Hamza Abdelkarim: Dari Bangku Cadangan Al Ahly ke Ujung Tombak Barcelona
Baca dalam 60 detik
- Penyerang muda Mesir, Hamza Abdelkarim, menjadi pencetak gol terbanyak Barcelona pada pramusim dengan torehan empat gol dalam lima laga.
- Kontrak permanennya hingga 2029 dan minimnya stok striker utama membuat peluangnya tampil di LaLiga musim ini semakin terbuka.
- Kiprahnya diharapkan menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda Indonesia yang ingin menembus klub Eropa.

Kairo, 22 Agustus — Hamza Abdelkarim, pemain depan berusia 18 tahun asal Mesir, tiba-tiba menjadi sorotan di Barcelona. Pemain yang sebelumnya kesulitan menembus tim utama Al Ahly ini kini menjelma sebagai mesin gol di lini depan Blaugrana selama pramusim. Dengan torehan empat gol dalam lima laga uji coba, ia berpeluang besar mengisi posisi striker utama saat Barcelona memulai petualangan di LaLiga akhir pekan ini.
Perjalanan Abdelkarim tidaklah mulus. Sebelum direkrut Barcelona pada bursa transfer musim dingin lalu, ia lebih sering menghabiskan waktu di tim muda Al Ahly. Namun, penampilannya yang impresif bersama tim U-19 Barcelona—enam gol dalam sebelas pertandingan—membuat manajemen klub asal Katalunya itu langsung mengaktifkan opsi pembelian pada Juni lalu. Kontraknya kini terikat hingga 2029, sebuah sinyal kepercayaan jangka panjang dari klub.
Keputusan Barcelona untuk mengandalkan pemain muda ini tidak lepas dari situasi skuad. Kepergian Robert Lewandowski dan Ferran Torres membuat lini depan kehilangan sosok penyerang murni. Alih-alih memburu pemain mahal, pelatih Hansi Flick justru memberi kesempatan kepada Abdelkarim yang telah menunjukkan naluri gol tajam, kekuatan udara, dan kemampuan berkolaborasi dengan para winger. Penampilannya saat mencetak dua gol melawan tim asal Birmingham, serta gol cepat hanya dalam empat menit saat melawan Basel, menjadi bukti ketajamannya.
Meski begitu, perjalanan Abdelkarim tidak lepas dari keraguan. Sebelumnya, sebagian pengamat sepak bola Mesir meragukan kapasitasnya di level tertinggi. Namun, panggilan tim nasional Mesir untuk Piala Dunia 2025—meski hanya tampil sebagai pemain pengganti—menunjukkan bahwa kualitasnya diakui. Pelatih Hossam Hassan memuji fisik dan keberaniannya berduel dengan bek-bek senior. Pengalaman itu menjadi modal berharga sebelum ia kembali ke Barcelona dan tampil menonjol di pramusim.
Kisah Abdelkarim mengingatkan pada jejak Mohamed Salah, yang juga memulai karier dari liga domestik Mesir sebelum bersinar di Eropa. Abdelkarim sendiri mengaku banyak menimba ilmu dari Salah. "Salah selalu berbicara kepada saya. Saya harus memanfaatkan nasihatnya. Kita semua tahu apa yang dia capai bukanlah kebetulan. Dia adalah idola bagi semua orang Mesir," ujarnya kepada ONSport. Dukungan dari publik Mesir pun mengalir, berharap ia mampu mengikuti jejak Salah.
Bagi Indonesia, fenomena Abdelkarim menjadi cermin bahwa talenta muda dari liga yang tidak diunggulkan tetap bisa bersinar di panggung Eropa. Klub-klub seperti Barcelona kini berani memberi kepercayaan kepada pemain muda berbakat dengan harga terjangkau, alih-alih mengeluarkan dana besar. Hal ini membuka peluang bagi pesepak bola Indonesia yang kerap dianggap kurang kompetitif untuk mencoba peruntungan di Eropa, asalkan memiliki mentalitas dan etos kerja yang kuat.
Laga pembuka LaLiga melawan Elche pada akhir pekan ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Abdelkarim. Jika ia dipercaya menjadi starter, sorotan mata dunia akan tertuju padanya. Akankah ia mampu memanfaatkan peluang emas ini dan mengukir namanya di antara para legenda Barcelona? Atau justru tekanan akan membuatnya meredup? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Abdelkarim telah membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas.



