Di Balik Huruf Raksasa Hollywood: Ekosistem Rahasia yang Kini Diawasi AI
Baca dalam 60 detik
- Kawasan Hollywood Sign di Griffith Park menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa, mulai dari ular, bobcat, hingga sekitar 200 spesies burung.
- Otoritas setempat menggandeng Torch Systems memasang sensor bertenaga surya dan kecerdasan buatan untuk mendeteksi kebakaran dini.
- Ancaman gempa, perubahan iklim, dan erosi membuat masa depan huruf ikonik itu bergantung pada kondisi tanah di bawahnya.

Di puncak Mount Lee, Los Angeles, dua elang ekor merah melayang di atas huruf-huruf raksasa Hollywood. Di bawahnya, rumah-rumah warga membentang hingga ke Pulau Catalina, 10 mil di seberang Samudra Pasifik. Namun di balik panorama itu, tersembunyi sebuah dunia yang jarang terungkap: kawasan seluas 4.310 acre (sekitar 6,5 mil persegi) di Griffith Park yang menjadi rumah bagi satwa liar perkotaan.
Hollywood Sign selama ini dikenal sebagai simbol ambisi perfilman dan gaya hidup kota. Namun, karena area di sekitarnya ditutup untuk publik, kawasan itu justru menjadi tempat perlindungan bagi hewan yang mencari ketenangan dari hiruk-pikuk kota. Burung bersarang di sela huruf, ular melingkar di dasar struktur, dan bobcat berkeliaran di sekitar huruf. Pada 2013, seekor singa gunung bernama P-22 menjadi ikon Los Angeles setelah foto National Geographic menangkapnya sedang berjalan di malam hari dengan latar belakang huruf Hollywood yang menyala.
Kini, tim ilmuwan tengah menyiapkan pemasangan kamera pada huruf-huruf tersebut. Pengelola Hollywood Sign bekerja sama dengan Torch Systems, perusahaan teknologi yang menggunakan sensor bertenaga surya, untuk mengembangkan layanan deteksi kebakaran berbasis kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi asap dari jarak bermil-mil. Kebakaran dianggap sebagai risiko terbesar di kawasan itu, terutama karena pengunjung berpotensi membawa puntung rokok yang menyala ke dalam taman.
Diana Wright, juru pelihara resmi Hollywood Sign Trust, menyatakan bahwa Los Angeles menempel langsung pada alam. "Kami berada di dalam taman alam yang sangat luas—jauh lebih besar dari Central Park—dan juga jauh lebih asli. Lalu ada tanda buatan manusia yang dirancang untuk bertahan dari longsor batu, tanah longsor, dan angin," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Sejarah mencatat, Hollywood Sign awalnya dibangun pada 1923 sebagai alat promosi perumahan "Hollywoodland" dari bahan timah dan tiang telepon. Setelah bagian "land" dihapus, struktur itu rusak dimakan waktu. Pada 1978, Hugh Hefner memimpin kampanye penggantian huruf dengan balok baja besar yang ditanam dalam fondasi beton. Sejak itu, sign tersebut menjadi jangkar identitas kota di tengah bagian lain Los Angeles yang sering didesain menyerupai New York atau Paris demi keperluan syuting.
"Sign ini menawarkan rasa tempat yang selama ini hilang dari banyak bagian kota," kata Wright, seraya menambahkan bahwa itulah alasan huruf tersebut kerap diledakkan dalam film atau difoto saat fenomena langka seperti badai salju satu dekade sekali terjadi.
Meski fondasinya kian kokoh, tantangan tidak surut. Mount Lee yang curam menghadapi risiko gempa, perubahan iklim, pola curah hujan yang berubah, dan peristiwa seperti El Niño. Para pengelola melakukan pembersihan semak secara berkala untuk menekan bahaya kebakaran, tetapi harus menyeimbangkan pengendalian erosi, kekhawatiran api, dan pandangan bebas ke arah huruf.
Wright dan tim juga tengah menyusun rencana bersama pemerintah kota untuk menanam lebih banyak flora asli California dan berpotensi menciptakan ledakan bunga asli (super bloom) di dekat sign. "Hollywood Sign adalah perayaan California. Ia harus indah dan menakjubkan dalam kemuliaan alaminya," tuturnya.
Pertanyaannya, apakah huruf-huruf itu masih berdiri 100 tahun lagi? Dan bagaimana nasib satwa di sekitarnya? Wright menegaskan semua bergantung pada tanah di bawahnya. "Hillside akan menentukan seperti apa sign ini di masa depan," ujarnya, seraya menyebut seluruh kota bisa berubah setelah guncangan lingkungan besar seperti gempa. "Saya pikir itu metafora nyata untuk Los Angeles secara umum."
Bagi Indonesia, kisah Hollywood Sign menawarkan pelajaran tentang pengelolaan ruang terbuka hijau perkotaan yang tidak sekadar estetika. Kawasan seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau Taman Hutan Raya Djuanda di Bandung menghadapi tekanan serupa: pembangunan, risiko bencana, dan kebutuhan konservasi. Pendekatan berbasis teknologi—seperti sensor kebakaran dan pemantauan satwa—bisa menjadi model untuk kota-kota besar di Tanah Air yang ingin menjaga warisan alam di tengah ekspansi urban.
Ke depan, integrasi AI dalam konservasi mungkin menjadi standar baru. Namun, tanpa perawatan tanah dan ekosistem di bawahnya, simbol seterkenal apa pun akan rapuh. Apakah kota-kota lain di dunia, termasuk di Indonesia, siap berinvestasi pada teknologi yang melindungi alam sekaligus identitas mereka?



