FIFA Hantam Argentina: Paredes Dilarang 10 Laga, AFA Didenda Rp5 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Argentina, Leandro Paredes, menerima sanksi larangan bermain 10 pertandingan dari FIFA buntut keributan usai final Piala Dunia 2026.
- Tim Tango juga dihukum bermain tanpa penonton penuh di dua laga kandang berikutnya, plus denda finansial yang memberatkan.
- Sanksi ini menjadi preseden penting bagi FIFA dalam menindak perilaku tidak sportif dan provokasi politik di ajang sepak bola global.

Badan sepak bola dunia, FIFA, akhirnya menjatuhkan hukuman berat kepada tim nasional Argentina menyusul insiden ricuh yang mewarnai partai final Piala Dunia 2026. Gelandang Leandro Paredes dipastikan absen membela La Albiceleste dalam 10 pertandingan, sementara rekan setimnya, Nahuel Molina, juga menerima larangan bermain selama tujuh laga. Keputusan ini diumumkan FIFA pada Selasa (18/6/2025) sebagai buntut dari keributan yang terjadi setelah Argentina takluk 0-1 dari Spanyol di laga puncak yang digelar di New York New Jersey Stadium.
Tak hanya menjatuhkan sanksi individual, FIFA juga menghukum Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) dengan denda senilai 321.000 dolar AS atau setara Rp5,1 miliar. Selain itu, Argentina diwajibkan memainkan dua laga kandang berikutnya dengan kapasitas penonton hanya 50 persen, meski satu dari dua hukuman tersebut ditangguhkan. Denda dan sanksi ini dijatuhkan karena AFA dinilai melanggar kode disiplin FIFA terkait penggunaan ajang olahraga untuk demonstrasi non-olahraga, perilaku tidak sportif tim, serta nyanyian dan gestur diskriminatif yang dilakukan para pendukungnya.
Keputusan FIFA ini merupakan respons atas dua insiden terpisah. Pertama, aksi provokatif sejumlah pemain Argentina yang mengangkat spanduk klaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland setelah menyingkirkan Inggris di semifinal. Tindakan tersebut dinilai sebagai demonstrasi politik yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sportivitas. Kedua, keributan massal yang melibatkan pemain dan ofisial Argentina dengan kubu Spanyol setelah peluit panjang final dibunyikan. FIFA bahkan telah menunjuk jaksa disipliner dan etika sejak bulan lalu untuk menyelidiki insiden di stadion kebanggaan Amerika Serikat tersebut.
Hukuman ini menjadi preseden penting dalam sejarah Piala Dunia, terutama karena melibatkan tim sekelas Argentina yang baru saja tampil di final. Bagi publik Indonesia, kasus ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana FIFA menegakkan aturan dengan tegas, terlepas dari status dan reputasi tim. Federasi sepak bola di Asia Tenggara, termasuk PSSI, tentu akan menjadikan kasus ini sebagai referensi dalam menangani potensi pelanggaran disiplin, baik di level tim nasional maupun klub.
Menurut analis sepak bola internasional, sanksi ini tidak hanya berdampak pada karier Paredes dan Molina, tetapi juga memengaruhi strategi pelatih Lionel Scaloni dalam menghadapi turnamen-turnamen mendatang. Kehilangan dua pemain kunci di lini tengah dan pertahanan tentu menjadi pukulan telak bagi Argentina yang tengah dalam masa transisi setelah era Messi. Selain itu, hukuman bermain dengan kapasitas penonton terbatas juga berpotensi mengurangi keuntungan kandang yang selama ini menjadi kekuatan Argentina di kualifikasi Piala Dunia berikutnya.
Di sisi lain, keputusan FIFA ini menuai beragam reaksi. Sebagian pihak menilai hukuman tersebut terlalu berat, sementara yang lain menganggapnya sebagai langkah tepat untuk membersihkan citra sepak bola dari politik dan kekerasan. Yang jelas, FIFA ingin menunjukkan bahwa tindakan provokatif dan tidak sportif tidak akan ditoleransi, apa pun alasannya. Pertanyaannya, akankah sanksi ini menjadi efek jera bagi tim lain, atau justru memicu resistensi yang lebih besar dari federasi-federasi yang merasa diperlakukan tidak adil? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: sepak bola dunia sedang memasuki era penegakan disiplin yang lebih ketat.



