AI Bisa Picu Inflasi Jangka Pendek, Bank Sentral Swiss Waspada
Baca dalam 60 detik
- Anggota dewan gubernur SNB, Petra Tschudin, menyatakan investasi AI dapat mengalihkan arus modal dan memicu kelangkaan pasokan, mendorong kenaikan harga dalam jangka pendek.
- Meski berpotensi menekan inflasi lewat produktivitas, efek deflasi tersebut tidak otomatis terjadi dan bergantung pada keberlanjutan penurunan harga secara tahunan.
- Bank sentral global, termasuk IMF, mulai mempertimbangkan dampak AI pada kebijakan moneter, dengan SNB menegaskan proyeksi inflasi bersifat kondisional dan tidak mengikat suku bunga.

Artificial intelligence (AI) berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek, meskipun dampak keseluruhannya terhadap perekonomian masih belum pasti. Pernyataan ini disampaikan oleh anggota dewan gubernur Bank Sentral Swiss (SNB), Petra Tschudin, dalam wawancara dengan surat kabar Finanz und Wirtschaft yang terbit Jumat lalu. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor, yang menurut Tschudin dapat mengganggu rantai pasok dan mengalihkan arus investasi.
Menurut Tschudin, investasi yang mengalir ke pengembangan AI sering kali mengorbankan sektor lain, menciptakan ketidakseimbangan ekonomi. "Arus investasi sebagian dialihkan, yang dapat menyebabkan penyesuaian dan kesulitan bagi perekonomian lainnya," ujarnya. Contoh nyata adalah kelangkaan chip semikonduktor yang memicu kenaikan harga komponen elektronik. Dalam jangka pendek hingga menengah, tekanan inflasi seperti ini bisa meningkat, ujar Tschudin.
Namun, dalam jangka panjang, AI juga berpotensi menurunkan harga melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi. Tschudin mengakui bahwa teknologi ini dapat membuat barang menjadi lebih murah. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa efek deflasi tersebut tidak otomatis terjadi. Karena inflasi dihitung secara tahunan, penurunan harga harus berulang secara konsisten agar berdampak signifikan pada indeks harga konsumen. "Apakah itu realistis? Peningkatan produktivitas bukanlah fenomena baru. Itu tidak dengan sendirinya membawa ekonomi ke deflasi struktural," tegasnya.
Peringatan serupa juga disampaikan oleh ekonom kepala baru IMF, Silvana Tenreyro, dalam riset yang dipublikasikan staf Bank of England pekan lalu. Tenreyro menilai bahwa meskipun AI dapat meningkatkan produktivitas, belum tentu menurunkan inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang dampak AI terhadap stabilitas harga mulai menjadi perhatian serius di kalangan bank sentral global.
Dalam proyeksi terbarunya, SNB memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran target 0โ2% hingga kuartal pertama 2029. Namun, Tschudin menegaskan bahwa proyeksi ini bukanlah jaminan bahwa suku bunga tidak akan berubah. "Proyeksi inflasi kondisional tidak boleh dipahami bahwa suku bunga akan tetap pada level saat ini selama tiga tahun. Kami tidak mempublikasikan perkiraan suku bunga," jelasnya. Jika ada informasi baru yang relevan tentang inflasi, SNB siap menyesuaikan kebijakan moneternya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran penting. Bank Indonesia (BI) juga menghadapi tantangan serupa dalam mengelola inflasi di tengah digitalisasi dan adopsi AI yang semakin masif. Meskipun BI memiliki bauran kebijakan yang berbeda, sinyal dari SNB menunjukkan bahwa bank sentral harus tetap waspada terhadap dampak tidak langsung teknologi terhadap harga. Investasi AI yang mengalir deras ke sektor teknologi, misalnya, dapat memicu kelangkaan komponen tertentu dan mendorong imported inflation, terutama jika Indonesia bergantung pada impor barang modal.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bank sentral di negara berkembang, termasuk Indonesia, akan merespons dinamika ini. Apakah mereka akan mengadopsi pendekatan serupa dengan SNB yang menekankan fleksibilitas kebijakan, atau justru memilih untuk lebih preemptif? Yang jelas, AI bukan lagi sekadar isu teknologi, tetapi juga isu makroekonomi yang memengaruhi stabilitas harga dan daya beli masyarakat.



