Medvedev Diskualifikasi dari China Open Usai Bola Hantam Penonton di Mata
Baca dalam 60 detik
- Daniil Medvedev tersingkir dari semifinal China Open setelah bola pantulan yang ia pukul mengenai mata seorang penonton di baris depan.
- Insiden ini menambah catatan panjang ledakan emosi petenis Rusia tersebut, yang sebelumnya pernah didenda puluhan ribu dolar di berbagai turnamen grand slam.
- Novak Djokovic melaju ke final menghadapi Alex de Minaur, sementara Carlos Alcaraz menembus final Japan Open setelah comeback dari cedera pergelangan tangan.

Daniil Medvedev dipastikan angkat koper dari China Open 2026 setelah insiden kontroversial di semifinal melawan Novak Djokovic, Senin. Petenis peringkat lima dunia itu didiskualifikasi karena memukul bola pantulan ke arah tribun penonton hingga mengenai mata seorang penonton di baris pertama.
Kejadian bermula ketika Medvedev tertinggal 5-7, 3-5 dan baru saja kehilangan satu poin. Dalam kondisi frustrasi, ia memukul bola yang memantul dari dinding belakang lapangan. Bola melesat ke arah kerumunan dan mengenai penonton yang langsung memegang mata kirinya sambil menunjukkan ekspresi kesakitan. Petugas stadion segera membantu korban meninggalkan area tribun.
Medvedev menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. "Saya sangat menyesal kepada penonton tersebut. Ini murni kecelakaan," ujarnya, seraya berharap bisa meminta maaf langsung. "Bola memantul kembali, jadi saya berusaha memukulnya agar tidak keluar lapangan. Saat melihat akibatnya, saya merasa sangat buruk."
Insiden ini bukan yang pertama bagi Medvedev. Reputasinya sebagai petenis dengan temperamen meledak-ledak sudah terbentuk sejak lama. Pada April lalu, di Monte Carlo Open, ia menghancurkan raketnya berkali-kali dan membuang serpihannya ke tempat sampah pinggir lapangan saat kalah 6-0, 6-0 dari Matteo Berrettini. Di US Open 2025, ia didenda 42.500 dolar AS karena kehilangan kendali saat seorang fotografer mengganggu servis Benjamin Bonzi untuk match point. Pertandingan terhenti lebih dari enam menit ketika ia memancing kerumunan dan menghina wasit. "Apa yang saya katakan dan lakukan, dalam pikiran saya, ingin melakukan lebih buruk lagi, tapi saya tidak bisa karena ada aturan, karena kita di lapangan tenis," katanya saat itu.
Puncaknya terjadi di Australian Open 2025, ketika ia didenda 54.000 poundsterling—salah satu denda terbesar dalam sejarah grand slam—setelah merusak kamera net dengan raketnya. Ia juga harus mengganti biaya kamera tersebut. Pola ini menunjukkan masalah disiplin yang serius dan berulang, bukan sekadar kejadian tunggal.
"Saya terkejut. Saya harap orang itu tidak cedera parah. Di sisi lain, saya juga turut prihatin pada Daniil karena saya tahu persis bagaimana rasanya didiskualifikasi di pertandingan besar. Saya yakin Daniil tidak berniat melakukan ini." — Novak Djokovic
Djokovic sendiri pernah mengalami diskualifikasi serupa di US Open 2020, sehingga komentarnya mencerminkan empati yang mendalam. Sementara itu, semifinal lainnya di Beijing juga berakhir lebih cepat. Hubert Hurkacz mundur karena cedera adductor saat tertinggal 4-6, 2-3 dari Alex de Minaur. De Minaur pun melaju ke final tanpa harus menyelesaikan pertandingan.
Di Tokyo, Carlos Alcaraz menunjukkan mentalitas juara. Meski sempat kehilangan set pertama 5-7 dari Jaume Munar, ia bangkit dan menang 6-3, 6-1 untuk mencapai final Japan Open. Ini merupakan langkah penting bagi petenis Spanyol berusia 23 tahun itu setelah comeback dari cedera pergelangan tangan. "Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya memulai pertandingan dengan baik, mendapat break dan memimpin untuk set pertama. Sepertinya saya selalu kesulitan di set pertama. Tapi cara saya bangkit setiap kali, saya sangat senang. Jaume pemain tangguh dan kondisi ini cocok untuknya. Saya hanya berusaha bertahan sebisa mungkin," ujar Alcaraz. Ia akan menghadapi Jiri Lehecka di final hari Selasa.
Diskualifikasi Medvedev memunculkan pertanyaan tentang batas antara emosi kompetitif dan tanggung jawab keselamatan penonton. Dengan rekam jejak pelanggaran yang terus berulang, apakah ini menjadi titik balik bagi Medvedev untuk mengendalikan diri, atau justru memperkuat citranya sebagai petenis yang mudah kehilangan kendali? Sementara itu, Djokovic dan Alcaraz terus menunjukkan kelasnya di turnamen Asia, menandakan persaingan papan atas masih didominasi nama-nama mapan.



