Kejelcha Rebut Rekor Dunia Half Marathon di Buenos Aires, Catat 56 Menit 51 Detik
Baca dalam 60 detik
- Pelari Ethiopia Yomif Kejelcha memecahkan rekor dunia half marathon dengan waktu 56:51 di Buenos Aires, menggeser catatan Jacob Kiplimo.
- Kiplimo sebelumnya memegang rekor 57:20, tetapi performa 56:42 di Barcelona tidak diakui karena kondisi balapan tidak memenuhi regulasi.
- Rekor baru ini menegaskan dominasi Ethiopia di nomor lari jarak jauh dan menjadi sorotan menjelang musim maraton dunia.

Pelari jarak jauh asal Ethiopia, Yomif Kejelcha, kembali mencatatkan namanya dalam buku rekor dunia setengah maraton. Pada Minggu (23/8), ia memenangi ajang World Athletics Label Road Race di Buenos Aires dengan waktu 56 menit 51 detik, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Jacob Kiplimo dari Uganda.
Catatan Kejelcha itu unggul 29 detik dari rekor lama Kiplimo yang dibuat di Lisbon pada Maret lalu. Menariknya, ini bukan kali pertama Kejelcha memegang rekor tersebut. Sebelumnya, ia mencatat 57:30 di Valencia pada Oktober 2024, sebelum kemudian dilampaui Kiplimo. Kini, Kejelcha merebut kembali posisi puncak dengan performa yang jauh lebih cepat.
Namun, perjalanan rekor ini tidak lepas dari kontroversi. Kiplimo sempat mencatat waktu 56:42 di Barcelona tahun lalu, yang sebenarnya lebih cepat dari rekor Kejelcha. Sayangnya, performa tersebut tidak diakui sebagai rekor dunia karena kondisi balapan tidak memenuhi standar yang ditetapkan World Athletics. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi regulasi dalam pengakuan rekor di level internasional.
Di sisi lain, kemenangan Kejelcha di Buenos Aires juga menegaskan dominasi pelari Ethiopia di nomor lari jarak jauh. Pada lomba yang sama, rekan senegaranya, Fotyen Tesfay, juga tampil impresif dengan memenangkan nomor putri dalam waktu 1 jam 3 menit 57 detik. Ini menunjukkan bahwa Ethiopia tidak hanya unggul di nomor maraton penuh, tetapi juga di setengah maraton.
Bagi Indonesia, prestasi ini bisa menjadi inspirasi sekaligus pelajaran. Meskipun Indonesia belum memiliki pelari yang mampu bersaing di level tersebut, perkembangan atletik jarak jauh di Asia Tenggara terus meningkat. Beberapa negara seperti Filipina dan Thailand mulai serius mengembangkan pelari jarak jauh, dan Indonesia pun perlahan mulai melirik potensi ini. Dengan adanya rekor dunia baru, diharapkan semakin banyak atlet muda yang termotivasi untuk menekuni nomor lari jarak jauh.
Kejelcha, yang dikenal dengan gaya lari agresif dan kemampuan akselerasi di akhir balapan, menunjukkan bahwa ia masih menjadi salah satu pelari terbaik dunia. Namun, pertanyaannya kini adalah: mampukah ia mempertahankan rekor ini dalam waktu lama? Kiplimo, yang masih muda, tentu akan berusaha membalas. Persaingan antara keduanya diprediksi akan semakin sengit di ajang-ajang berikutnya, termasuk kemungkinan di Kejuaraan Dunia atau Olimpiade.
Selain itu, rekor ini juga menjadi sorotan bagi para pengamat olahraga yang menilai bahwa batas kemampuan manusia dalam lari jarak jauh masih terus bergeser. Dengan teknik latihan yang semakin modern dan dukungan ilmu olahraga, bukan tidak mungkin rekor ini akan kembali dipecahkan dalam waktu dekat. Dunia atletik pun menantikan duel berikutnya antara Kejelcha dan Kiplimo.



