Studi: Pola Makan Kaya Antioksidan Berkaitan dengan Penurunan Risiko Kanker Serviks
Baca dalam 60 detik
- Analisis data NHANES menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit skor indeks antioksidan diet berkaitan dengan penurunan odds riwayat kanker serviks sebesar 11,4%.
- Partisipan dengan asupan antioksidan tertinggi memiliki odds lebih rendah sekitar 56% dibandingkan kelompok terendah, setelah mengontrol faktor perancu.
- Para ahli mengingatkan bahwa temuan ini bersifat observasional dan tidak membuktikan sebab-akibat; vaksinasi HPV dan skrining tetap menjadi pilar pencegahan utama.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Gynecology & Obstetrics menemukan kaitan antara pola makan kaya antioksidan dengan penurunan prevalensi kanker serviks. Dengan menganalisis data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), para peneliti mengamati bahwa semakin tinggi skor Composite Dietary Antioxidant Index (CDAI), semakin rendah kemungkinan seseorang memiliki riwayat penyakit tersebut.
Kanker serviks, yang terutama dipicu oleh infeksi persisten human papillomavirus (HPV) berisiko tinggi, masih menjadi beban kesehatan global yang serius. Meski di Amerika Serikat kasusnya relatif jarang, penyakit ini merupakan salah satu kanker paling umum pada perempuan di dunia, khususnya di negara berpendapatan rendah. Data global mencatat lebih dari 600 ribu kasus baru dan sekitar 342 ribu kematian akibat kanker serviks pada tahun 2020.
Dalam studi ini, peneliti melibatkan 1.044 partisipan, terdiri dari 174 perempuan dengan riwayat kanker serviks yang dilaporkan sendiri dan 870 kontrol yang cocok. Asupan makanan dinilai melalui dua wawancara recall 24 jam yang tidak berurutan, lalu dihitung skor CDAI berdasarkan enam komponen antioksidan. Setelah memperhitungkan faktor usia, ras, pendapatan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan indeks massa tubuh, ditemukan bahwa setiap kenaikan satu unit skor CDAI berhubungan dengan penurunan odds riwayat kanker serviks sebesar 11,4%. Partisipan dengan asupan antioksidan tertinggi bahkan memiliki odds sekitar 56% lebih rendah dibandingkan kelompok terendah.
Para penulis studi menduga bahwa antioksidan dapat memengaruhi stres oksidatif, peradangan, dan respons imun, yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. Namun, mereka menegaskan bahwa temuan ini tidak membuktikan bahwa asupan antioksidan mencegah kanker serviks. Desain studi yang bersifat cross-sectional membuat peneliti tidak dapat memastikan apakah pola makan memengaruhi perkembangan kanker atau justru partisipan mengubah diet setelah diagnosis. Selain itu, diagnosis yang dilaporkan sendiri tanpa informasi stadium juga menjadi keterbatasan.
Menanggapi temuan ini, Jagdish Khubchandani, profesor kesehatan masyarakat dari New Mexico State University, mengatakan bahwa studi berbasis NHANES memberikan wawasan berharga, tetapi penelitian diet memiliki keterbatasan, termasuk ketergantungan pada ingatan partisipan. Meski begitu, ia menjelaskan beberapa mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut. "Antioksidan dalam banyak makanan seperti buah dan sayuran menetralkan racun yang dapat merusak DNA sel," ujarnya. "Selain itu, antioksidan, vitamin, dan mineral dalam diet sehat juga melindungi protein penekan tumor." Ia menambahkan bahwa sains telah mapan bahwa diet sehat mengurangi risiko kanker, namun perhatian lebih perlu diberikan pada akses, biaya, dan gaya hidup.
Senada, Laurie Brunette-Masi, ahli onkologi ginekologi bersertifikat dari City of Hope Orange County, mengingatkan agar temuan ini ditafsirkan secara hati-hati. "Penting untuk tidak mengartikan ini sebagai bukti bahwa antioksidan mencegah kanker serviks. Ini adalah studi observasional yang menunjukkan asosiasi, bukan sebab-akibat," katanya. Ia menekankan bahwa vaksinasi HPV dan skrining yang direkomendasikan tetap menjadi fondasi pencegahan kanker serviks. "Diet sehat mungkin menjadi bagian lain dari gambaran pencegahan, tetapi harus melengkapi, bukan menggantikan, langkah-langkah yang terbukti ini."
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat kanker serviks merupakan salah satu kanker dengan insiden tinggi pada perempuan. Program vaksinasi HPV nasional dan skrining berbasis HPV terus diperluas, namun akses masih timpang, terutama di daerah terpencil. Mendorong konsumsi buah dan sayur sebagai bagian dari gaya hidup sehat dapat menjadi langkah tambahan yang murah dan terjangkau. Namun, para ahli menegaskan bahwa diet tidak dapat menggantikan vaksinasi dan skrining. Pertanyaannya, akankah edukasi gizi dan peningkatan akses pangan sehat menjadi prioritas dalam strategi pencegahan kanker serviks di Indonesia?


