Jatah Gula Era Perang Inggris Ungkap Jejak Kesehatan 70 Tahun Kemudian
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap penduduk Inggris yang lahir di masa penjatahan gula 1953 menemukan risiko diabetes tipe 2 turun hingga 35 persen.
- Efek perlindungan meluas ke tekanan darah, penyakit hati, demensia, hingga kecemasan — diduga melalui jalur penuaan biologis.
- Temuan ini memperkuat rekomendasi lama soal batas gula harian, namun belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Kebijakan pangan Inggris pascaperang yang membatasi konsumsi gula ternyata meninggalkan jejak biologis yang masih terdeteksi lebih dari tujuh dekade kemudian. Sejumlah riset terbaru yang memanfaatkan data UK Biobank menemukan bahwa orang yang menghabiskan 1.000 hari pertama hidupnya di bawah rezim penjatahan gula memiliki risiko lebih rendah terhadap sejumlah penyakit kronis dibanding mereka yang lahir setelah pembatasan dicabut.
Penjatahan gula di Inggris berlangsung hingga September 1953. Saat itu, orang dewasa hanya boleh mengonsumsi sekitar 40 gram gula per hari — kira-kira tiga sendok makan — sementara anak-anak dibatasi kurang dari satu sendok makan. Bayi dan balita nyaris tidak mendapat tambahan gula. Ketika pembatasan dicabut, konsumsi gula rata-rata penduduk hampir berlipat ganda hanya dalam hitungan bulan.
Perubahan mendadak akibat kebijakan, bukan pilihan individu, itulah yang membuat periode ini dianggap sebagai eksperimen alamiah langka. "Sejarah menciptakan eksperimen yang tidak mungkin kami rancang sendiri sepanjang hidup manusia," kata Dr Jiazhen Zheng dari Hong Kong University of Science and Technology, yang terlibat dalam beberapa studi tersebut.
Temuan pertama dipublikasikan di jurnal Science dua tahun lalu oleh tim Dr Tadeja Gračner dari University of Southern California. Dengan membandingkan kelompok yang terpapar penjatahan hanya selama dalam kandungan, selama beberapa bulan atau tahun, dan yang sama sekali tidak terpapar, timnya menemukan pola yang konsisten: semakin lama seseorang hidup di bawah penjatahan, semakin rendah risiko diabetes dan tekanan darah tinggi di usia menengah hingga lanjut.
Sejak itu, gelombang studi lanjutan memperluas cakupan ke organ lain. Zheng mengaku lebih terkesan pada konsistensi lintas sistem organ ketimbang pada satu angka efek tertentu. Kajian kelompoknya mengaitkan paparan gula rendah di awal kehidupan dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular, gangguan hati, masalah pernapasan, demensia, hingga sejumlah penanda penuaan biologis.
Gračner menilai keterkaitan itu masuk akal secara medis. Diabetes, hipertensi, dan obesitas merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan penurunan kognitif. Jika pembatasan gula di awal kehidupan menekan risiko-risiko hulu tersebut, maka asosiasi dengan beragam penyakit hilir adalah konsekuensi yang wajar.
Yang lebih mengejutkan, efeknya tampak menjangkau kesehatan mental. Prof Nophar Geifman dari University of Surrey melaporkan pada Agustus lalu bahwa kelompok yang melewati seluruh 1.000 hari pertama di bawah penjatahan memiliki kemungkinan 33 persen lebih kecil didiagnosis kecemasan. Mereka juga cenderung tidak menyukai makanan manis puluhan tahun kemudian. Geifman menduga perkembangan otak yang pesat di masa awal membuatnya sangat sensitif terhadap lingkungan nutrisi, sementara pola makan tinggi gula dikaitkan dengan peradangan dan perubahan mikrobioma usus.
"Kami bisa menunjukkan bahwa tumbuh dengan lebih sedikit gula bersifat protektif puluhan tahun kemudian, tetapi belum bisa menjelaskan mekanismenya — apakah melalui gula itu sendiri, preferensi rasa yang terbentuk dini, atau respons metabolik yang terkunci di awal kehidupan." — Dr Tadeja Gračner, University of Southern California
Riset terbaru tim Gračner yang masih dalam proses telaah sejawat mengindikasikan bahwa tumbuh di bawah penjatahan dapat melemahkan pengaruh gen yang membuat seseorang rentan memiliki berat badan berlebih. Perbedaan pola makan di usia dewasa, menurutnya, serupa di semua kelompok risiko genetik — petunjuk bahwa responsnya tidak semata perilaku, melainkan melibatkan jalur fisiologis seperti pemrograman metabolik, sensitivitas insulin, hingga perkembangan jaringan lemak.
Gagasan bahwa nutrisi awal kehidupan berdampak jangka panjang bukan hal baru. Sejak 1970-an, peneliti memakai peristiwa kelaparan sebagai eksperimen alamiah, terutama "musim dingin kelaparan" Belanda 1944-1945. Prof LH Lumey dari Columbia Mailman School of Public Health menyebut temuan paling andal dari studi itu adalah meningkatnya risiko kelebihan berat badan, obesitas, dan diabetes tipe 2 pada mereka yang terpapar saat dalam kandungan.
Namun Zheng menegaskan konteks Inggris berbeda jauh. Penjatahan gula di sana bukan kelaparan dan tidak melibatkan kekurangan kalori menyeluruh; yang dibatasi secara selektif hanya asupan gula, sementara pola makan lain relatif memadai. Pelajarannya bukan bahwa nutrisi lebih sedikit selalu lebih baik, melainkan bahwa kualitas dan waktu asupan gizi di masa perkembangan dapat berdampak sepanjang hidup.
Sejumlah ilmuwan mengingatkan agar temuan ini tidak dibaca berlebihan. Geifman menegaskan tidak ada klaim kausalitas — yang teramati adalah asosiasi. Banyak studi juga memakai kelompok peserta UK Biobank yang tumpang tindih, sehingga belum bisa dianggap replikasi independen. Lumey menyebut hasil ini sebagai langkah awal yang baik, bukan kata akhir, dan menuntut pengujian lebih lanjut soal besaran risiko serta jendela waktu kritisnya.
Yang jelas, eksperimen pascaperang ini tidak sejauh yang dibayangkan dari kehidupan modern. Tingkat konsumsi gula saat penjatahan kurang lebih setara dengan anjuran Inggris saat ini: tidak lebih dari 30 gram gula bebas per hari untuk dewasa dan anak di atas 11 tahun. Kenyataannya, konsumsi rata-rata penduduk Inggris kini sekitar dua kali lipat angka tersebut.
Pertanyaannya bukan apakah bayi masa kini perlu mengalami deprivasi ala zaman perang, melainkan seberapa besar manfaat jangka panjang dari sekadar menahan asupan gula mendekati batas yang sudah lama direkomendasikan. Jika efek protektif itu benar-benar kausal, implikasinya bagi kebijakan gizi, label pangan, dan edukasi orang tua bisa jauh lebih luas daripada yang selama ini diakui.



