Bocah 10 Tahun Temukan Bunga Bambu Langka yang Mekar Seabad Sekali di Jepang
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswa kelas 4 SD di Jepang menemukan bunga bambu hachiku yang mekar hanya setiap 60โ120 tahun, memicu kegembiraan para ahli botani.
- Temuan ini terjadi di Prefektur Wakayama, wilayah yang sama dengan penemuan spesimen bersejarah oleh naturalis Kumagusu Minakata pada 1903.
- Peristiwa langka ini menyoroti siklus hidup bambu yang unik dan menginspirasi rasa ingin tahu ilmiah, relevan bagi pengamat alam di Indonesia.

Seorang bocah lelaki berusia 10 tahun di Jepang secara tidak sengaja menemukan bunga bambu yang sangat langka, yang mekar hanya sekali dalam 60 hingga 120 tahun. Temuan ini terjadi di kawasan pegunungan Kota Hashimoto, Prefektur Wakayama, pada akhir Juli lalu, dan kini menjadi sorotan para ahli botani karena kelangkaannya yang luar biasa.
Jin Versluys, siswa kelas 4 SD Kinokuni Kodomomura, sedang dalam perjalanan pulang dengan mobil pada 27 Juli ketika ia melihat sebagian area hutan di dekat rumahnya tampak mengering. Berbekal pengetahuan dari sekolah bahwa bambu dapat berbunga dalam interval puluhan tahun dan mati setelahnya, ia memutuskan untuk memeriksa lebih dekat. "Saya pikir ini mungkin keajaiban, jadi saya ingin melihatnya," ujarnya. Benar saja, ia menemukan bunga-bunga yang mekar di antara rumpun bambu.
Penemuan ini kemudian dilaporkan ke sekolahnya, yang menghubungi surat kabar Mainichi Shimbun. Seorang reporter yang datang ke lokasi memotret bunga tersebut dan menunjukkan gambarnya kepada Emi Okada, direktur Taman Botani Prefektur Wakayama Ryokka Center. Okada mengonfirmasi bahwa bunga itu milik bambu hachiku, atau yang dikenal sebagai Henon bamboo. "Ini penemuan yang sangat langka dan berharga," kata Okada, seraya mendorong Jin untuk tetap penasaran dan terus mengamati bambu.
Yang membuat penemuan ini semakin istimewa adalah kaitannya dengan sejarah botani Jepang. Pada 1903, naturalis Kumagusu Minakata mengirimkan spesimen bunga hachiku kepada ahli botani Tomitaro Makino. Pada 2023, bunga hachiku kembali ditemukan di area yang terkait dengan Minakata, tepat 120 tahun setelah pengiriman spesimen tersebut. Kini, penemuan oleh Jin menambah babak baru dalam catatan langka ini, menunjukkan bahwa siklus berbunga bambu memang terjadi dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Fenomena berbunga massal bambu sebenarnya bukan sekadar keunikan botani; ia memiliki dampak ekologis yang signifikan. Ketika bambu berbunga dan mati secara bersamaan, hal ini dapat memengaruhi ekosistem sekitarnya, termasuk ketersediaan pangan bagi satwa liar. Di Jepang, peristiwa ini juga menarik perhatian karena keterkaitannya dengan sejarah ilmiah dan budaya lokal. Bagi para peneliti, setiap penemuan bunga bambu adalah kesempatan langka untuk mempelajari siklus hidup dan genetika tanaman ini.
Di Indonesia, yang memiliki keanekaragaman bambu yang tinggi, fenomena serupa juga pernah terjadi. Beberapa spesies bambu di Asia Tenggara diketahui berbunga secara serentak dalam siklus puluhan tahun, seperti bambu betung yang berbunga setiap 50โ100 tahun. Peristiwa ini sering kali dianggap sebagai pertanda oleh masyarakat lokal, meskipun secara ilmiah merupakan bagian dari strategi reproduksi tanaman. Penemuan oleh Jin Versluys dapat menjadi pengingat akan pentingnya observasi alam dan dokumentasi ilmiah, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang dapat mengganggu siklus alami.
Para ahli berharap penemuan ini akan mendorong lebih banyak orang, terutama generasi muda, untuk peduli pada lingkungan. Seperti yang dikatakan Okada, rasa ingin tahu adalah kunci untuk memahami alam. "Tetap penasaran dan terus mengamati bambu," pesannya. Pertanyaannya, akankah penemuan langka seperti ini memicu gerakan sains warga yang lebih luas di Asia, termasuk Indonesia?



