Asap Karhutla Lumpuhkan Penerbangan di Pekanbaru, Lion Air Kembali ke Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Dua penerbangan tujuan Pekanbaru gagal mendarat pada Rabu pagi akibat jarak pandang hanya 600 meter.
- BPBD Riau menegaskan asap berasal dari titik api di luar wilayah Riau, bukan dari kebakaran lokal.
- Warga dan anak-anak kembali terdampak, memicu kekhawatiran akan berulangnya pembelajaran daring.

Dua pesawat komersial tujuan Pekanbaru terpaksa membatalkan pendaratan pada Rabu (7/10) pagi setelah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menurunkan jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SKK) hingga 600 meter. Lion Air JT 292 rute JakartaโPekanbaru memilih kembali ke Bandara Soekarno-Hatta (Return to Base), sementara Citilink QG 936 dialihkan ke Bandara Hang Nadim, Batam.
Branch Communication & CSR Bandara SKK, Meta Harahap, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil demi keselamatan penerbangan. "Kondisi cuaca dengan jarak pandang sekitar 600 meter pada pukul 06.44 WIB memaksa Lion Air kembali ke Jakarta," ujarnya. Hingga pukul 08.20 WIB, visibilitas hanya meningkat tipis menjadi 800 meter. Sementara itu, Pelita Air IP 320 berhasil mendarat pada pukul 08.40 WIB setelah kondisi sedikit membaik.
Kepala Pelaksana BPBD Riau, Edy Afrizal, menegaskan bahwa asap yang menyelimuti Pekanbaru bukan berasal dari kebakaran di dalam provinsi. "Tidak ada titik api aktif di Riau. Asap ini kiriman dari daerah sekitar yang terbakar, dan telah bercampur dengan asap dari Sumatera serta Kalimantan," jelasnya. Ia menambahkan bahwa hampir seluruh wilayah Riau terdampak, termasuk Kuansing, Indragiri Hulu, dan Pelalawan.
Warga Pekanbaru merasakan langsung dampaknya. Halimi, seorang pengendara, mengeluh asap pagi ini jauh lebih pekat, terutama di kawasan Panam. "Anak-anak banyak yang batuk-batuk. Kami khawatir karena dalam dua bulan terakhir asap sudah beberapa kali pekat dan anak harus belajar daring," tuturnya. Kabut asap juga memaksa warga kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Edy Afrizal menjelaskan bahwa hujan sempat meredakan asap beberapa hari terakhir, tetapi setelah hujan reda, kabut kembali pekat karena titik api sumber asap belum padam. "Hujan hanya menghilangkan asap sementara. Begitu reda, asap datang lagi," katanya.
Insiden ini menyoroti kerentanan transportasi udara di kawasan yang rutin dilanda karhutla. Bandara SKK merupakan pintu masuk utama ke Riau, dan gangguan penerbangan dapat berdampak pada mobilitas ekonomi serta logistik. Pada 2019, asap karhutla juga menyebabkan pembatalan penerbangan dan penutupan sekolah di beberapa provinsi. Pemerintah daerah kini dituntut untuk memperkuat koordinasi lintas wilayah dalam menangani sumber asap yang berada di luar yurisdiksi mereka.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, potensi asap kembali mengepung Riau dalam beberapa pekan ke depan tetap tinggi. Pertanyaannya, apakah langkah mitigasi yang ada cukup untuk mencegah terulangnya gangguan penerbangan dan dampak kesehatan bagi warga?



