Senyawa Alami dari Buah Delima Berpotensi Perbaiki Fungsi Jantung pada Gagal Jantung HFpEF
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru menunjukkan urolithin A, metabolit dari ellagitannin, mampu meningkatkan relaksasi otot jantung pada model hewan dan jaringan manusia.
- Temuan ini membuka peluang terapi baru untuk HFpEF, kondisi yang mencakup separuh kasus gagal jantung global.
- Para ahli menekankan pentingnya uji klinis pada manusia sebelum rekomendasi diet atau suplemen dapat diberikan.

Sekitar 64 juta orang di dunia hidup dengan gagal jantung, dan setengahnya menderita tipe HFpEF—kondisi di mana otot jantung kaku sehingga sulit rileks dan mengisi darah. Kini, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menemukan bahwa urolithin A, senyawa alami yang dihasilkan mikrobioma usus dari makanan seperti delima, beri, dan kenari, berpotensi memperbaiki fungsi jantung pada penderita HFpEF.
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan di King's College London ini menguji efek urolithin A pada model hewan dan jaringan jantung manusia yang direkayasa dari sel punca. Hasilnya, fungsi jantung pada hewan yang diberi senyawa ini membaik hingga 80 persen dibandingkan kelompok kontrol. Pada jaringan manusia, urolithin A secara signifikan meningkatkan relaksasi jaringan otot jantung.
HFpEF, atau gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang dipertahankan, sering kali sulit diobati karena terapi yang ada belum menyentuh akar masalah seperti kekakuan otot jantung. Joseph Burgoyne, penulis senior studi ini, menjelaskan bahwa timnya menyaring senyawa alami untuk menemukan molekul yang menargetkan protein PKG1alpha, yang berperan penting dalam relaksasi otot jantung. Urolithin A muncul sebagai kandidat kuat.
“Kami menyaring senyawa alami untuk mengidentifikasi molekul yang dapat menargetkan protein PKG1alpha, yang berperan penting dalam membantu otot jantung rileks. Melalui proses penyaringan ini, kami mengidentifikasi urolithin A, senyawa yang diproduksi tubuh setelah mengonsumsi makanan seperti delima, kenari, dan beberapa buah beri.” — Joseph Burgoyne, PhD
Temuan ini disambut positif oleh para ahli jantung. Kevin Shah, direktur program Heart Failure Outreach di MemorialCare Heart & Vascular Institute, menyebut studi ini menarik karena mengidentifikasi target terapi baru. Namun, ia mengingatkan bahwa uji klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya. “Kami perlu studi klinis untuk menerjemahkan ini ke pasien,” ujarnya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi gagal jantung yang terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Makanan seperti delima, beri, dan kenari sebenarnya mudah ditemukan di pasar tradisional maupun modern. Namun, para ahli mengingatkan bahwa mengonsumsi buah-buahan ini bukan berarti otomatis menyembuhkan HFpEF. Monique Richard, ahli gizi terdaftar, menekankan bahwa urolithin A bukan sekadar nutrisi yang dimakan langsung, melainkan metabolit yang dihasilkan mikrobioma usus dari prekursor ellagitannin.
“Ini bukan cerita tentang makan lebih banyak urolithin A; ini cerita tentang apa yang terjadi ketika makanan nabati berkualitas tinggi berinteraksi dengan mikrobioma kita,” jelas Richard. Ia menambahkan bahwa pola makan kaya serat dan polifenol, seperti yang terdapat dalam buah dan sayur, dapat mendukung kesehatan jantung secara holistik. “Terkadang intervensinya sederhana: makan beragam tanaman secara konsisten, beri makan mikrobioma, gerakkan tubuh, tidur berkualitas, dan minum obat sesuai resep,” sarannya.
Ke depan, para peneliti berencana melakukan uji klinis untuk melihat apakah manfaat urolithin A dapat dirasakan langsung oleh pasien HFpEF. Pertanyaan besarnya, akankah senyawa alami ini menjadi terapi tambahan yang efektif di samping pengobatan konvensional? Atau justru memunculkan rekomendasi diet baru bagi penderita gagal jantung? Jawabannya masih menunggu penelitian lebih lanjut, namun temuan ini membuka harapan baru bagi jutaan penderita di seluruh dunia.


