Von der Leyen Sebut Rusia Terapkan 'Strategi Teror' di Ukraina, Uni Eropa Cairkan €1,24 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengecam serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina dan menuduh Moskow menjalankan strategi teror yang disengaja.
- Uni Eropa menggelontorkan dana segar €1,24 miliar untuk pengadaan drone dan rudal bagi Ukraina guna melindungi warga sipil dan infrastruktur vital.
- Von der Leyen menyerukan negara-negara lain untuk meningkatkan dukungan, sementara eskalasi konflik terus mengancam stabilitas global termasuk harga pangan dan energi di Indonesia.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menuding Rusia menerapkan “strategi teror yang disengaja” melalui gelombang serangan terbaru ke Ukraina. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pengumuman pencairan dana Uni Eropa senilai €1,24 miliar (sekitar Rp20,3 triliun) untuk pengadaan drone dan rudal bagi Kyiv.
Von der Leyen menegaskan bahwa serangan Moskow bertujuan melumpuhkan kehidupan sehari-hari warga Ukraina yang mendambakan perdamaian. “Rusia menjalankan strategi teror yang disengaja. Mereka berusaha membuat hidup tidak mungkin bagi orang Ukraina yang ingin hidup damai,” ujarnya, seperti dikutip dari pernyataan resmi. “Untuk melindungi rakyat dan infrastruktur, Eropa bergerak. Pihak lain harus meningkatkan dukungan mereka juga.”
Langkah Uni Eropa ini menandai eskalasi komitmen militer Barat di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Dana segar tersebut dialokasikan khusus untuk memperkuat pertahanan udara dan kemampuan serang Ukraina, yang selama ini menjadi sasaran empuk serangan rudal dan drone Rusia. Brussels tampaknya ingin memastikan bahwa bantuan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi langsung memperkuat posisi Kyiv di medan tempur.
Dalam konteks global, perang Rusia-Ukraina telah memicu gejolak pasar komoditas yang berdampak jauh hingga Asia Tenggara. Sebagai produsen dan importir pangan, Indonesia merasakan imbas kenaikan harga gandum, pupuk, dan energi yang berimbas pada inflasi domestik. Ketegangan yang berlarut-larut juga memaksa negara-negara berkembang untuk menyeimbangkan posisi diplomatik antara blok Barat dan Rusia, sambil menjaga stabilitas pasokan pangan dan energi nasional.
Analis kebijakan luar negeri menilai bahwa seruan von der Leyen kepada “pihak lain” merupakan sinyal bahwa Eropa tidak bisa menanggung beban perang sendirian. Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara G7 lainnya diharapkan mengikuti jejak Brussels. Namun, di tengah kelelahan geopolitik dan prioritas domestik masing-masing negara, konsistensi dukungan jangka panjang masih menjadi tanda tanya besar.
Bagi Ukraina, tambahan dana ini bisa menjadi oksigen bagi operasi militer yang kian intens. Namun, tanpa penyelesaian diplomatik, siklus eskalasi dan balasan berpotensi terus berlanjut. Masyarakat sipil di garis depan akan tetap menjadi pihak yang paling menanggung derita, sementara infrastruktur energi dan transportasi menjadi sasaran yang terus terancam.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa besar dana yang dikucurkan, tetapi seberapa efektif aliansi internasional dapat menekan Moskow untuk menghentikan agresi. Jika dukungan terus mengalir tanpa strategi keluar yang jelas, perang ini berisiko menjadi konflik beku berkepanjangan yang menguras sumber daya global—termasuk bagi negara-negara di belahan selatan yang tidak terlibat langsung.



