Upacara Penutupan FIFA ASEAN Cup 2026: Anggun C Sasmi dan Prince Poetiray Meriahkan SUGBK Sebelum Final Indonesia vs Thailand
Baca dalam 60 detik
- Upacara penutupan FIFA ASEAN Cup 2026 digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026), dengan penampilan Anggun C Sasmi dan Prince Poetiray.
- Penampilan Anggun C Sasmi dimeriahkan proyeksi video mapping di lapangan dan penari berkostum adat Dayak, menambah kesan budaya Indonesia.
- Kehadiran Presiden FIFA Gianni Infantino dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan pentingnya turnamen ini bagi sepak bola Asia Tenggara.

Upacara penutupan FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, pada Senin (5/10/2026) malam WIB, menjadi panggung perpaduan antara sepak bola dan seni pertunjukan. Acara ini berlangsung tepat sebelum partai final yang mempertemukan Timnas Indonesia dengan Thailand, dan sukses menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati stadion.
Sejak awal, SUGBK disulap menjadi arena pertunjukan cahaya yang memukau. Penyanyi cilik Prince Poetiray tampil sebagai pembuka dengan membawakan lagu 'Selalu Ada di Nadimu', yang belakangan viral sebagai soundtrack film animasi Jumbo. Penampilannya berhasil menghangatkan suasana sebelum puncak acara.
Tak lama berselang, Anggun C Sasmi naik ke panggung dan langsung disambut sorak-sorai penonton. Penyanyi bertaraf internasional itu membawakan lagu 'Mimpi', yang semakin memukau ketika lapangan hijau SUGBK diubah menjadi kanvas proyeksi video mapping dengan corak-corak artistik. Setelah itu, Anggun melanjutkan dengan lagu legendarisnya, 'Snow on the Sahara', yang pertama kali dirilis di Prancis pada 1997. Penampilannya semakin istimewa karena diiringi oleh sejumlah penari yang mengenakan kostum bernuansa adat Dayak, menegaskan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia.
Momen tersebut juga menjadi ajang bagi para pejabat sepak bola untuk menunjukkan dukungan langsung. Announcer memanggil Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turun ke arena dan menyapa penonton. Kehadiran Infantino menandai perhatian serius FIFA terhadap turnamen ini, yang merupakan edisi perdana dengan format baru dan diikuti oleh tim-tim terbaik Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah final ASEAN Cup 2026 bukan sekadar perhelatan olahraga. Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan sebagai penyelenggara event internasional sekaligus mempromosikan budaya melalui penampilan seni. Pemerintah dan PSSI berharap turnamen ini dapat meningkatkan peringkat Indonesia di mata FIFA serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan industri kreatif.
Di sisi lain, partai final sendiri menyimpan tensi tinggi. Timnas Indonesia melaju sebagai juara Grup A, sementara Thailand mendominasi Grup B. Pertemuan kedua tim di final menjadi ulangan rivalitas klasik Asia Tenggara yang selalu menyajikan duel sengit. Dukungan penuh dari suporter di SUGBK diharapkan menjadi energi tambahan bagi skuad Garuda untuk merebut gelar juara.
Ke depan, sukses penyelenggaraan upacara penutupan ini bisa menjadi tolok ukur bagi Indonesia dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah event sepak bola yang lebih besar. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk naik kelas di kancah sepak bola internasional?



