Constance Zimmer Ungkap Perjuangan Diam-diam Melawan Kanker Payudara Stadium 0
Baca dalam 60 detik
- Aktris Constance Zimmer mengumumkan dirinya bebas kanker setelah menjalani perawatan DCIS sejak Maret 2025.
- Ia menolak mastektomi dan memilih lumpektomi yang mempertahankan payudaranya, melalui tiga operasi berturut-turut.
- Kisahnya menyoroti pentingnya otonomi pasien dalam pengambilan keputusan medis, terutama bagi perempuan di usia 50-an.

Aktris Hollywood Constance Zimmer, 55 tahun, mengungkapkan bahwa ia diam-diam berjuang melawan kanker payudara stadium awal sejak awal tahun ini. Kini, setelah menjalani serangkaian perawatan, ia menyatakan dirinya bebas kanker. Pengumuman ini disampaikannya melalui unggahan di Instagram pada Oktober, bertepatan dengan Bulan Kesadaran Kanker Payudara.
Zimmer, yang dikenal lewat perannya di serial Entourage dan Love Story, didiagnosis mengidap Ductal Carcinoma In Situ (DCIS) atau kanker payudara stadium 0 pada 13 Maret 2025. Diagnosis itu diterimanya melalui panggilan video dengan dokter saat ia sedang berada di luar kota untuk promosi serial terbarunya. "Saya tidak pernah membayangkan akan merayakan bulan ini dengan cerita saya sendiri," tulisnya dalam keterangan foto.
DCIS adalah bentuk non-invasif di mana sel abnormal tumbuh di saluran susu tetapi belum menyebar ke jaringan sekitarnya. Meski tergolong stadium paling awal, diagnosis ini tetap memicu kecemasan dan memerlukan keputusan pengobatan yang tepat. Menurut American Cancer Society, DCIS menyumbang sekitar 20% dari seluruh diagnosis kanker payudara baru di Amerika Serikat, dan angka kelangsungan hidupnya sangat tinggi jika ditangani sejak dini.
Zimmer mengaku sempat merasa terpuruk ketika sejumlah dokter merekomendasikan mastektomi sebagai langkah tercepat mengangkat massa kanker. Namun, ia mempertanyakan apakah ada opsi lain yang bisa mempertahankan payudaranya. "Saya merasa pilihan saya terbatas. Apa yang saya inginkan tidak dipertimbangkan," kenangnya. Ia kemudian berkonsultasi dengan Dr. Kristi Funk, ahli bedah payudara yang dikenal vokal tentang hak pasien. Funk menawarkan prosedur lumpektomi, yaitu pengangkatan massa kanker tanpa mengangkat seluruh payudara.
"Dia adalah dokter pertama yang membuat saya merasa bahwa keinginan saya penting. Itu membuat saya menangis bahagia," tulis Zimmer.
Lumpektomi yang dijalani Zimmer memerlukan tiga kali operasi dalam tiga minggu berturut-turut. Setelah operasi, ia menjalani radiasi selama beberapa minggu. Menariknya, di tengah proses pengobatan yang melelahkan, Zimmer tetap menjalani tur promosi untuk serial Love Story dan bahkan menerima nominasi Emmy. Ia menyembunyikan diagnosis dan perawatannya dari publik hingga pengumuman resmi bulan ini.
Kisah Zimmer menyoroti isu yang lebih luas tentang pentingnya pasien diberikan ruang untuk membuat keputusan medis yang sesuai dengan nilai dan preferensi pribadi. Dalam dunia onkologi, pendekatan shared decision-making semakin dianjurkan, di mana dokter dan pasien bersama-sama menimbang risiko dan manfaat setiap opsi. Dr. Funk, dalam komentarnya di unggahan Zimmer, menegaskan bahwa setiap perempuan berhak merasa didengar dan didukung. "Setiap perempuan berhak merasa didengar, diberdayakan, dan didukung dalam membuat keputusan tentang tubuhnya sendiri dan perawatan kankernya," tulis Funk.
Bagi Indonesia, cerita ini relevan mengingat angka kejadian kanker payudara yang terus meningkat. Menurut data Globocan 2020, kanker payudara adalah jenis kanker dengan kasus baru terbanyak di Indonesia, mencapai lebih dari 65.000 kasus pada tahun itu. Sayangnya, banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut karena kurangnya kesadaran akan deteksi dini. Kisah Zimmer dapat menjadi pengingat akan pentingnya skrining rutin, seperti mammografi dan USG payudara, terutama bagi perempuan di atas usia 40 tahun.
Selain itu, akses terhadap pilihan pengobatan yang mempertahankan tubuh masih menjadi tantangan di Indonesia. Prosedur lumpektomi sebenarnya tersedia di rumah sakit besar, tetapi tidak semua pasien mendapat informasi yang memadai tentang opsi ini. Edukasi tentang hak pasien dan komunikasi dokter-pasien yang setara perlu terus didorong.
Zimmer kini aktif berbicara tentang pengalamannya dan akan menghadirkan Dr. Funk dalam podcast-nya, Talk Fifty To Me. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi perempuan lain untuk berani bersuara dan mengambil peran aktif dalam perawatan kesehatan mereka. "Dari gaun rumah sakit hingga glamor Emmy, ini perjalanan yang luar biasa," ujarnya.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh sistem kesehatan—baik di Amerika Serikat maupun Indonesia—mampu memastikan setiap pasien kanker payudara mendapatkan informasi lengkap tentang semua opsi pengobatan yang tersedia. Tanpa itu, hak untuk memilih yang terbaik bagi tubuh sendiri akan tetap menjadi kemewahan bagi sebagian orang.



