Baterai Hilang, Hadjar Kehilangan Podium di Bahrain: Hamilton Menyalip, Red Bull Didesak Berbenah
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar finis kelima di GP Bahrain setelah masalah baterai membuatnya tak mampu menahan laju dua Ferrari di sisa balapan.
- Kegagalan daya di trek lurus mengubah posisi ketiga yang sempat diraihnya menjadi kehilangan podium dalam hitungan lap.
- Red Bull Racing dituntut membenahi performa kualifikasi dan manajemen energi sebelum seri berikutnya di Singapura.

Isack Hadjar harus merelakan podium yang sudah di depan mata pada Grand Prix Bahrain. Pembalap Red Bull Racing itu finis di posisi kelima setelah sistem baterai mobilnya bermasalah, membuatnya tak berdaya menahan serangan Lewis Hamilton dan Charles Leclerc dari Ferrari pada fase akhir balapan.
Hadjar sebenarnya tampil menjanjikan sejak sesi kualifikasi. Ia mengalahkan kedua mobil Mercedes dan memulai balapan dengan ban intermediate yang lebih tepat dibanding para rival yang memakai ban slick. Strategi itu membawanya melewati sejumlah pembalap yang kehilangan daya cengkeram, termasuk duo Ferrari. Namun, keunggulan tersebut sirna ketika mobilnya kehilangan tenaga di trek lurus.
"Saya tidak tahu mengapa baterai kami habis di dua lap terakhir. Di trek lurus saya tidak bisa mempertahankan posisi dari Ferrari. Kami kehilangan posisi karena hal yang seharusnya tidak terjadi," ujar Hadjar menggambarkan kekecewaannya.
Masalah energi itu bukan satu-satunya kendala. Pembalap berdarah Prancis-Aljazair tersebut juga mengeluhkan hilangnya daya cengkeram ban, terutama saat balapan kembali dimulai setelah safety car. Menurutnya, ia berada di kompon ban yang salah sehingga performa mobilnya tidak stabil sepanjang sisa balapan.
Kekecewaan Hadjar beralasan. Sepanjang akhir pekan, ia merasa mobilnya lebih cepat dari Mercedes. Namun, pada balapan sesungguhnya, performa itu justru menghilang. "Selama dua lap pertama setelah restart, saya tidak mengerti mengapa baterai kami begitu lemah. Setelah itu stabil dan saya bisa cepat lagi. Kalau tidak, saya mungkin tetap di posisi ketiga," tambahnya.
Insiden yang menimpa Alex Albon dari Williams, yang berhenti di Tikungan 2 karena masalah girboks, sempat menguntungkan Hadjar. Ia masuk pit di bawah virtual safety car dan kemudian dipromosikan ke posisi ketiga setelah George Russell mengalami masalah unit daya. Namun, keuntungan itu hanya bertahan sesaat. Hamilton langsung menempel dan menyalipnya di Tikungan 1, disusul Leclerc satu lap kemudian.
Bagi Red Bull Racing, hasil ini menjadi pukulan telak. Tim asal Milton Keynes itu harus segera mengevaluasi manajemen energi dan performa kualifikasi sebelum balapan berikutnya di Singapura. Hadjar sendiri menegaskan bahwa perbaikan harus dilakukan, bukan sekadar dijanjikan. "Kami perlu memperbaiki masalah ini sebelum Singapura dan tampil lebih baik," tegasnya.
Kegagalan di Bahrain juga menyoroti betapa tipisnya batas antara podium dan kehilangan poin di Formula 1 modern. Ketergantungan pada sistem hybrid dan manajemen baterai membuat pembalap seperti Hadjar rentan kehilangan posisi hanya karena satu komponen tidak bekerja optimal. Red Bull, yang tengah bersaing ketat di klasemen konstruktor, tidak bisa mengabaikan detail teknis semacam ini.
Jika masalah serupa terulang di Singapura, bukan tidak mungkin ambisi Red Bull untuk bersaing di papan atas kembali terganggu. Mampukah tim memperbaiki kelemahan ini sebelum balapan di Marina Bay? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



