Nintendo Gandeng Panini Luncurkan Master Collection Zelda, Koleksi 40 Tahun Seni Link
Baca dalam 60 detik
- Nintendo resmi menggandeng Panini untuk merilis The Legend of Zelda: Master Collection, set kartu koleksi yang menampilkan karya seni dari seluruh game utama Zelda selama 40 tahun.
- Set ini diumumkan dalam Zelda 40th Anniversary Direct dan diprediksi berisi 12-24 pak per box dengan 6 kartu per pak, mengikuti pola produk Panini sebelumnya.
- Detail harga, tanggal rilis, dan jumlah kartu belum diumumkan, tetapi album kolektor edisi khusus sudah dipastikan akan tersedia.

Nintendo mengumumkan kerja sama dengan Panini untuk menghadirkan The Legend of Zelda: Master Collection, sebuah set kartu koleksi yang merangkum perjalanan visual waralaba Zelda selama empat dekade. Pengumuman ini disampaikan dalam siaran Zelda 40th Anniversary Direct pada September lalu, menandai langkah pertama Nintendo memasuki pasar kartu koleksi dengan skala besar.
Panini, perusahaan kartu asal Italia yang dikenal lewat kartu olahraga dan stiker Piala Dunia, dipercaya memproduksi set ini. Master Collection akan memuat karya seni dari setiap game utama dalam sejarah Zelda—dari debut 1986 hingga Tears of the Kingdom (2023). Beberapa kartu contoh telah diperlihatkan, menampilkan Link dari Tears of the Kingdom, Putri Zelda dari Skyward Sword (2011), dan adegan dari Ocarina of Time (1998).
Meski detail harga, tanggal rilis, jumlah kartu, dan saluran penjualan belum diumumkan, Nintendo telah merilis desain kotak Master Collection. Kotak tersebut menampilkan Link dari beberapa game dengan latar putih-emas dan ukiran peta Hyrule berwarna abu-abu muda. Langkah ini memperkuat posisi Zelda sebagai properti intelektual yang tidak hanya hidup di konsol, tetapi juga merambah barang koleksi fisik.
“Ini adalah kesempatan untuk mengoleksi karya seni dari 40 tahun sejarah Zelda,” demikian bunyi pengumuman resmi Nintendo, seperti dikutip dari siaran Direct.
Bagi pasar Indonesia, peluncuran ini berpotensi menggairahkan komunitas kolektor kartu dan penggemar Nintendo. Meski belum ada kepastian distribusi resmi di Tanah Air, para kolektor biasanya mengandalkan jalur impor atau pembelian daring. Antusiasme terhadap Zelda di Indonesia cukup tinggi, terlihat dari komunitas penggemar yang aktif dan penjualan merchandise impor yang stabil. Jika Panini dan Nintendo membuka distribusi resmi di Asia Tenggara, Indonesia bisa menjadi salah satu pasar potensial mengingat besarnya basis penggemar gim Nintendo.
Dari sisi industri, kolaborasi ini menegaskan tren waralaba gim yang memperluas pendapatan melalui merchandise dan barang koleksi. Panini sendiri memiliki rekam jejak dalam menggarap koleksi bertema pop culture, seperti seri kartu Adrenalyn XL dan album stiker. Dengan menggandeng Panini, Nintendo tidak hanya menyasar penggemar setia, tetapi juga kolektor kartu yang mungkin belum pernah memainkan gim Zelda. Strategi ini sejalan dengan perayaan 40 tahun yang juga mencakup remake Ocarina of Time dan konsol Nintendo Switch 2 edisi khusus Zelda.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Master Collection akan menjadi produk sekali jalan atau awal dari seri kartu Zelda berkelanjutan. Jika sukses, bukan tidak mungkin Nintendo memperluas kerja sama dengan Panini untuk waralaba lain seperti Mario atau Pokémon. Bagi kolektor, momen ini bisa menjadi peluang emas—atau justru ujian kesabaran menanti informasi harga dan ketersediaan resmi.



