Skor Kognitif Rendah di Usia 60-an Bisa Jadi Alarm Dini Risiko Stroke
Baca dalam 60 detik
- Studi observasional terhadap 4.912 partisipan menemukan bahwa mereka yang berusia 60โ69 tahun dengan nilai tes memori dan kecepatan pemrosesan rendah berisiko stroke hingga 86% lebih tinggi.
- Kaitan ini diduga kuat akibat penyakit pembuluh darah kecil dan stroke senyap yang tidak terdeteksi, bukan semata proses penuaan.
- Para ahli menegaskan tes kognitif belum layak dijadikan skrining rutin stroke, tetapi membuka peluang integrasi dengan pencitraan dan biomarker di masa depan.

Kemampuan mengingat dan kecepatan berpikir yang menurun pada usia 60-an bukan sekadar keluhan lansia biasa. Sebuah studi observasional yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association menemukan bahwa orang berusia 60โ69 tahun dengan skor rendah pada tes kognitif tertentu memiliki risiko stroke hingga 86% lebih tinggi dibandingkan mereka dengan skor menengah.
Penelitian ini melibatkan 4.912 partisipan tanpa riwayat demensia, stroke, atau serangan iskemik transien. Dari jumlah tersebut, 3.094 orang berusia 60โ69 tahun. Setelah rata-rata pemantauan 12,3 tahun, 572 partisipan mengalami stroke. Yang menarik, kaitan signifikan hanya muncul pada kelompok usia 60-an, tidak pada partisipan berusia 70 tahun ke atas setelah disesuaikan dengan faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan seperti diabetes dan penyakit jantung iskemik.
Derk W Krieger, profesor neurologi dan konsultan neurolog di Re:Cognition Health, menilai temuan spesifik usia ini mencerminkan periode ketika penyakit serebrovaskular subklinis cukup prevalen untuk memengaruhi kognisi, sementara gangguan kognitif masih relatif sensitif terhadap cedera pembuluh darah otak. "Fungsi memori dan kecepatan pemrosesan sangat bergantung pada jaringan saraf dan materi putih yang rentan terhadap penyakit pembuluh kecil serta cedera serebrovaskular senyap," ujarnya kepada Medical News Today.
Sementara itu, Christopher Yi, ahli bedah vaskular bersertifikat di MemorialCare Orange Coast Medical Center, menambahkan bahwa infark serebral senyap dan penyakit pembuluh kecil dapat terjadi tanpa gejala stroke yang jelas namun tetap mengganggu fungsi kognitif. "Perubahan ini bisa menjadi penanda penyakit vaskular yang juga meningkatkan risiko stroke klinis di kemudian hari. Namun, studi ini tidak menggunakan MRI untuk mengonfirmasi mekanisme tersebut," jelas Yi.
Para peneliti menduga individu dengan skor kognitif rendah mungkin mengalami lebih banyak stroke senyapโserangan yang tidak menimbulkan gejala nyata. Faktor risiko bersama seperti hipertensi, diabetes, merokok, dan kurang aktivitas fisik dapat merusak pembuluh darah otak dan berkontribusi pada penurunan kognitif sekaligus stroke. Meski demikian, asosiasi tetap bertahan setelah penyesuaian faktor-faktor tersebut, menandakan ada mekanisme lain yang belum sepenuhnya dipahami.
"Tes kognitif belum bisa dianggap sebagai komponen rutin penilaian risiko stroke. Diperlukan replikasi, demonstrasi nilai prediktif di luar skor risiko vaskular yang sudah ada, dan bukti bahwa tindakan berdasarkan hasil tes kognitif memperbaiki luaran klinis," tegas Krieger.
Yi sepakat bahwa terlalu dini merekomendasikan tes kognitif khusus untuk prediksi stroke. "Ke depannya, tes ini mungkin paling berguna bila dikombinasikan dengan pencitraan atau biomarker lain," tambahnya. Ia menekankan bahwa kesehatan otak dan kesehatan vaskular saling terkait erat, namun studi ini hanya menunjukkan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat beban stroke yang terus meningkat. Data Riskesdas menunjukkan stroke sebagai penyebab kematian utama di Tanah Air, dengan prevalensi yang cenderung naik seiring bertambahnya usia. Deteksi dini melalui tes kognitif sederhana di puskesmas atau posyandu lansia bisa menjadi langkah awal yang murah, asalkan diikuti dengan pemeriksaan vaskular yang memadai. Sayangnya, akses MRI dan CT scan masih terbatas di daerah, sehingga skrining kognitif berisiko menjadi alat tanpa tindak lanjut.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah penurunan kognitif berkaitan dengan stroke, melainkan bagaimana mengintegrasikan temuan ini ke dalam protokol kesehatan masyarakat tanpa menimbulkan kecemasan berlebihan. Jika tes kognitif terbukti mampu memprediksi stroke melampaui faktor risiko klasik, maka ia bisa menjadi jembatan antara layanan kesehatan primer dan neurologi. Namun hingga bukti itu ada, kewaspadaan tetap pada tempatnya: jaga tekanan darah, kendalikan gula darah, dan jangan abaikan perubahan kecil pada daya ingat.



