Trump Kembali Menggoda Kim Jong Un: Latihan Militer Dipangkas, Diplomasi Personal Diuji
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS memangkas durasi latihan militer bersama Korea Selatan dari 11 hari menjadi 5 hari, sambil mengisyaratkan pertemuan baru dengan pemimpin Korea Utara.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Trump meraih kemenangan diplomasi di tengah kebuntuan isu Iran, sekaligus membuka ruang negosiasi dengan Pyongyang yang kini lebih percaya diri berkat dukungan Rusia.
- Keputusan sepihak Washington memicu kekhawatiran di antara sekutu Asia, termasuk Jepang, tentang keandalan AS di kawasan, sementara Korea Selatan mengaku tidak diberitahu sebelumnya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan memangkas durasi latihan militer gabungan dengan Korea Selatan, Ulchi Freedom Shield, dari 11 hari menjadi hanya lima hari. Keputusan yang diumumkan sehari sebelum latihan dimulai itu langsung dikaitkan dengan rencananya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam waktu dekat. Langkah ini bukan sekadar pengurangan rutinitas militer, melainkan sinyal politik yang menggambarkan strategi diplomasi personal Trump yang kontroversial.
Trump beralasan pemangkasan itu didasari hubungan baiknya dengan Kim serta kekecewaannya terhadap Seoul yang enggan mendukung operasi militer AS di Iran. "Kami punya 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tapi kalian tidak mau membantu operasi militer yang mudah di Iran. Itu aneh," ujarnya kepada wartawan. Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, menilai pernyataan Trump merupakan tekanan terhadap Seoul dalam sejumlah isu, termasuk investasi di AS, sekaligus pesan untuk Pyongyang dan upaya memecah kebuntuan perang di Iran.
Para analis melihat ada perhitungan lebih luas di balik keputusan ini. Dr. Nah Liang Tuang dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) berpendapat, "Rekam jejak kebijakan luar negeri Trump pada masa jabatan kedua ini biasa-biasa saja atau tidak berhasil. Saya menduga dia mencoba membuka peluang diplomasi dengan Korea Utara agar punya keberhasilan sebelum pemilihan paruh waktu November." Ini mengingatkan pada 2018, ketika Trump menangguhkan latihan militer besar setelah pertemuan pertamanya dengan Kim, dengan alasan biaya dan provokasi. Kini, ia kembali menggunakan latihan militer sebagai alat tawar-menawar.
Langkah Trump juga berpotensi menjauhkan Korea Utara dari Rusia. Sejak invasi Moskow ke Ukraina, Pyongyang telah memperdalam kerja sama militer, memasok senjata dan pasukan. Namun, Dr. Victor Cha dari CSIS menambahkan, "Trump mungkin juga ingin mengalihkan pemberitaan dari Iran ke hal lain." Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, dua hari sebelum pengumuman Trump, mengusulkan perundingan damai formal dengan Pyongyang untuk menggantikan gencatan senjata Perang Korea. Ini menciptakan tumpang tindih kepentingan antara Seoul dan Washington, meski Menteri Luar Negeri Korea Selatan menegaskan pemerintahnya tidak diberitahu sebelumnya tentang rencana pemangkasan latihan.
Keputusan Trump ini juga beririsan dengan keinginan Lee untuk memperbesar kendali independen atas militer Korea Selatan. Saat ini, Seoul memegang kendali operasional masa damai, sementara AS mengambil alih saat perang. Dr. Jaehan Park dari RSIS menilai, "Hal-hal ini saling bertemu menciptakan momentum di mana Trump mengusulkan sesuatu, dan Seoul mungkin punya insentif untuk ikut serta." Namun, ia mengingatkan bahwa ini bukan berarti kedua negara berkoordinasi penuh.
Korea Utara sendiri merespons dingin. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara, mengaku "tidak tahu sama sekali" tentang klaim komunikasi dari Trump, dan tetap menganggap latihan militer itu provokatif. Ia bahkan meluncurkan rudal pada hari Kamis. Namun, ia mengakui hubungan pribadi kakaknya dengan Trump masih "sangat baik". Dr. Park menilai hubungan personal ini bisa membantu, tetapi ia meragukan terobosan besar. "Saya tidak yakin realistis untuk mengharapkan banyak kemajuan dalam hubungan AS-Korea Utara," katanya, merujuk pada kegagalan diplomasi nuklir sebelumnya.
Bagi Kim, pertemuan di luar Korea Utara berisiko tinggi. "Jika dia ingin melakukan perjalanan ke luar negeri, logistiknya sangat rumit. Dan jika tidak ada pencapaian signifikan, itu akan merugikan secara politik," ujar Park. Meski demikian, Dr. Cha berpendapat Pyongyang mungkin belajar dari konflik AS-Iran bahwa menjaga kontak dengan Trump berguna untuk mengelola presiden yang tidak terduga. Bagi Kim, pertemuan baru bisa menjadi ajang pengakuan status negara nuklir tanpa negosiasi denuklirisasi yang rumit.
Keputusan sepihak Trump ini juga memicu kekhawatiran di antara sekutu AS di Asia. Dr. Nah menilai negara-negara Asia Timur mungkin harus lebih mandiri dalam keamanan nasional, terutama selama Trump dan gerakan MAGA berpengaruh. Dr. Park menambahkan, perdebatan serupa sudah muncul di Jepang tentang bagaimana merespons jika Washington kurang dapat diandalkan. "Pemicunya adalah apa yang terjadi dengan aliansi AS-Korea," katanya. Perubahan besar dalam struktur komando militer dapat mengubah arsitektur keamanan kawasan.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan dalam konteks rivalitas AS-China yang semakin tajam. Jakarta perlu mencermati bagaimana komitmen AS terhadap sekutunya di Asia Timur dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik, terutama terkait kebijakan luar negeri bebas-aktif dan posisi di tengah persaingan besar. Stabilitas Semenanjung Korea juga berdampak pada rantai pasok global dan keamanan maritim yang menjadi perhatian utama Indonesia.
Pada akhirnya, pemangkasan latihan militer ini lebih penting sebagai simbol daripada sekadar enam hari pelatihan yang hilang. Trump sekali lagi menguji apakah hubungan personal dengan Kim dapat membuka pintu diplomasi. Namun, dengan perbedaan tujuan fundamental antara Washington dan Pyongyang, serta meningkatnya posisi tawar Korea Utara berkat Rusia dan China, pertanyaannya adalah: mampukah diplomasi personal mengatasi kebuntuan yang telah berlangsung puluhan tahun?



