Baek/Lee Patahkan Kutukan 31 Tahun, Ganda Putri Korea Kembali Berjaya di Panggung Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pasangan peringkat tiga dunia itu menaklukkan unggulan teratas asal China dengan skor identik 21-15 di kedua gim, mengakhiri puasa gelar sejak 1995.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Korea Selatan di sektor ganda putri sekaligus menjadi sinyal persaingan baru bagi Indonesia yang tengah membangun regenerasi.
- Dengan modal gelar juara dunia, Baek/Lee diprediksi menjadi lawan terberat bagi ganda putri Indonesia di Olimpiade Los Angeles 2028.

Baek Ha-na/Lee So-hee akhirnya mengukir namanya dalam buku sejarah bulu tangkis dunia. Pada final Kejuaraan Dunia BWF di New Delhi, Minggu, pasangan Korea Selatan itu menaklukkan ganda putri nomor satu dunia asal China, Liu Sheng Shu/Tan Ning, dua gim langsung 21-15, 21-15. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan pengakhiran penantian panjang 31 tahun bagi Korea Selatan untuk kembali merasakan supremasi di nomor ganda putri.
Terakhir kali Korea Selatan meraih gelar juara dunia ganda putri adalah pada 1995 melalui Gil Young-ah/Jang Hye-ock di Lausanne, Swiss. Sejak saat itu, dominasi China dan Jepang membuat Korea Selatan kerap hanya menjadi pemain pelengkap. Kini, Baek/Lee mematahkan kutukan itu dan menjadi pasangan kedua dalam sejarah Korea Selatan yang berhasil berdiri di podium tertinggi Kejuaraan Dunia.
Pertandingan final berlangsung dalam tempo tinggi. Baek/Lee langsung tancap gas dengan merebut lima poin beruntun di awal gim pertama. Pertahanan rapat mereka membuat Liu/Tan kesulitan mengembangkan permainan dan kerap melakukan kesalahan sendiri. Unggul 11-6 saat interval, Baek/Lee terus menjaga jarak hingga menutup gim pertama 21-15. Gim kedua berjalan lebih sengit, tetapi lima poin beruntun di pertengahan gim kembali menjadi pembeda. Baek/Lee menuntaskan perlawanan lawan dengan skor yang sama.
Kemenangan ini terasa istimewa karena Liu/Tan sebelumnya kerap menjadi batu sandungan bagi Baek/Lee. Selain itu, perjalanan Baek/Lee menuju final juga tidak mudah. Mereka mengalahkan wakil Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, di perempat final, kemudian menyingkirkan pasangan China lainnya, Li Yi Jing/Luo Xu Min, di semifinal. Konsistensi mereka sepanjang musim, termasuk menjadi runner-up Malaysia Open dan All England Open serta mempertahankan gelar BWF World Tour Finals, menjadi modal berharga.
Bagi Lee So-hee, gelar ini melengkapi koleksi medali pribadinya. Sebelumnya ia meraih perunggu pada 2014 dan perak pada 2021. Adapun bagi Baek Ha-na, ini adalah medali pertamanya di Kejuaraan Dunia. Keberhasilan ini juga menegaskan bahwa Korea Selatan kembali menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan di sektor ganda putri, setelah sekian lama tertinggal dari China dan Jepang.
Bagi Indonesia, hasil ini menjadi tamparan sekaligus pelajaran. Sektor ganda putri Indonesia masih berkutat pada regenerasi. Febriana/Meilysa yang tampil di perempat final menunjukkan progres, tetapi masih jauh dari kata konsisten. Kegagalan Indonesia meraih medali di Kejuaraan Dunia kali ini memperpanjang catatan paceklik emas. Jika tidak ada percepatan pembinaan, jarak dengan Korea Selatan dan China akan semakin melebar.
Ke depan, persaingan ganda putri diprediksi semakin ketat. Baek/Lee kini memiliki kepercayaan diri tinggi dan akan menjadi unggulan utama di berbagai turnamen. Pertanyaan besarnya, mampukah ganda putri Indonesia menjawab tantangan ini dengan pembinaan yang lebih serius? Atau akankah kita kembali tertinggal dalam perebutan supremasi bulu tangkis dunia?



