Pasar Brasil Melonjak, Peluang Flávio Bolsonaro ke Kursi Presiden Melonjak di Atas 80%
Baca dalam 60 detik
- Bursa saham Brasil melonjak setelah hasil putaran pertama pemilu presiden menempatkan Flávio Bolsonaro sebagai kandidat terkuat melawan petahana Lula da Silva.
- Peluang Bolsonaro di pasar prediksi melesat dari sekitar 60% menjadi lebih dari 80% dalam hitungan jam, memicu aksi beli investor asing.
- Putaran kedua pada 25 Oktober akan menentukan arah kebijakan fiskal Brasil, dengan implikasi bagi aliran modal ke pasar berkembang termasuk Indonesia.

Bursa saham Brasil melonjak pada perdagangan Senin (5/10/2026) setelah hasil putaran pertama pemilu presiden menempatkan Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, sebagai kandidat terkuat untuk mengalahkan petahana Luiz Inácio Lula da Silva. Indeks Bovespa ditutup menguat 8%, saham Banco Bradesco melesat 19%, dan saham bank lain melonjak 15%, sementara dana indeks iShares MSCI Brazil ETF (EWZ) naik tajam. Pasar bereaksi cepat terhadap hasil yang jauh melampaui ekspektasi jajak pendapat.
Hasil putaran pertama menunjukkan Bolsonaro meraih lebih dari 47% suara, unggul hampir 2 poin persentase atas Lula. Padahal, survei pra-pemilu sebelumnya memprediksi Lula akan memimpin perolehan suara di putaran pertama, meski Bolsonaro diunggulkan di putaran kedua. Karena tidak ada kandidat yang meraih mayoritas mutlak, kedua tokoh akan bertarung di putaran kedua pada 25 Oktober mendatang.
Pasar prediksi Kalshi dan Polymarket mencatat lonjakan dramatis peluang Bolsonaro. Di Kalshi, peluangnya menembus 80%, naik dari sekitar 60% sebelum hasil resmi diumumkan. Sementara di Polymarket, angka tersebut mencapai 85%, melesat dari 63% sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan keyakinan investor bahwa kebijakan fiskal Brasil akan lebih disiplin di bawah pemerintahan Bolsonaro.
Investor melihat Bolsonaro sebagai kandidat yang lebih ramah pasar karena janji-janji penghematan fiskal dan pengurangan defisit anggaran yang telah membengkak mendekati 10% dari PDB. Sebaliknya, Lula yang mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dianggap akan melanjutkan kebijakan belanja sosial yang luas. Kampanye Lula berusaha mengaitkan Flávio dengan upaya ayahnya menggugat hasil pemilu 2022 dan menuduhnya korup, namun pasar tampaknya lebih fokus pada prospek kebijakan ekonomi.
"Pasar obligasi dan ekuitas Brasil sedang memberikan sinyal bahwa mereka menginginkan perubahan arah fiskal. Kemenangan Bolsonaro di putaran kedua akan menjadi katalis positif jangka pendek, tetapi risiko volatilitas tetap tinggi menjelang 25 Oktober," ujar seorang analis pasar berkembang yang tidak ingin disebutkan namanya.
Bagi investor Indonesia, dinamika politik Brasil ini penting karena keduanya sama-sama negara berkembang dengan komoditas andalan dan pasar obligasi yang sensitif terhadap sentimen risiko global. Jika Bolsonaro menang dan berhasil menekan defisit, aliran modal ke pasar berkembang bisa teralihkan ke Brasil, sementara Indonesia harus bersaing menarik dana asing. Sebaliknya, ketidakpastian politik yang berlanjut dapat membuat investor menahan diri dari aset berisiko di kawasan.
Yang perlu dicermati, lonjakan pasar saat ini lebih didorong oleh ekspektasi daripada kepastian. Jajak pendapat terbaru masih menunjukkan persaingan ketat, dan kampanye Lula diperkirakan akan menggencarkan serangan terhadap rekam jejak keluarga Bolsonaro. Pertanyaannya, apakah euforia pasar Brasil akan bertahan hingga putaran kedua, atau justru menguap jika Lula berhasil membalikkan keadaan?



