Kecoa di Rumah Kontrakan: Kisah Horor yang Mengubah Cara Pandang Seseorang
Baca dalam 60 detik
- Seorang penulis mengenang pengalaman tinggal di rumah kontrakan di Manchester yang dipenuhi ribuan kecoa selama masa kuliah.
- Infestasi kecoa Jerman dapat berkembang biak dari dua ekor menjadi dua juta dalam dua tahun, dan mereka tahan hidup tanpa kepala selama berhari-hari.
- Fobia kecoa yang dialami penulis justru membuatnya lebih tangguh menghadapi hama lain seperti kutu rambut dan skabies.

Bayangkan menandatangani kontrak sewa rumah tanpa tahu bahwa properti tersebut sudah lama menjadi sarang ribuan kecoa. Itulah yang dialami seorang penulis yang kini tinggal di Inggris, saat ia dan teman-temannya menyewa rumah di Longsight, Manchester, pada era 1980-an. Pemilik rumah sengaja menyembunyikan fakta bahwa rumah itu terinfestasi hama, dengan alasan penghuni sebelumnya sedang menempuh ujian akhir dan tidak boleh diganggu.
Kecoa Jerman, spesies yang umum ditemukan di rumah, adalah mesin reproduksi yang luar biasa. Menurut data entomologi, dua ekor kecoa Jerman yang bersembunyi di celah sempit di belakang lemari es dapat berkembang biak menjadi dua juta ekor hanya dalam waktu dua tahun. Mereka mampu memakan apa saja—sampah, bangkai, kulit mati, bahkan manusia yang sedang tidur. Yang lebih mengerikan, kecoa dapat bertahan hidup selama berhari-hari tanpa kepala karena sistem saraf mereka tidak terpusat di otak.
Pengalaman pertama melihat kecoa terjadi tepat setelah mereka pindah. Seorang teman sekamar sedang duduk di kursi besar ketika seekor kecoa muncul di belakang bahunya, seperti tokoh antagonis dalam pantomim. Mereka berteriak dan menunjuk sementara kecoa itu merayap perlahan ke arah mereka—besar, mengkilap, berminyak, dengan antena bergerak-gerak. Kejadian itu berlangsung di siang bolong, padahal kecoa biasanya aktif di malam hari. Ini menandakan bahwa populasi mereka sudah sangat padat sehingga ruang persembunyian normal tidak lagi mencukupi.
Meskipun menyadari betapa buruknya situasi, para penghuni memilih bertahan. Mereka bahkan meletakkan setiap kaki tempat tidur di dalam panci berisi air agar kecoa yang mencoba naik akan tenggelam. Namun, pengetahuan modern mengungkap bahwa kecoa dapat menutup katup pernapasan dan bertahan terendam hingga setengah jam. Pest control berseragam hazmat datang rutin menyemprotkan bubuk putih ke seluruh ruangan. Satu-satunya efek samping positif adalah kutil di kaki salah satu teman sekamar yang sudah tiga tahun tidak sembuh akhirnya hilang karena bahan kimia tersebut.
"Saya masih memimpikan mereka kadang-kadang. Saya memiliki fobia kecoa seumur hidup—katsaridaphobia—yang menurut saya sangat masuk akal. Tapi itu juga membuat saya lebih tangguh."
Fobia terhadap kecoa, atau katsaridaphobia, memang dialami banyak orang. Namun, bagi penulis, pengalaman itu justru menjadi semacam terapi kejut yang membuatnya lebih siap menghadapi hama lain. Tikus? Kutu rambut? Cacing kremi? Skabies? Semua pernah dialaminya saat membesarkan keluarga. Namun, ia selalu berkata, "Setidaknya bukan kecoa." Selama hama itu tidak berlilin, tidak renyah, tidak berantena, tidak berminyak, dan tidak berbau menyengat, ia masih bisa mengatasinya.
Kisah ini bukan sekadar nostalgia kelam. Di Indonesia, masalah kecoa di rumah kontrakan dan apartemen sewaan juga kerap terjadi, terutama di kota-kota besar dengan sanitasi yang buruk. Banyak pemilik properti yang enggan mengungkapkan kondisi sebenarnya kepada calon penyewa. Kesadaran akan pentingnya inspeksi hama sebelum menandatangani kontrak sewa masih rendah. Padahal, infestasi kecoa tidak hanya menjijikkan tetapi juga berpotensi menyebarkan penyakit seperti salmonella dan E. coli.
Ke depan, regulasi yang mewajibkan pemilik properti mengungkapkan riwayat hama di rumah sewaan mungkin perlu dipertimbangkan. Di sisi lain, penyewa juga perlu lebih proaktif memeriksa celah-celah tersembunyi, terutama di dapur dan kamar mandi, sebelum memutuskan untuk tinggal. Apakah Anda yakin rumah kontrakan Anda bebas kecoa?



