Prabowo Kerahkan 1.500 Personel TNI dan 6 Helikopter untuk Padamkan Karhutla di Kalbar
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menambah 1.500 personel TNI dari luar Kalimantan untuk memperkuat pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.
- Enam helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca disiagakan untuk mempercepat penanganan dari udara.
- Presiden Prabowo langsung meninjau lokasi terdampak di Kubu Raya untuk memastikan koordinasi lapangan berjalan efektif.

Pemerintah pusat bergerak cepat menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Barat dengan mengerahkan tambahan 1.500 personel TNI serta enam helikopter berkapasitas besar untuk operasi water bombing. Langkah ini diumumkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya setelah Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di Pangkalan TNI AU Supadio, Sabtu (22/8).
Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya titik api yang mengancam pemukiman dan lahan produktif di sejumlah kabupaten. Dalam rapat yang berlangsung singkat itu, Presiden menekankan perlunya respons cepat dan terkoordinasi, tidak hanya dari aparat di lapangan tetapi juga dukungan logistik dari luar daerah. Tiga batalyon TNI yang didatangkan dijadwalkan tiba secara bertahap mulai hari ini hingga Minggu pagi, memperkuat personel yang telah bertugas di lokasi.
Selain penambahan personel darat, pemerintah menyiapkan enam helikopter water bombing yang dijadwalkan tiba Sabtu sore. Armada udara ini diharapkan mampu menjangkau area yang sulit diakses pasukan darat, terutama lahan gambut yang rawan api membara di bawah permukaan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga akan diperluas, dengan memanfaatkan potensi hujan yang diprediksi turun di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari ke depan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemadaman sekaligus mencegah meluasnya karhutla yang kerap memicu kabut asap lintas batas. Sebelumnya, Presiden Prabowo juga meminta pemetaan kondisi karhutla secara nyata agar penanganan tepat sasaran. Setelah rapat, Kepala Negara langsung meninjau Desa Limbung di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, untuk melihat langsung lahan yang masih terbakar dan memastikan operasi di lapangan berjalan sesuai rencana.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana ekologis, tetapi juga persoalan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas penerbangan, sekolah, dan meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, kebakaran lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, memperburuk citra Indonesia di mata internasional terkait komitmen pengendalian perubahan iklim.
Menurut pengamat kebencanaan dari Universitas Indonesia, efektivitas penanganan karhutla sangat bergantung pada kecepatan mobilisasi sumber daya dan akurasi data titik api. Penambahan personel dan armada udara kali ini menunjukkan keseriusan pemerintah, namun tantangan terbesar adalah memastikan koordinasi antara TNI, Polri, BNPB, dan pemerintah daerah berjalan mulus. Kegagalan koordinasi sering kali menjadi penyebab utama meluasnya kebakaran di masa lalu.
Ke depan, pemerintah perlu mempertimbangkan solusi jangka panjang, seperti restorasi gambut dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Pertanyaan yang muncul: apakah langkah darurat ini akan diikuti kebijakan preventif yang berkelanjutan, atau hanya menjadi respons musiman saat kabut asap kembali mengganggu? Masyarakat Kalimantan Barat, yang setiap tahun menghadapi ancaman yang sama, tentu berharap ada perubahan paradigma dari pemadaman ke pencegahan.



