Everton Ulangi Kesalahan Transfer: Jual Ndiaye, Datangkan Johnson yang Tumpul
Baca dalam 60 detik
- Everton menjual Iliman Ndiaye ke Manchester City senilai £65 juta dan merekrut Brennan Johnson sebagai pengganti, meski Johnson belum mencetak gol dalam 26 penampilan terakhirnya bersama Crystal Palace.
- Keputusan ini dinilai mengulang pola downgrade era Moshiri, seperti saat menjual Romelu Lukaku lalu mendatangkan Cenk Tosun yang minim kontribusi.
- Dengan produktivitas Johnson yang jauh di bawah Ndiaye, peluang Everton menembus kompetisi Eropa musim depan menjadi lebih berat.

Everton kembali menjadi sorotan setelah menjual bintang sayap Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan harga £65 juta, lalu mendatangkan Brennan Johnson sebagai pengganti. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa klub Merseyside itu mengulangi kesalahan transfer yang sama seperti era Farhad Moshiri, ketika mereka melepas Romelu Lukaku dan merekrut Cenk Tosun yang gagal total.
Ndiaye, yang bergabung dari Sheffield United pada 2023, menjelma menjadi salah satu pemain paling menghibur di Premier League. Kemampuannya melewati lawan dan memenangkan duel membuat lini serang Everton hidup. Musim lalu, ia rata-rata memenangkan enam duel dan menyelesaikan 2,3 dribel per pertandingan. Penjualannya ke City meninggalkan lubang besar di sayap kanan, yang coba ditambal dengan kedatangan Johnson dari Crystal Palace.
Namun, rekam jejak Johnson jauh dari meyakinkan. Pemain asal Wales itu dibeli Palace dari Tottenham Hotspur seharga £35 juta pada Januari lalu, tetapi gagal mencetak gol dalam 26 penampilan di London selatan. Di Everton, ia baru tiga kali menjadi starter di liga, dan itu pun karena keterpaksaan. Manajer David Moyes disebut lebih memilih Tyler Dibling, yang mulai menunjukkan perkembangan setelah didatangkan dari Southampton setahun lalu.
Perbandingan dengan Ndiaye sangat kontras. Ndiaye adalah tipe pemain yang mampu menciptakan peluang dari situasi sulit, sementara Johnson lebih sering menghilang. Jika melihat statistik, produktivitas Johnson di Everton jauh di bawah standar yang dibutuhkan untuk bersaing di papan atas. Direktur teknik Angus Kinnear, yang bertanggung jawab atas transfer musim panas ini, dianggap gagal membaca kebutuhan tim.
"Kinnear seharusnya menundukkan kepala setelah jendela transfer yang buruk. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk kegagalan brutal ini setelah Moyes dan timnya menunjukkan janji musim lalu," tulis analis Football FanCast, Angus, dalam laporannya.
Everton sebenarnya memulai musim 2025/26 dengan catatan tak terkalahkan di Premier League. Namun, performa itu lebih banyak ditopang pertahanan solid dan keberuntungan, bukan ketajaman lini depan. Kehilangan Ndiaye membuat serangan Everton kehilangan kreativitas, dan Johnson belum mampu mengisi kekosongan itu. Moyes pun terpaksa mengandalkan pemain muda seperti Dibling untuk memberikan dimensi berbeda.
Dalam konteks persaingan Premier League yang semakin ketat, kesalahan transfer seperti ini bisa berakibat fatal. Everton yang musim lalu finis di posisi yang menjanjikan kini harus berjuang lebih keras untuk menembus zona Eropa. Klub-klub seperti Newcastle, Aston Villa, dan Brighton terus memperkuat skuad, sementara Everton justru melemah di sektor sayap. Jika Johnson tidak segera menemukan performa terbaiknya, tekanan pada Kinnear dan Moyes akan semakin besar.
Bagi penggemar Everton, keputusan ini terasa seperti deja vu. Mereka masih ingat bagaimana Lukaku dijual dan Tosun didatangkan, sebuah downgrade yang menghantui klub selama bertahun-tahun. Kini, dengan Ndiaye pergi dan Johnson datang, kekhawatiran yang sama muncul kembali. Apakah manajemen Everton akan belajar dari kesalahan masa lalu, atau justru terperangkap dalam siklus yang sama? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: jika Johnson tidak segera mencetak gol, kritik akan semakin deras mengarah ke Goodison Park.



