Bitcoin Bertahan di $86.000, Sinyal Bearish Mengintai di Bawah $84.000
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin diperdagangkan tipis di atas $86.000, gagal menembus $87.000 setelah tekanan jual ketiga sejak 23 September.
- Analis FxPro memperingatkan penurunan di bawah $84.000 akan menguntungkan kubu bearish dan membuka peluang koreksi ke $80.000.
- Pasar obligasi global mereda setelah yield Treasury AS turun dari level tertinggi sejak 2002, memberi ruang napas sementara bagi aset kripto.

Bitcoin kembali gagal mempertahankan momentum bullishnya setelah sempat menyentuh $87.000 pada Senin, sebelum terseret tekanan jual yang ketiga kalinya sejak 23 September. Pada perdagangan Selasa pagi, mata uang kripto utama ini bertahan tipis di atas $86.000, turun 0,2% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan tersebut menandai upaya ketiga bulls menembus resistensi psikologis $87.000 yang selalu berakhir dengan aksi ambil untung.
Menurut data CoinDesk, ZEC memimpin penguatan di antara aset kripto berkapitalisasi besar dengan kenaikan hampir 2% ke sekitar $1.360. Sebaliknya, DOGE menjadi yang terlemah setelah terkoreksi nyaris 2%. SOL turun 1%, sementara ether, XRP, dan BNB masing-masing melemah kurang dari 1%. Pola ini menunjukkan rotasi dana yang terbatas di pasar kripto, dengan investor cenderung memindahkan posisi ke aset yang dianggap memiliki katalis jangka pendek.
FxPro, firma analis pasar keuangan, mencatat bitcoin sempat merosot ke $85.200 sebelum sesi Eropa dibuka. Meski demikian, harga masih bertahan di area atas rentang perdagangan dua pekan terakhir. Yang menjadi perhatian, rangkaian higher low yang terbentuk sejak awal pekan lalu mulai terancam. "Penembusan di bawah $84.000 akan menjadi kemenangan bagi bears," ujar FxPro, merujuk pada trader yang bertaruh pada penurunan harga. Jika level tersebut jebol, menurut FxPro, penurunan lebih lanjut melewati titik terendah terakhir di sekitar $83.000 akan mengonfirmasi pergeseran sentimen dan berpotensi mengirim bitcoin ke $80.000 dalam waktu relatif singkat.
Di sisi lain, pasar obligasi global memberikan sedikit kelegaan. Yield Treasury AS turun dari level tertinggi sejak 2002 seiring harga minyak yang melemah di bawah $100 per barel. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian belanja akan "sangat cepat" mulai memperlambat laju pinjaman pemerintah. Pernyataan ini menghentikan sementara aksi jual obligasi global yang dipicu kekhawatiran inflasi akibat perang AS-Iran dan ekspektasi bahwa The Fed akan terus memperketat kebijakan moneter.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi berlapis. Pelemahan yield obligasi AS biasanya mendorong aliran modal kembali ke aset berisiko, termasuk kripto dan pasar negara berkembang. Namun, ketidakpastian arah kebijakan The Fed masih menjadi faktor dominan. Risalah rapat The Fed yang dijadwalkan rilis Rabu akan menjadi katalis penting yang bisa menentukan apakah bitcoin mampu mempertahankan level $86.000 atau justru terperosok ke bawah $84.000. Pelaku pasar kripto domestik perlu mencermati respons pasar obligasi, karena korelasi antara yield dan aset digital cenderung menguat dalam periode volatilitas tinggi seperti sekarang.
Dengan tekanan jual yang berulang di sekitar $87.000 dan support tipis di $84.000, pertanyaannya kini apakah bulls mampu mempertahankan struktur higher low, atau justru menjadi titik balik menuju koreksi lebih dalam. Semua mata tertuju pada risalah The Fed dan bagaimana pasar obligasi bereaksi terhadap sinyal kebijakan berikutnya.



