Mourinho Kecam Perlakuan Brutal Lawan ke Vinicius: 'Ini Bullying Berulang'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menuding lawan dan suporter kerap melakukan intimidasi berlebihan kepada Vinicius Jr, yang kembali menjadi sasaran tekel keras di laga pembuka LaLiga.
- Insiden di kandang Espanyol memicu kemarahan kubu Madrid, terutama karena wasit tak memberi kartu merah kepada Alex Calatrava yang kemudian mencetak gol penyeimbang.
- Kasus ini mengingatkan pada hukuman enam laga yang diterima Gianluca Prestianni musim lalu atas perilaku diskriminatif terhadap Vinicius, menyoroti pola perlakuan yang terus berulang.

BARCELONA โ Jose Mourinho angkat bicara keras setelah Vinicius Jr kembali menjadi sasaran perlakuan kasar di lapangan. Manajer Real Madrid itu menyebut sang winger Brasil kerap diintimidasi lawan dan suporter, sebuah pola yang menurutnya sudah berulang dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Pernyataan ini muncul usai Los Blancos menang 2-1 atas Espanyol pada laga perdana LaLiga, Sabtu (22/8) malam WIB.
Sejak menit kelima, tensi sudah memanas. Alex Calatrava menjatuhkan Vinicius dari belakang, lalu tampak menyentuhnya lagi saat pemain berusia 25 tahun itu sudah berada di tanah. Para pemain Madrid serentak meminta kartu merah, tetapi wasit memilih tidak memberi hukuman. Ironisnya, Calatrava justru menjadi pencetak gol penyeimbang Espanyol setelah Jude Bellingham membawa Madrid unggul lebih dulu. Kemenangan akhirnya dipastikan lewat gol Carlo Espi pada menit ke-90.
Mourinho, yang kembali menukangi Madrid musim ini, menilai perlakuan terhadap Vinicius sudah melampaui batas. "Vinicius bukan orang suci, tapi apa yang mereka lakukan padanya terlalu berlebihan. Sejak menit pertama. Ini pola yang berulang dari satu lawan ke lawan berikutnya," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Ia bahkan menggambarkan skenario yang kerap terjadi: "Saya kasih dia satu tekel, sekarang giliran kamu. Kalau saya dapat kartu kuning, kamu kasih dia satu. Kalau saya diganti, pemain lain masuk yang belum kena kartu, dan kamu kasih dia satu."
Pelatih asal Portugal itu juga menekankan pentingnya pengendalian emosi bagi Vinicius, yang kerap menjadi sasaran provokasi. "Dia harus punya kontrol emosi yang kuat. Saya sudah bilang, kalau dia mencetak gol, hati-hati dalam selebrasi," kata Mourinho. Ia menyayangkan bahwa di era yang menolak perundungan, Vinicius justru masih sering menjadi korban. "Kita harus mendidik dan menyiapkannya sebaik mungkin," tambahnya.
Kontroversi ini mengingatkan pada musim lalu, ketika Mourinho masih menukangi Benfica. Saat itu, Vinicius menjadi sasaran pelecehan diskriminatif oleh Gianluca Prestianni dalam laga Liga Champions melawan Real Madrid. UEFA kemudian menjatuhkan sanksi enam pertandingan kepada Prestianni karena dianggap melakukan tindakan homofobik. Namun, Mourinho justru membela pemainnya kala itu, dengan alasan Vinicius memprovokasi penonton lewat selebrasinya dan Benfica bukan klub rasis karena Eusebio, pemain terbaiknya, juga berkulit hitam. Sikap itu memicu kritik luas.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap pemain dari perlakuan diskriminatif masih menjadi pekerjaan rumah di banyak liga. Di Indonesia, isu rasisme dan perundungan di lapangan juga pernah mencuat, meski sanksi yang dijatuhkan seringkali tidak konsisten. Federasi dan klub perlu belajar dari kasus Vinicius bahwa penegakan aturan yang tegas adalah kunci untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang aman dan adil.
Mourinho, yang dikenal dengan gaya manajemen emosional, kini dihadapkan pada tantangan menjaga performa Vinicius tanpa memicu kontroversi lebih lanjut. Pertanyaannya, apakah wasit dan otoritas liga akan lebih proaktif melindungi pemain bintang seperti Vinicius? Atau akankah pola perundungan ini terus berulang, menguji kesabaran pemain dan pelatih? Musim ini akan menjadi ujian nyata bagi komitmen LaLiga dalam memberantas diskriminasi di lapangan hijau.



