Sam Altman: Risiko AI Layak Ditanggung Demi Manfaat Besar, Tolak Regulasi Ketat
Baca dalam 60 detik
- CEO OpenAI Sam Altman menegaskan bahwa keuntungan AI jauh melampaui potensi bahayanya, sehingga sebagian risiko harus diterima.
- Altman berbeda pandangan dengan Anthropic yang menginginkan perlambatan pengembangan AI dan pengawasan terpusat.
- Pendekatan regulasi ringan yang diusung OpenAI berpotensi memengaruhi arah kebijakan AI global, termasuk di Indonesia.

CEO OpenAI Sam Altman secara terbuka menyatakan bahwa dunia sebaiknya menerima sejumlah konsekuensi negatif dari kecerdasan buatan (AI) demi memperoleh manfaat besarnya. Dalam wawancara dengan buletin teknologi Politico, Decoded, Altman menilai bahwa akses luas terhadap teknologi ini harus tetap terjaga, meskipun risiko penyalahgunaan tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.
Pernyataan tersebut mempertegas perbedaan pandangan antara OpenAI dan Anthropic, pesaing utamanya di ranah model frontier. Altman mengakui ada "jarak yang lebar" antara posisinya dan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menyerukan perlambatan pengembangan AI. Amodei dan sejumlah pihak lain mendorong sentralisasi riset AI untuk memperketat keamanan. Altman menolak keras gagasan itu, menyebutnya sebagai pertukaran yang "sama sekali tidak dapat diterima" dan bertentangan dengan pendekatan regulasi ringan yang diusung OpenAI.
"Saya tidak akan menerima kesepakatan yang menjamin tidak ada peretasan besar, tidak ada penyalahgunaan, nol penipuan, dan nol hal buruk lainnya," ujar Altman. "Karena saya yakin orang akan melakukan hal baik jauh lebih banyak—beberapa kali lipat lebih besar—daripada hal buruk."
Meski berbeda soal regulasi, Altman sepakat dengan Amodei bahwa laboratorium frontier perlu "memperlambat laju" pengembangan AI agar risiko model yang melampaui kendali manusia dapat dimitigasi. Keduanya juga setuju bahwa pihak ketiga independen harus diberi akses setara karyawan untuk memantau pekerjaan laboratorium, memastikan keselarasan AI selama pelatihan model, dan melaporkan insiden keamanan.
Altman sebelumnya telah menguraikan dua kekhawatiran utamanya dalam pengembangan AI melalui unggahan di X bulan lalu. Pertama, manusia bisa kehilangan kendali atas masa depan kepada AI. "Ini tidak dapat diterima; kami tanpa ragu berada di Tim Manusia, dan AI harus selalu melayani manusia. Untuk memastikan itu, kami memerlukan cara agar teknik keselarasan dan keamanan tetap selangkah lebih maju dari kemampuan model," tulisnya. Kedua, dunia bisa terjebak dalam konsentrasi kekuasaan yang berlebihan. "Jika AI yang sangat kuat digunakan oleh satu orang atau perusahaan untuk memaksakan pandangan dunia mereka kepada orang lain, hasilnya bisa sangat distopia," tambahnya.
"Kami percaya dunia harus menerima beberapa hal buruk terjadi demi manfaat teknologi ini dan agar orang memiliki agensi," kata Altman.
Pandangan Altman ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang keamanan AI, termasuk langkah Microsoft yang merilis kode etik untuk model AI. Di Indonesia, debat tentang regulasi AI semakin relevan seiring percepatan adopsi teknologi di berbagai sektor. Pemerintah Indonesia tengah menyusun kerangka etika AI, namun belum ada undang-undang khusus yang mengikat. Sikap Altman yang mendukung regulasi ringan dapat menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan di dalam negeri untuk tidak terlalu membatasi inovasi, meskipun tetap waspada terhadap risiko penyalahgunaan.
Dengan perbedaan tajam antara kubu OpenAI dan Anthropic, arah kebijakan AI global akan sangat bergantung pada siapa yang lebih berpengaruh dalam dialog dengan regulator. Pertanyaannya, akankah dunia mengikuti pendekatan permisif Altman atau memilih kehati-hatian yang lebih ketat? Waktu yang akan menentukan, tetapi perdebatan ini akan membentuk lanskap teknologi dekade ini.



