Tata Surya Bisa Runtuh Lebih Cepat, Studi Caltech Ungkap Peran Ledakan Matahari
Baca dalam 60 detik
- Riset terbaru dari Caltech menemukan bahwa Tata Surya berpotensi hancur sekitar satu miliar tahun setelah Matahari menjadi katai putih, bukan satu kuintiliun tahun seperti perkiraan sebelumnya.
- Penyebabnya adalah semburan massa Matahari yang tidak teratur, yang memberikan dorongan acak pada planet-planet luar dan mengacaukan orbitnya.
- Temuan ini menantang asumsi lama tentang stabilitas jangka panjang Tata Surya dan membuka pertanyaan baru tentang bagaimana bintang mengakhiri hidupnya.

Sebuah studi anyar dari California Institute of Technology (Caltech) menyimpulkan bahwa Tata Surya dapat berantakan jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya—sekitar satu miliar tahun setelah Matahari menuntaskan evolusinya menjadi katai putih. Angka itu jauh lebih pendek dibandingkan estimasi konvensional yang memperkirakan stabilitas orbit hingga satu kuintiliun tahun.
Selama ini, model tata surya jangka panjang berasumsi bahwa Matahari kehilangan massanya secara perlahan dan merata. Namun, makalah yang diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters itu menegaskan bahwa prosesnya tidak berjalan mulus. Matahari diprediksi melepaskan materi dalam ledakan-ledakan yang datang secara acak, baik waktu maupun arahnya. Setiap ledakan memberikan tendangan kecil pada planet-planet, dan akumulasi tendangan itulah yang perlahan menggeser orbit planet luar seperti Jupiter dan Saturnus.
Temuan ini seolah menghidupkan kembali kekhawatiran yang pernah dilontarkan Isaac Newton. Sang fisikawan legendaris pernah cemas bahwa ketidakseimbangan gravitasi antara Jupiter dan Saturnus pada akhirnya akan mengacaukan Tata Surya. Gagasan itu sempat dikesampingkan oleh penelitian modern, tetapi tim Caltech justru menunjuk pada penyebab yang sama sekali berbeda: bukan chaos yang merayap lambat, bukan pula bintang lewat yang kebetulan melintas, melainkan Matahari itu sendiri.
"Bukan rembesan chaos yang lambat, bukan pertemuan kebetulan dengan bintang yang lewat, melainkan Matahari sendiri," tulis para peneliti dalam makalah tersebut.
Studi ini juga memberikan perspektif baru terhadap temuan optimistis yang dirilis awal tahun ini. Riset tim dari KU Leuven, Belgia, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics menyimpulkan bahwa Bumi mungkin bisa lolos dari Matahari yang sekarat. Ketika bintang kehilangan massa, tarikan gravitasinya melemah, dan planet kita perlahan bergeser ke orbit yang lebih lebar dan aman. Namun, kesimpulan itu bertumpu pada asumsi kehilangan massa yang lambat dan stabil. Makalah Caltech justru menemukan sebaliknya: kehilangan massa yang tiba-tiba dan keras, yang malah membuat planet luar terlempar dari keseimbangannya.
Pada akhirnya, kedua temuan ini menggantung pada satu pertanyaan fundamental: bagaimana tepatnya Matahari kehilangan massanya. Jawaban versi lama adalah penguapan perlahan yang cukup lembut bagi Bumi untuk menyelinap pergi. Jawaban versi baru adalah ledakan dahsyat yang mengguncang planet-planet raksasa. Perbedaan model ini bukan sekadar detail teknis, melainkan menentukan apakah Tata Surya akan bertahan miliaran tahun atau justru berantakan lebih cepat.
Bagi penghuni Bumi, kekhawatiran itu tidak perlu dipikul sekarang. Sebelum Matahari menjadi katai putih, ia akan membengkak menjadi raksasa merah yang panas dan terang, cukup untuk memusnahkan seluruh kehidupan di planet ini—bahkan mungkin menelannya bulat-bulat. Namun, bagi astrofisika, temuan ini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih akurat tentang evolusi bintang dan stabilitas sistem planet di alam semesta. Pertanyaannya kini: apakah model ledakan acak ini juga berlaku untuk bintang-bintang lain, dan seberapa umum Tata Surya kita di antara miliaran sistem yang ada?



