Agentic AI Ubah Peta Marketplace Cloud, Operator Telekomunikasi Berebut Masuk
Baca dalam 60 detik
- AWS, Microsoft, dan Google berlomba memperkaya marketplace cloud dengan katalog agen AI dan pengalaman pencarian konversasional, mengubah cara perusahaan membeli perangkat lunak.
- Operator telekomunikasi melihat peluang baru lewat productisasi infrastruktur jaringan, didorong standar API terbuka seperti CAMARA dan GSMA Open Gateway.
- Persaingan antar hyperscaler semakin tajam, dengan Google memangkas biaya transaksi hingga 1,5% untuk menarik lebih banyak penjual dan mitra.

Pertarungan memperebutkan pasar cloud global memasuki babak baru. Sejak kehadiran agentic AI tahun lalu, tiga raksasa hyperscaler—Amazon Web Services (AWS), Microsoft, dan Google—berlomba mentransformasi marketplace mereka dari sekadar etalase produk menjadi kanal penjualan cerdas yang mampu memahami kebutuhan pembeli secara konversasional. Langkah ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi bisnis untuk menguasai pasar yang nilainya ditaksir mencapai puluhan miliar dolar.
AWS kini mengklaim memiliki lebih dari 30.000 daftar produk, termasuk kategori AI Agents and Tools yang diluncurkan Juli lalu, serta fitur agent mode untuk pencarian yang diperkaya AI. Microsoft tidak mau ketinggalan dengan membangun ulang marketplace-nya pada September setelah menggabungkan Azure Marketplace dan AppSource, kini menampilkan lebih dari 3.000 aplikasi dan agen AI. Sementara Google membedakan diri lewat pemangkasan biaya transaksi dari 3% menjadi 1,5% untuk kesepakatan tertentu—sebuah langkah agresif untuk menarik lebih banyak penjual.
Perubahan lanskap ini membuka pintu bagi pemain baru, terutama operator telekomunikasi. Charlotte Dunlap, research director di GlobalData, menilai bahwa telco selama bertahun-tahun kesulitan beradaptasi dengan model penjualan digital. Kini, mereka melihat marketplace sebagai jalur utama pertumbuhan penjualan dengan memanfaatkan agentic AI untuk menyederhanakan pengiriman layanan jaringan ke perusahaan.
"Faktor pendorongnya beragam, mulai dari pengadaan produk berbasis agen AI melalui penemuan solusi secara konversasional, hingga productisasi layanan infrastruktur yang lebih baik," ujar Dunlap.
Dunlap menambahkan bahwa kemajuan perangkat lunak open-source (OSS) telah membuat lebih banyak solusi operator terdaftar di marketplace, didukung API standar seperti MCP, GSMA Open Gateway, dan CAMARA. Standar-standar ini memungkinkan konektivitas yang mulus dan mempercepat integrasi. Solusi seperti networks-as-code pun berkembang menjadi lebih mudah dikonsumsi dan diprogram melalui agen perusahaan, tanpa memerlukan coding atau integrasi rumit. Aliansi operator API yang dipimpin Ericsson, Aduna, menjadi contoh nyata, begitu pula kontribusi Nokia berupa Network-as-Code API ke Google Cloud Marketplace.
Operator telekomunikasi kini mengisi peran kunci melalui kanal marketplace: memenuhi kesepakatan jaringan nirkabel privat, menjual kembali perangkat lunak dan layanan platform, serta menawarkan konsultasi dan integrasi bernilai tambah bagi pelanggan korporat. Productisasi infrastruktur ini berpadanan dengan tren lain di marketplace—inovasi UX agent mode yang menghadirkan pengalaman penemuan konversasional untuk pengadaan perangkat lunak. Fitur ini memperluas audiens pembeli non-teknis yang ingin menyelesaikan masalah digitalisasi perusahaan mereka.
Dalam setahun terakhir, AWS merilis agent mode yang memungkinkan pembeli mendeskripsikan kasus penggunaan dan persyaratan spesifik kepada agen, lalu membandingkan opsi produk. Google dan Microsoft juga meluncurkan metode berbasis chat untuk menemukan solusi. Google mengandalkan pencarian bertenaga AI yang melampaui kata kunci, sementara Microsoft menyebut pengalaman konversasionalnya sebagai "intelligent discovery" dengan evaluasi dan perbandingan produk interaktif.
Bagi pasar Indonesia, gelombang ini membawa implikasi signifikan. Operator telekomunikasi nasional seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata memiliki peluang untuk masuk ke ekosistem marketplace global melalui productisasi layanan jaringan. Namun, tantangannya tidak kecil: kesiapan infrastruktur digital, adopsi API standar, dan sumber daya manusia yang memahami agentic AI menjadi prasyarat. Tanpa itu, operator dalam negeri berisiko hanya menjadi penonton di pasar yang semakin terintegrasi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah marketplace cloud akan didominasi agen AI, melainkan seberapa cepat operator telekomunikasi—termasuk di Indonesia—mampu bertransformasi dari penyedia konektivitas menjadi penjual solusi digital yang gesit. Jika tidak, mereka bisa kehilangan momentum di pasar yang nilainya terus membengkak.



