Di Balik 'The Name of the Rose': Ron Perlman, Sean Connery, dan 16 Kali Ludah yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Ron Perlman mengungkap pengalaman unik selama produksi film The Name of the Rose, termasuk adegan meludah ke wajah Sean Connery yang harus diulang belasan kali.
- Perlman memerankan Salvatore, tokoh bungkuk yang berbicara dalam tujuh bahasa, dan ia mempelajari dialognya dengan pendekatan unik menggunakan buku terjemahan.
- Film yang diadaptasi dari novel Umberto Eco ini menghadirkan tantangan produksi besar, termasuk pembangunan set megah di dekat Roma dan insiden kebakaran saat syuting.

Ron Perlman tidak pernah menyangka bahwa perannya dalam film The Name of the Rose akan membawanya pada momen tak biasa: meludah ke wajah Sean Connery sebanyak 16 kali. Dalam wawancara terbaru dengan The Guardian, aktor yang dikenal lewat Hellboy itu mengenang pengalaman syuting film adaptasi novel Umberto Eco tersebut, yang rilis pada 1986. Baginya, adegan itu bukan sekadar tantangan akting, melainkan juga pelajaran tentang profesionalisme dari sang legenda James Bond.
Perlman berperan sebagai Salvatore, seorang bungkuk dengan keterbelakangan mental yang berbicara dalam campuran tujuh bahasa. Karakter ini menjadi daya tarik utama baginya, mengingat ia sebelumnya juga memerankan manusia gua dalam Quest for Fire arahan Jean-Jacques Annaud. "Transformasi menjadi sesuatu yang benar-benar asing adalah latihan yang sangat memuaskan," ujarnya. Ketika mengetahui Annaud terlibat dalam proyek ini, Perlman langsung menyatakan minatnya pada peran Salvatore.
Untuk mendalami dialog Salvatore yang unik, Perlman mengumpulkan salinan novel dalam tujuh bahasa yang direferensikan Eco. Ia melingkari setiap kata yang diucapkan Salvatore, lalu memilih secara acak kata Latin, Spanyol, Italia, dan lainnya. Pendekatan ini menciptakan bahasa komunikasi Salvatore yang khas. Ia juga dibantu seorang pelatih dialek yang sekaligus sejarawan, yang menyarankan lagu pengantar tidur yang dinyanyikan Salvatore saat dibakar di tiang. "Lagu itu memberi kesan kekaguman seperti anak-anak, meskipun dia tidak menyadari bahwa nyawanya akan berakhir," jelas Perlman.
Proses produksi film ini tidak lepas dari berbagai insiden. Saat adegan menara perpustakaan terbakar, jubah Connery sempat tersambar api, sementara Chaliapin Jr. tertimpa kayu besar hingga harus dilarikan ke rumah sakit. "Saya berusia 80 tahun, saya tidak keberatan mati. Apakah take-nya bagus?" kata Chaliapin Jr. seperti dikutip Perlman. Insiden ini memaksa perubahan jadwal syuting karena bekas luka yang diderita aktor tersebut.
Di balik layar, ada pula kisah mengejutkan tentang produser Bernd Eichinger yang menjual gedung kantor produksi di Munich untuk membiayai film. Perlman baru menyadarinya setelah kembali dari Roma dan tidak menemukan kantornya. "Dia bilang tidak ingin mengganggu saya selama syuting, tapi dia menjual gedung itu," kenang Perlman. Dedikasi Eichinger menunjukkan betapa besar taruhan finansial dalam proyek ambisius ini.
"Sean berkata, 'Ron, kalau kamu tidak benar-benar meludahi wajahku, kita akan di sini sepanjang hari.' Akhirnya aku meludah, dan harus mengulanginya untuk berbagai angle. Mungkin 16 kali aku meludahi wajah Sean Connery hari itu."
— Ron Perlman
Bagi Perlman, bekerja dengan Connery adalah pengalaman berharga. Ia mengaku menghabiskan setiap momen untuk mengamati akting dan mendengarkan cerita sang aktor. "Dia adalah pahlawanku, the real deal," ujarnya. Momen meludah itu pun menjadi simbol rasa hormat dan profesionalisme, di mana Connery dengan tegas meminta Perlman melakukan yang terbaik demi hasil maksimal.
Kisah di balik The Name of the Rose juga menyoroti pentingnya riset mendalam dalam adaptasi karya sastra. Annaud sampai menyewa sejarawan abad pertengahan Jacques Le Goff dan tujuh koleganya untuk memastikan detail kostum, arsitektur, dan liturgi. Bahkan, ia terbang ke Wina untuk mempelajari lukisan Bruegel the Elder demi mendapatkan inspirasi visual. Pendekatan ini membuahkan film yang tidak hanya menghibur tetapi juga kaya akan akurasi sejarah.
Dalam konteks perfilman Indonesia, dedikasi seperti yang ditunjukkan Annaud dan timnya bisa menjadi pelajaran berharga. Industri film Tanah Air kerap menghadapi keterbatasan anggaran dan riset, namun semangat untuk menghadirkan detail otentik tetap bisa diupayakan. Misalnya, film sejarah Indonesia seperti Battle of Surabaya atau Kartini juga memerlukan riset mendalam agar tidak sekadar menjadi drama periodik tanpa bobot. Perlman sendiri mungkin tidak menyangka bahwa pengalamannya di film ini akan terus dikenang, terutama karena adegan ludah yang ikonik itu.
Ke depan, kisah-kisah di balik layar seperti ini dapat menginspirasi generasi pembuat film untuk tidak takut mengambil risiko dan mengejar visi artistik, bahkan jika harus menghadapi tantangan fisik maupun finansial. Apakah industri film Indonesia siap melahirkan karya epik dengan tingkat detail setara The Name of the Rose? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah kecil seperti memperkuat riset dan kolaborasi dengan ahli bisa menjadi awal yang baik.



