dan mentalitas juara dibangun.
Dengan kemenangan ini, Jamieson tidak hanya mengamankan masa depannya di tur, tetapi juga mengirim pesan bahwa karier seorang pegolf tidak berakhir di usia 40-an. Pertanyaannya kini: mampukah ia memanfaatkan momentum ini untuk bersaing di turnamen-turnamen besar berikutnya, atau akankah ini menjadi puncak terakhir dari kariernya yang panjang? Yang jelas, malam perayaan di Aberdeenshire pasti akan dikenang lama oleh Jamieson dan para penggemar golf Skotlandia.



