Kanker Usia Muda Meningkat Tajam di Inggris, AS, dan Belanda: Alarm Gaya Hidup Global
Baca dalam 60 detik
- Studi internasional menemukan lonjakan signifikan kanker pada orang di bawah 50 tahun di Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda, dengan kanker prostat di Inggris melonjak empat kali lipat sejak 2001.
- Faktor risiko seperti obesitas, pola makan buruk, kurang aktivitas, alkohol, dan paparan lingkungan diduga berperan, meski deteksi dini yang lebih baik juga meningkatkan angka diagnosis.
- Pemerintah Inggris meluncurkan uji coba 250.000 orang untuk meneliti kanker usus pada dewasa muda, sementara para ahli menyerukan tindakan pencegahan segera untuk menghindari ledakan kasus di masa depan.

Lonjakan kasus kanker di kalangan orang berusia di bawah 50 tahun di Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda memicu kekhawatiran global. Penelitian terbaru World Cancer Research Fund (WCRF) menemukan peningkatan signifikan pada tujuh jenis kanker di Inggris, lima di AS, dan empat di Belanda, dengan kanker prostat pada pria muda Inggris melonjak dari 1 menjadi 3,6 per 100.000 orang antara 2001 dan 2023.
Analisis data resmi ketiga negara itu mengungkap bahwa kanker usus, ginjal, dan rahim pada kelompok usia muda di Inggris lebih dari dua kali lipat dalam periode yang sama. Di AS, kanker ginjal pada kelompok di bawah 50 tahun meningkat dari 2,5 menjadi 5,3 per 100.000 orang, sementara kanker usus, rahim, dan pankreas naik lebih dari 50 persen. Belanda mencatat kenaikan serupa pada kanker usus, ginjal, hati, dan serviks.
Meski kanker pada usia muda masih tergolong jarangโusia median diagnosis di atas 60 tahunโtren ini dinilai mengkhawatirkan. Profesor Mark Lawler dari Queen's University Belfast menyebutnya sebagai "bom waktu yang harus segera dijinakkan, jika tidak angka ini akan terus tumbuh." Ia menambahkan bahwa tren keseluruhan sangat memprihatinkan karena berkaitan dengan faktor gaya hidup yang menyumbang ribuan kematian setiap tahun.
Para ahli menduga kenaikan ini dipicu oleh epidemi obesitas global, konsumsi makanan olahan, kurangnya aktivitas fisik, alkohol, rokok, serta paparan polutan dan bahan kimia. Dr Giota Mitrou dari WCRF menegaskan bahwa di balik setiap angka ada individu yang menghadapi kanker lebih awal dari yang diperkirakan. "Pola yang berubah pada generasi muda ini harus menjadi prioritas penelitian dan pencegahan kanker," ujarnya.
"Kami belum sepenuhnya memahami mengapa lebih banyak kanker terjadi pada orang di bawah 50 tahun, namun faktor risiko seperti kelebihan berat badan, pola makan, alkohol, dan merokok kemungkinan berperan. Di sisi lain, kesadaran publik yang meningkat membuat lebih banyak orang mencari perawatan dini." โ Dr Vanessa Gordon-Dseagu, WCRF
Meski diagnosis dini meningkat, Gordon-Dseagu menekankan bahwa deteksi yang lebih baik tidak menjelaskan seluruh fenomena. King's College London pun meluncurkan uji coba terhadap 250.000 orang, didanai Cancer Research UK, untuk menyelidiki lonjakan kanker usus pada dewasa muda. Studi ini akan mencari keseimbangan antara faktor risiko yang memburuk dan deteksi yang lebih baik.
Pemerintah Inggris melalui Department of Health and Social Care menyatakan temuan ini memperkuat pentingnya diagnosis dini dalam rencana kanker nasional. Mereka berinvestasi pada teknologi baru untuk mempercepat diagnosis, memperluas tes genetik, dan mendukung penelitian penyebab kanker. Targetnya, tiga perempat pasien yang didiagnosis pada 2035 dapat bebas kanker atau hidup baik dengan kanker, menyelamatkan 320.000 nyawa.
Fenomena ini juga relevan bagi Indonesia. Dengan prevalensi obesitas dan konsumsi makanan ultra-proses yang meningkat, serta cakupan skrining kanker yang masih rendah, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan serupa jika tidak ada intervensi dini. Kesadaran akan gejala kanker dan akses layanan kesehatan yang merata menjadi kunci untuk menekan angka diagnosis terlambat.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat angka ini naik, tetapi seberapa cepat negara-negara mampu mengubah gaya hidup warganya dan memperkuat sistem deteksi dini. Tanpa langkah konkret, ledakan kanker usia muda bisa menjadi beban kesehatan global yang tak terhindarkan.



